Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Teknologi & Inovasi

Hikayat Bom Hidrogen

Persis 50 tahun lalu Amerika mulai mengembangkan bom hidrogen. Siapa munafik dalam soal senjata pemusnah massal?

10 November 2002 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

SUATU pagi di tengah Samudra Pasifik. Langit biru. Angin berembus pelan. Ombak tenang. Tiba-tiba keheningan pecah oleh suara menggemuruh diikuti mekarnya bola api menyerupai cendawan raksasa. Ledakan itu memancarkan sinar menyilaukan yang setara dengan cahaya seribu matahari. Gelombang panasnya menyapu apa saja sampai jarak sejauh 50 kilometer.

Hari itu, 1 November 1952, sebuah bom hidrogen pertama kali diuji coba. Para ilmuwan Amerika Serikat meledakkannya di sebuah pulau karang, Atol Eniwetok, di Kepulauan Marshalls, Samudra Pasifik. Kekuatan bom itu sungguh dahsyat, mencapai 10,4 megaton atau ribuan kali lipat lebih kuat ketimbang bom atom yang meratakan Hiroshima dan Nagasaki tujuh tahun sebelumnya.

Dua tahun kemudian, Amerika mencoba meledakkan bom hidrogen yang sama dengan menjatuhkannya di Atol Bikini. Bom yang diberi nama-sandi Bravo ini berkekuatan 14,8 megaton, mencemari lingkungan pulau itu dengan unsur-unsur radioaktif.

Di tengah panasnya berita tentang terorisme dan rencana AS menyerbu Irak dengan dalih Baghdad menyimpan senjata pemusnah massal, peristiwa setengah abad lalu itu mengingatkan kembali betapa kentalnya kemunafikan sang negeri superkuat. Amerikalah, lebih dari negeri mana pun di dunia ini, yang memelopori penciptaan mesin-mesin pembunuh paling berbahaya.

Amerika telah lama merintis riset dan perlombaan senjata peledak kelas berat: bom nuklir. Dimulai dengan Proyek Manhattan yang dirahasiakan pada 1939-1945 dan serangkaian uji coba bom nuklir di pulau-pulau terpencil, Amerika bahkan menjadi negeri pertama yang menggunakannya untuk melakukan pembunuhan massal: di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada 1945. Empat tahun kemudian, Uni Soviet barulah menyusul, diikuti Inggris dan Prancis. Semua percobaan itu hanya menegaskan satu hal: bom salah satu adikarya manusia yang sangat berbahaya.

Ledakan bom nuklir, yang memiliki daya hancur mahadahsyat, berasal dari reaksi kimia berantai pembelahan (fisi) dan penggabungan (fusi) inti-inti atom. Reaksi itu melepaskan energi sangat besar dan dalam waktu sangat singkat. Termasuk dalam jenis ini bom atom dan bom hidrogen.

Bom atom berasal dari pembelahan inti atom ketika sebuah neutron menabrak suatu inti atom yang berat. Tabrakan ini menyebabkan pembelahan berantai inti atom itu menjadi dua inti yang lebih kecil dan beberapa butir neutron, disertai pelepasan energi besar atau panas yang teramat tinggi. Neutron-neutron itu kemudian menabrak inti-inti lain yang akan membelah lebih lanjut, dan begitu seterusnya.

Bom atom, yang umumnya terbuat dari bahan uranium-235 atau plutonium-239, memerlukan waktu kurang dari 1/100.000 detik untuk melakukan pembelahan inti dalam jumlah besar sehingga terjadi pelepasan energi sangat besar.

Lain lagi bom hidrogen. Digagas oleh Edward Teller—ilmuwan keturunan Yahudi yang lahir 15 Januari 1908 di Budapest, Hungaria—bom hidrogen mendapatkan tenaga dari penggabungan (fusi) inti-inti atom hidrogen berat (deutron). Reaksi penggabungan ini memerlukan suhu yang sangat tinggi untuk memulainya. Untuk itu, pada bom hidrogen digunakan bom atom kecil untuk memicunya.

Bom hidrogen, yang daya ledaknya diukur dalam megaton (juta ton) TNT, jauh lebih dahsyat ketimbang ledakan bom atom: menghasilkan bola api dengan garis tengah beberapa kilometer, disertai keluarnya awan cendawan yang tinggi sekali.

Baik bom atom maupun bom hidrogen tak lepas dari riset energi nuklir yang dipelopori empat ilmuwan Jerman, yakni Otto Hahn, Lise Meitner, Fritz Strassman, dan Otto Frisch. Pada 1939, mereka menemukan inti atom berat (radioaktif) yang bisa dibelah dengan menembakkan sebuah neutron.

Neutron dipilih karena zarah ini tidak bermuatan sehingga tidak akan menimbulkan gaya tolak terhadap inti-inti atom bermuatan positif (proton). Reaksi pembelahan (fisi) sebuah inti akan menghasilkan rata-rata 2,5 neutron dan beberapa inti baru. Pada bom atom, reaksi pembelahan ini akan terus berantai tidak terkendali karena neutron baru tidak dicegah untuk menumbuk inti-inti yang telah dihasilkan.

Dalam setiap pembelahan inti akan terjadi pelepasan energi yang besar—sesuatu yang jika digunakan secara lain bisa sangat bermanfaat bagi umat manusia. Pembelahan satu kilogram uranium, misalnya, menghasilkan energi yang bisa dipakai untuk menghidupkan bola lampu 100 watt selama 30 ribu tahun tanpa henti!

Bom nuklir atau bom atom sebenarnya tak hanya bisa diciptakan melalui reaksi fisi. Hidrogen bisa dibuat dengan cara melakukan penggabungan (fusi) inti-inti atom ringan deuterium (H2) dan tritium (H3). Dua inti bernomor atom kecil ini bila digabungkan akan membentuk helium (He-4) sambil membebaskan energi yang besar.

Walaupun demikian, penyatuan dua inti itu tentu tidak mudah. Dibutuhkan energi yang sangat besar untuk melawan gaya tolak antara dua inti. Artinya, dibutuhkan suhu tinggi hingga ratusan juta derajat Kelvin untuk bisa memicu reaksi penggabungan. Itu sebabnya reaksi fusi harus didahului dengan fisi, sehingga reaksi ini disebut reaksi termonuklir atau reaksi bertingkat, fisi dan fusi.

Wicaksono


Jalan Panjang Menuju Nuklir

1895
Wilhelm Roentgen dari Jerman secara tak sengaja menemukan suatu jenis sinar misterius ketika sedang bereksperimen dengan sinar katoda. Ia lalu memberinya nama sinar-X.


1897
J. J. Thomson dari Inggris menemukan elektron. Ia meraih Nobel Fisika pada 1906.


1899
Ernest Rutherford menemukan dua sinar yang memancar dari gelombang radium: alfa dan beta.


1900
Frederick Soddy meneliti pecahnya elemen radioaktif menjadi beberapa varian yang disebut isotop.


1905
Albert Einstein mengeluarkan teori relativitas (E = mc2) yang legendaris itu.


1913
Niels Bohr menemukan teori struktur atom yang menggabungkan teori nuklir dan teori kuantum.


1925
Werner Heisenberg, Max Born, dan belakangan Erwin Schrödinger memformulasikan mekanika kuantum.


1929
Ernest O. Lawrence menciptakan cyclotron, perangkat yang mempercepat proses pembelahan inti atom.


1931
Harold Urey menemukan deuterium, suatu isotop hidrogen yang berisi satu proton dan satu neutron.


1932
James Chadwick menemukan neutron.


1934
Frédéric dan Irène Joliot-Curie menciptakan radioaktif buatan. Enrico Fermi menyinari uranium dengan neutron. Ia yakin dirinya berhasil melakukan pembelahan nuklir yang pertama kali di dunia.


1939
Hans Bethe menyatakan, proses peleburan inti hidrogen untuk membentuk deuterium akan memicu pelepasan energi yang sangat besar.


1941
Glenn Seaborg menemukan elemen baru (atom nomor 94) yang kemudian disebut sebagai plutonium. Suatu komisi Inggris mengetahui bahwa sebuah senjata mematikan dapat dibuat dari uranium-235 murni seberat 22 pound.


1942
Brigjen Leslie Groves ditunjuk untuk memimpin proyek nuklir rahasia AS: Manhattan Project. Ia merekrut J. Robert Oppenheimer sebagai direktur ilmiah. Enrico Fermi dari University of Chicago untuk pertama kalinya berhasil menciptakan reaksi pembelahan nuklir yang terjaga dan terkontrol—cikal-bakal reaktor nuklir.


1945
Januari:
Pemrosesan plutonium pertama dimulai di Hanford.
20 Januari: Uranium-235 pertama dipisahkan di Oak Ridge, Tennessee.
16 Juli: AS pertama kali mencoba bom atom (Trinity Test) di Alamogordo,New Mexico.
6 Agustus: Little Boy, bom uranium, dijatuhkan di Hiroshima, Jepang. Sebanyak 80 ribu-140 ribu orang terbunuh.
9 Agustus: Fat Man, bom plutonium, dijatuhkan di Nagasaki, Jepang. Sekitar 74 ribu orang tewas.


1946
Percobaan peledakan bom atom bawah laut pertama dilakukan di Atol Bikini oleh AS.


1947
Inggris secara resmi mengembangkan senjata nuklir dan untuk pertama kali membangun reaktor atom.


1948
AS mencoba bom atom di Atol Eniwetok.


1949
Uni Soviet menguji bom atom pertamanya, Joe 1, di Semipalatinsk, Kazakhstan. Bom ini merupakan sontekan bom Fat Man dan berkekuatan 21 kiloton.


1951
Tes bom nuklir pertama di Gurun Nevada.


1952
Inggris menguji bom atom pertamanya, Hurricane, di Kepulauan Monte Bello, Australia. AS juga untuk pertama kalinya menguji bom termonuklir alias bom hidrogen, Mike, di Atol Eniwetok.


1954
Bravo, bom hidrogen yang dijatuhkan, diuji di Atol Bikini. Kekuatannya 14,8 megaton. Lingkungan sekitarnya diketahui tercemar radioaktif.


1955
Untuk pertama kalinya Uni Soviet mengetes bom fusi, berkekuatan 1,6 megaton. Percobaan itu dipimpin oleh Andrei Sakharov.


1957
Inggris mencoba bom hidrogen berkekuatan 200-300 kiloton di Kepulauan Christmas.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus