Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Ibu dan dua anaknya di Desa Haria, Saparua, Maluku Tengah, meninggal setelah makan telur ikan buntal pada Selasa, 24 Maret 2024. Lantas, apa yang membuat ikan ini mematikan?
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ikan buntal memiliki kandungan tetrodotoxin, yakni racun kuat yang berada di hati, hidung, telur, dan usus hewan. Dilansir dari Food and Drug Administration (FDA), kandungan tetrodotoxin cepat diserap oleh saluran pencernaan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dikutip dari AZ Animals, tidak hanya pada ikan buntal, tetrodotoxin juga ada pada katak, guritam, dan amfibi. Racun ini begitu ampuh dan terkenal akan efek sampingnya, termasuk melumpuhkan.
Tetrodotoxin menghalangi adanya transmisi sinyal dari saraf ke otot. Peristiwa ini mengakibatkan lemah dan lumpuhnya otot-otot, termasuk ke saluran pernapasan.
Kelumpuhan otot pernapasan yang cepat pada akhirnya dapat mengakibatkan henti napas atau kematian. Lantaran itu ikan buntal sangat berbahaya untuk dikonsumsi karena dapat membuat kematian.
Ikan buntal mengandung racun sistem saraf pusat dalam jumlah besar yang dapat memicu gejala 20 menit setelah konsumsi. Gejala awal keracunan ikan buntal antara lain pusing, kelelahan, sakit kepala, kesulitan atau kesulitan berbicara, otot melemah atau lumpuh, muntah, dan diare. Racun juga dapat menyebabkan kelumpuhan pernapasan yang mengakibatkan kematian.
Setiap tahun sekitar 100 orang meninggal karena racun ikan buntal, dan sebagian besar dari mereka meninggal karena mengonsumsi ikan mematikan tersebut. Kematian tersebut telah tercatat selama bertahun-tahun, lebih sering terjadi di Jepang dan Tiongkok.
Pada Desember 2020, berita tentang keracunan ikan buntal muncul ketika tiga pria memakan ikan buntal yang diolah tanpa keahlian di Filipina. Orang-orang itu meninggal beberapa jam setelah muntah terus-menerus.
Pilihan Editor: Inilah 4 Ikan Paling Beracun di Dunia