Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Peneliti di Pusat Riset Teknologi Penerbangan Badan Riset dan Inovasi Nasional di Rumpin, Bogor, mengembangkan radar apertur sintetis atau SAR.
Sistem SAR untuk pesawat udara nirawak dan pesawat terbang ini memiliki jangkauan hingga 2 kilometer.
Radar apertur sintetis merupakan sensor pengindraan jauh yang dapat beroperasi di segala kondisi.
RUANGAN 3 x 3 meter di lantai dua Hanggar 2 Pusat Riset Teknologi Penerbangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Rumpin, Bogor, Jawa Barat, itu menjadi laboratorium sekaligus bengkel. Di ruangan itu, Farohaji Kurniawan dan koleganya mengembangkan radar apertur sintetis (SAR). Purwarupa perangkat pengindraan jauh atau indraja mutakhir itu telah rampung 85 persen. “Kami me-reverse engineering SAR hasil kerja sama dengan pihak luar negeri,” kata Farohaji, kepala tim pengembangan SAR, pada Rabu, 5 Juli lalu.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Indraja untuk Segala Kondisi"