BERUNTUNGLAH mereka yang pada 17 Januari lalu menyaksikan keindahan suara Luciano Pavarotti -- penyanyi opera paling ternama di dunia saat ini -- di Indoor Stadium Singapore. Pavarotti, yang bisnis pementasannya dikelola dengan ketat sekali oleh Henri Breslin, tidak mau main di sembarang negara Asia. Untuk menjaga reputasinya, wajarlah jika Pavarotti memiliki banyak tuntutan yang sulit dipenuhi oleh perangkat dunia musik klasik di Asia. Misalnya saja tuntutan untuk adanya sebuah orkes simfoni yang mampu mendekati standar mutu orkes simfoni di Barat. Kemudian adanya gedung (konser) besar yang bisa menampung ribuan penonton dan secara akustik bisa mendukung kualitas penyajian musiknya. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan organisasi yang secara profesional bisa mengelola produksi musik semacam itu dengan baik. Karena itulah sang organisator, Tibor Rudas dan Lushington Entertainment, konon baru berhasil meyakinkan sang superstar agar mau datang ke Singapura setelah bekerja keras selama empat setengah tahun. Keberhasilan Pavarotti malam itu merupakan hasil dari desain akustik yang luar biasa seharga US$ 750.000 dari Alexander Yuill-Thorntan II dan pelaksana operasionalnya yang dipegang oleh James Lock dari Decca Records. Melalui tangan merekalah penonton bisa menikmati sebuah pertunjukan hidup orkes simfoni di gedung olah raga semacam Istora, dengan efek stereofoni dan kualitas suara yang begitu elok. Suara Pavarotti mengalun dari lagu ke lagu beserta orkes simfoni yang mengiringi menciptakan suasana yang begitu alami bak musik surgawi. Salah satu unsur penting dalam desain suara Alexander adalah digantungnya pengeras suara di antara kepala Pavarotti dan penonton bagian muka. Barisan penonton ini dapat mendengar suara Pavarotti, biola, cello, dan kontrabas yang terproyeksi secara langsung di hadapan mereka secara alami. Sementara itu, proyeksi suara biola alto, tiup-tiup logam dan perkusi datang dari arah belakang panggung. Keelokan efek stereofonis ini menjadi sempurna ketika dari atas kepala penonton pada saat tertentu menyembul suara flute dan pikolo yang begitu merdu. Penggunaan echo dalam takaran yang pas plus kemampuan James Lock dalam menggarap balans dan warna suara instrumen membuat pengalaman auditif kita menjadi total. Di situlah sebenarnya letak kehebatan konser Pavarotti. Ia sendiri tak pelak lagi memang seorang penyanyi yang baik. Kemampuan tekniknya tinggi, musikalitasnya cemerlang, dan warna suara tenornya sangat unik. Tetapi pekerjaannya pada malam itu tidaklah terlalu berat. Lagu-lagu yang dinyanyikan diambil dari potongan lagu-lagu solo (aria) ringan opera karya Donizetti, Verdi, Puccini, Meyerbeer, Massenet, dan Leoncavallo, serta beberapa lagu Neapolitan. Kedalaman interpretasi dramatik pada lagu-lagu ini jelas tidak terlalu menjadi tantangan. Lagu-lagu ini bahkan sangat mudah dicerna oleh penonton yang awam sekalipun. Pavarotti praktis hanya bernyanyi sebanyak 15 lagu -- rata-rata hanya 2 menit -- sepanjang 2 jam acara. Selebihnya acara diisi oleh overture (musik pengantar opera) dari Donizetti dan Rossini serta ''konserto'' flute dari Doppler dan Bizet, yang dimainkan dengan sangat cemerlang oleh Andreas Griminelli, seorang flutist muda Italia yang sangat berbakat. Dari lagu-lagu yang dipilihnya inilah agaknya kita dapat menemukan kunci sukses Pavarotti sebagai seorang superstar dunia musik klasik abad ini. Opera sebenarnya adalah sebuah bentuk seni musik yang sudah hampir mati. Selain perangkat produksinya yang saat ini sedemikian sulit untuk disediakan, mendengarkan karya utuh opera yang umumnya ditulis pada masa Romantik abad ke-19 sungguh sangat membosankan. Tetapi, sebagai sebuah karya musik yang panjang -- karya opera Wagner ''Tannhauser'', misalnya, berlangsung delapan jam -- opera tentu saja cukup memiliki perbendaharaan aria yang elok. Dengan menyanyikan parade dari aria-aria yang elok inilah seorang penyanyi yang memiliki suara unik serta kemampuan teknik dan musikalitas yang tinggi seperti Pavarotti bisa diterima dengan baik oleh masyarakat pecinta musik klasik di dunia. Ditambah dengan teknik kemasan bisnis pertunjukan Amerika yang biasa menangani bintang musik pop, tak heran jika seorang penyanyi Italia yang bernama Pavarotti ini bisa melonjak menjadi seorang superstar yang tak kalah dengan tokoh musik pop seperti Mick Jager, Michael Jackson, atau Madonna. Sementara para penyanyi pop ini merupakan figur dari tokoh budaya pop generasi muda, Pavarotti adalah figur dari tokoh budaya klasik generasi yang lebih tua. Karena itu, konser Pavarotti juga menjadi ajang untuk menunjukkan kemapanan generasi ini dalam kehidupan ekonomi mereka. Penonton dari Indonesia yang datang khusus ke Singapura untuk menonton pertunjukan Pavarotti adalah mereka yang mewakili generasi ini. Yang patut dipuji dari peristiwa ini adalah niat penyelenggara yang disponsori oleh BVLGARI serta beberapa perusahaan lain untuk menyumbangkan sebagian dari hasil penjualan 8.000 tiket yang harganya Sin$ 25 hingga 1.200 untuk dewan kesenian nasional mereka. Hanya dengan kesadaran seperti inilah kita tak meragukan jika Singapura benar-benar berniat menjadikan dirinya sebagai pusat kehidupan budaya masyarakat Asia Tenggara. Pertunjukan Pavarotti yang berhasil menyedot penonton dari kawasan ASEAN ini adalah suatu langkah awal yang baik. Franki Raden
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini