Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Judul : Daun-daun Bambu
Penulis : Yasunari Kawabata
Penerbit: EA Books, Yogyakarta
Tebal: 154 halaman
Cetakan : I/Desember 2015
ISBN : 9786021318195
Yasunari Kawabata (1899-1972) menjadi sastrawan sekaligus peraih Hadiah Nobel asal Jepang yang begitu dekat dengan pembaca Indonesia. Karya-karyanya sudah lama diterjemahkan dan hadir di ruang baca kita. Novel puncaknya, Yukiguni (Snow Country), dialihbahasakan dalam banyak versi. Kini pembaca Indonesia disuguhi kembali kompilasi cerita pendeknya yang bertajuk Daun-daun Bambu.
Dalam buku ini terdapat tujuh cerita pendek dan sebuah pidato ketika Kawabata dianugerahi Hadiah Nobel Sastra. Cerpen dalam buku ini tidak melulu diartikan sebagai cerita berukuran pendek. Cerpen Burung-burung dan Satwa Liar, misalnya, cukup panjang sehingga cukup dikategorikan sebagai novelet. Namun, di lain tempat, dia juga menghadirkan cerpen super pendek (short-short stories), misalnya Daun-daun Bambu. Perbedaan panjang-pendek ini tak begitu mengganggu karena pembaca Indonesia sudah terbiasa dengan perubahan panjang-pendek sebuah cerpen. Kita sudah terbiasa dengan cerpen panjang ala Budi Darma, juga enak saja membaca cerpen mini anggitan Agus Noor.
Kawabata menyuguhkan prosa dengan tipe naturalis penuh renungan falsafah hidup. Dalam tulisannya, Kawabata tidak menyuguhkan teknik bercerita jungkir-balik, melainkan lebih menampilkan kesederhanaan dan keluguan. Bahkan, di beberapa cerpen, Kawabata seolah sedang berkisah tanpa arah. Namun, dari kesederhanaan itulah, hadir sebuah renungan akan hidup.
Dalam cerpen Burung-burung dan Satwa Liar dikisahkan bagaimana lelaki dalam cerita bersinggungan dengan aneka hewan peliharaan, dari aneka jenis burung hingga seekor anjing. Misalnya, bagaimana Kawabata mengambil metafora seekor burung kikuitadaki, yang digambarkan begitu setia kepada pasangannya. Burung ini hidup berpasangan di alam, jantan-betina. Suatu kali burung jantan lepas dari sangkar dan meninggalkan si betina. Lambat laun, betina ini gelisah dan tidak tenang dalam sangkar.
Saat sang lelaki hendak mencari pejantan lain, pedagang burung kikuitadaki justru mengharuskan membeli sepasang. Dan "cinta segitiga" di antara burung kikuitadaki ini berujung pada kematian. Kawabata meminjam analogi hewan untuk menyinggung soal kesetiaan dalam hubungan.
Ikatan di antara manusia diibaratkan sekuat demikian. Ikatan suami-istri, orang tua dan anak, saudara lelaki ataupun perempuan: ikatan itu tidak mudah terputus bahkan bagi orang yang paling membosankan (hal. 39).
Dalam memilih hewan peliharaan, si tokoh dalam cerpen memilih burung yang lekat dengan sikap hidup orang Jepang daripada burung yang memakan padi-padian namun bergaya Barat (hal. 55). Di sini Kawabata menyodorkan renungan ihwal benturan budaya Barat dan Jepang. Bahwa manusia sesekali berpolah angkuh demi merasakan kesunyian yang lebih dalam dan mandiri di tengah ingar-bingar kehidupan.
Renungan lebih dalam tampak dalam cerpen Sang Juru Makam. Kawabata membicarakan kematian. Tokoh aku yang mendapat julukan juru makam selalu hadir di setiap upacara kematian. Semakin jauh kekerabatan justru membuatnya semakin rajin datang. Dia hadir tak hanya menjadi pelayat, tapi juga khusyuk berdoa. Upacara pemakaman sering memberi inspirasi padaku untuk memperhitungkan hidup dan matinya orang-orang terdekatku (hal. 72).
Selain berisi renungan, cerpen-cerpen Kawabata menyuguhkan lanskap alam Jepang. Dalam banyak prosa, dia memang tidak mendeskripsikan suasana secara detail. Ruang tidak menjadi prioritas dalam struktur cerpen. Namun Kawabata lebih mengedepankan ketajaman konflik dan hidup tokoh cerita. Dia membawa satwa endemik khas Jepang yang unik ke hadapan publik. Sebagai contoh, burung higara, burung misosazai, burung hitaki, burung kikuitadaki, dan burung komadori.
Pilihan Kawabata ini merujuk pada bagaimana sikap Jepang dalam dunia internasional. Dia menekankan bahwa Jepang memiliki budaya luhur yang tidak kalah dengan budaya Barat. Bahkan, dalam pidato penganugerahan Hadiah Nobel-nya, Kawabata menyinggung cukup keras bagaimana persentuhan budaya Jepang dan Barat. Karya-karya saya sendiri bisa dikatakan sebagai kehampaan, tapi ini tidak berasal dari nihilisme Barat (hal. 24).
Sikap Kawabata ini menjadi cerminan sikap politik Jepang yang memberlakukan politik dumping untuk melindungi produk dalam negeri. Meski keterkaitannya perlu diteliti lebih rinci, sikap Kawabata dan sastrawan-sastrawan lainnya menjadi titik runcing untuk menandaskan budaya Jepang di tengah rimba dunia.
Cerpen Tahi Lalat dan Burung Higara mengingatkan pada lukisan Dance in The Country karya Auguste Renoir (1841-1919). Bahwa obyek yang berukuran besar, yakni pasangan berdansa, justru tidak menjadi main object lukisan. Tokoh utamanya adalah gadis pengintip di pojokan. Dalam kedua cerpen ini pun terkesan demikian, sentra tokoh justru ada pada tokoh sampiran.
Bahwa cerpen Burung Higara memang berkisah tentang Matsuo yang membeli beberapa burung tanpa sepengetahuan Haruko, istrinya, bersama wanita lain. Namun sebenarnya cerpen ini menyoroti kegundahan Haruko, sang istri. Kawabata mendedah sikap dan posisi perempuan dalam keluarga tradisional Jepang.
Bagi Haruko, lebih baik jika suaminya mengingat si wanita daripada seekor burung (hal. 119). Juga perihal bagaimana istri selalu berada di posisi nomor dua, posisi mengalah terhadap sikap suami. Suami tidak selamanya benar dan selalu sesuai dengan ucapan, meski ia pernah mengatakan tak bagus jika terlalu memupuk kemewahan, namun ia sendiri memperturutkan selera pribadinya (hal. 122).
Pembelaan serupa disampaikan dalam cerpen Tahi Lalat. Perempuan hanya dinilai dari kesempurnaan fisik belaka. Wanita harus tampil sempurna di hadapan suami. Padahal, di benak perempuan, banyak sekali keinginan yang enggan diutarakan.
Kesederhanaan tidak selalu biasa-biasa saja. Kesederhanaan bahasa dan cerita Kawabata justru menyeret pembaca untuk menilai dari banyak kemungkinan. Banyak kalimat dalam cerita yang mudah ditangkap dan dirasakan suasananya, tapi menyimpan beragam tafsiran.
Mungkin hal inilah yang membuat karya-karya Kawabata tetap enak dan menghadirkan pemaknaan baru hingga sekarang. Bila sebuah karya yang telah bertahun-tahun lampau ditulis, serta masih menumbuhkan keinginan untuk dibaca, dapat dikatakan karya tersebut bermutu dan klasik. Sebuah padanan untuk karya yang akan kekal dan melintasi zaman. TEGUH AFANDI PENGGIAT KLUB BACA YOGYAKARTA
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo