Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Penyanyi Monita Tahalea mempersembahkan pertunjukan bertajuk Tiga Menguak Takdir yang dikemasnya dalam Melodi. Pertunjukan ini terinspirasi dari buku kumpulan puisi karya para maestro sastra Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pertunjukan ini dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta akhir pekan lalu.
“Monita Tahalea kembali mengenalkan kepada para penikmat seni karya-karya para sastrawan ternama Indonesia yang dipadupadankan dengan alunan musik yang indah. Kami harap pertunjukan yang diadakan pada hari ini dapat memotivasi masyarakat terutama para penikmat seni yang hadir untuk semakin antusias dan tertarik untuk mengenal lebih jauh karya sastra Indonesia,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation berdasarkan keterangan media yang diterima Tempo.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Selama kurang lebih 60 menit, Monita mengajak para penikmat seni memaknai dan menghayati karya-karya puisi dari para maestro sastra. Mulai dari membacakan puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil diiringi dengan melodi akustik lagu Perahu.
Kemudian Monita membacakan puisi karya Rivai Apin berjudul Elegi, yang menginspirasinya dalam menciptakan lagu yang berjudul Bisu.
Selanjutnya Monita membacakan puisi Melalui Siang Menembus Malam dan menyanyikan lagu terbarunya yang berjudul Jauh Nan Teduh.
Selain itu beberapa puisi dan lagu dibacakan dan dinyanyikan secara bergiliran seperti Sajak Buat Adik yang dilanjutkan dengan lagu Sesaat Abadi, Surat dari Ibu dan lagu Hope, Tjerita Buat Dien Tamaela dan lagu Indonesia Pusaka. Tidak lupa, Monita juga menyanyikan lagu andalannya yang berjudul Memulai Kembali ke hadapan para penikmat seni.
Buku kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani ini pertama kali terbit di Balai Pustaka pada tahun 1950. Buku ini mengajak pembaca menyelami pemikiran perasaan ketiga sastrawan yang datang dari latar belakang berbeda, namun menyatu demi mencapai suatu cita-cita yang mereka sebut sebagai ‘suatu tujuan takdir’.
“Senang sekali rasanya saya berkesempatan untuk tampil berbagi cerita dengan pengunjung Galeri Indonesia Kaya tentang warisan sastra Indonesia. Sudah sejak lama saya membaca karya-karya puisi Chairil Anwar dan beberapa sastrawan lainnya, salah satunya adalah buku Tiga Menguak Takdir ini yang juga menjadi inspirasi saya dalam menciptakan karya. Sebagai generasi muda penerus bangsa, kita harus terus mengasah kemampuan dan menggali pengetahuan kita sehingga mampu menghasilkan karya yang tak lekang dimakan usia,” ujar Monita Tahalea.
Monita Tahalea memulai karirnya musiknya melalui ajang pencarian bakat pada tahun 2010. Di tahun yang sama, Monita merilis debut album pertamanya yang diproduseri Indra Lesmana, bertajuk Dream, Hope and Faith. Tiga tahun kemudian, ia merilis mini album bersama bandnya, The Nightingales yang bertajuk Song Of Praise. Kemudian pada 2015, Monita merilis Dandelion yang merupakan album solo keduanya dan dia rilis secara independen.