WARSAWA, di hari kerja. Kota ini terbangun ketika jam menunjukkan pukul setengah enam. Segera jalanan dipenuhi lelaki dan perempuan, mengenakan mantel dan topi Chapka, atau kerudung kepala menuju stasiun kereta api dan bis, untuk berdiri dalam antrean panjang. Sampai di tempat tujuan, dari transportasi umum yang sesak itu -- sebelum mereka duduk di belakang meja, sebelum berdiri di depan mesin pintal, sebelum mengenakan topeng las -- mereka mampir dulu ke Kawiarnia. Itulah kedai kopi pemerintah. Untuk menenggak sekadar sebotol air murni Wada Mineralna atau memesan segelas air teh hangat Herbata seharga 24 zloty (Rp 150,000). Hampir tak ada yang menyentuh makanan kecil atau kue. Acara rutin beramai-ramai itu disambung lagi waktu istirahat siang hari: mereka makan sop kacang campur daging, atau irisan salami yang dijejalkan dalam segenggam roti - makanan yang murah. Harap maklum, warga negeri komunis ini hanya sanggup makan besar di rumah, dari jatah daging yang hanya dua setengah kilogram per bulan. Itu memang sebuah gambaran muram. Seperti ibu-ibu yang menenteng tas di pagi hari, yang tampak di potret itu. Belum tentu mereka semua melangkah ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan ini dan itu. Banyak juga yang justru mencari pembeli untuk barang yang mereka bawa dari rumah. Polandia, negeri berpenduduk sekitar 37 juta jiwa, memang masih harus prihatin. Dan pekan lalu para buruh pun makin resah, itu karena semakin tak berimbangnya pendapatan dan harga-harga keperluan hidup. Senin pekan lalu harga bergerak naik antara 40% dan 200%. tentu kenaikan itu direstui pemerintah -- ini 'kan negara yang pemerintahnya menguasai hampir semua sektor kehidupan. Maka, di Gdanks, pusat persatuan buruh Solidaritas, di tengah penjagaan ketat polisi antihuru-hara yang mengepung kompleks pabrik, sebuah pertemuan mendadak Komisi Eksekutif Nasional Solidaritas menelurkan sebuah seruan. Yakni agar pemerintah membatalkan kenaikan harga. Dan si tokoh Lech Walesa pun berseru, Aku bahagia melihat rakyat Polandia tak langsung bereaksi, walau kenaikan harga memang mencekik leher. Kamilah yang menentukan waktu dan tempat untuk unjuk rasa." Tapi memang repot -- dan mungkin inilah kerepotan di negeri komunis yang hanya bisa terjadi di Polandia. Sebenarnya, pemerintah berani menaikkan harga karena ada dukungan dari sebagian rakyat. Di sini sebersit demokrasi memang masih ada: hasil referendum Desember 1987, 66% suara setuju dengan kebijaksanaan baru ekonomi alias kenaikan harga itu. Meski pemungutan suara itu hanya didukung oleh 44% pemilik suara. Jadi, tak heran bila di ujung-ujung jalan kita dapat melihat ibu-ibu menawarkan boneka kain dan baju rajutan, untuk mempertahankan dapur mereka. Sementara itu, sebagian warga ada yang sempat menengok-nengok kebutuhan sekunder: barang impor, seperti kaset Elvis Presley, Madonna sampai ke jaket kulit, dan stereo set. Siapa bilang di negeri komunis sama rata sama rasa? Rasanya, di negeri yang menyimpan kenangan pahit Perang Dunia II dengan Museum Auschwitz -- kamp konsentrasi Nazi -- kemuraman masih harus menjalar panjang. Meski di negeri yang resminya tak mengenal agama ini doa seperti tak putus dinaikkan dari gereja. Didi Prambadi (Jakarta) dan Sapta Adiguna (Paris)
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini