Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Seni

Berita Tempo Plus

Menghidupkan barang

Pameran art nouveau atau jugendstil/modern style di Jakarta. Merangkum segala barang menjadi seni, antara romantisisme dan mesin dan dipamerkan melalui fotografi, kebanyakan hitam putih dalam ukuran besar.

13 Februari 1988 | 00.00 WIB

Menghidupkan barang
material-symbols:fullscreenPerbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
KALAU Anda ingin melihat sebuah gaya seni menjangkiti segala macam barang, mulai dari bangunan hingga anting-anting, pergilah ke Pameran Art Nouveau atau Jugendstil alias Modern Style di Gedung Pameran Seni Rupa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 2-11 Februari. Di sana Anda melihat anting-anting, kalung bros, cincin. Ada pula sisir, kepala ikat pinggang, peralatan makan minum. Juga perabot rumah: meja, kursi, bufet lampu meja, kandil, vas. Pintu, jendela, tangga. sampai-sampai pegangan: pintu. Dan tentu saja ruangan -- ruang makan, ruang keluarga. Bahkan bangunan seluruhnya: rumah desa, rumah apartemen, vila, hotel, gedung pameran, stasiun kereta api. Dan masih ada macam-macam barang lainnya, termasuk poster, selebaran, sampul acara konser. Dalam pameran itu, semua, berkat gaya, tampak sebagai satu keluarga besar. Sudah tentu, paket pameran Goethe-Institut itu tidak menyajikan barangnya yang sungguh, kecuali sebuah meja dan beberapa kursi. Barang barang itu dipamerkan melalui fotografi, kebanyakan hitam putih, dalam ukuran besar. Tidak urung, anda mendapat kesan yang istimewa bahwa sebuah gaya seni yang melanda suatu masa melimpah ke berbagai sudut kehidupan, dan menyebar di seluruh Eropa dan Amerika. Dan gaya itu tampak sebagai pemberi hidup. Segala macam kelihatan menggeliat, meliuk, mengalun, bergulung, berdenyut. Gelas, vas, dan kandil, misalnya, tampil sebagai kuntum bunga yang anggun, dengan gagang berpilin lembut. Sendok, garpu, dan pisau, demikian pula meja tulis dan tangga, tampak seperti jenis flora aneh, setidaknya semacam organisme. Tidak jarang garis yang mengalun, meliuk, dan berdenyut itu memang tidak menggambarkan suatu apa, hanya ungkapan dinamisme "abstrak", barangkali semacam perupaan konsep elan vital Henri Bergson. Revolusi Industri telah mencabik-cabik Eropa. Pekerja tidak lagi punya kendali terhadap proses kerjanya, karena mesin lebih utama. Mereka miskin, telantar, sengsara. Banyak orang berpikir tentang kemajuan, revolusi, masyarakat, dan peradaban baru. Tetapi banyak pula seniman berpaling dari keadaan yang penuh dengan barang-barang buruk dan penderitaan -- dari kehidupan yang porak poranda. Henry van de Velde, dalam kutipan yang dipasang dalam pameran, mengatakan, "Akan tiba masanya kita menolak hidup dalam sebuah kamar, kecuali jika barang-barang di dalamnya semua mengungkapkan sebuah dorongan bersama untuk menampilkan sebuah efek spiritual yang tunggal." Zaman Jugendstil alias Art Nouveau alias Modern Style, di seputar peralihan abad-puluh tahun terakhir abad ke-19 dan puluh tahun pertama abad ke-20 -- telah mengenal pameran internasional dan kolonial. Para seniman yang merasa pengap dengan tradisi dan keadaan negeri sendiri bisa melongoki dan mengagumi karya-karya seni dari negeri-negeri jauh. Cina dengan seni kacanya, Jepang dengan seni grafisnya yang mengutamakan garis dan ragam flora. Persia dan Mesir yang penuh garis mengalun dan kaya akan rinci hiasan. Lalu mereka menyerapnya dengan lahap. Tidak lalu berarti Barat menjadi Timur. Art Nouveau tak terlepas dari tradisi, khususnya tradisi seni barok yang dekoratif dan melimpah-ruah dengan ragam hias itu. Ia juga tak terhindar dari berbagai arus yang mendahuluinya atau menyertainya, seperti romantisisme dan simbolisme. Tidak heran, seniman Art Nouveau gemar menggambarkan wanita, khususnya yang bertampang ayu. Gaya ini menyukai bidadari dan pergi, seperti juga angsa, merak, bunga lili, dan mawar -- semua sudah sarat akan makna simbolik dalam seni Eropa. Barangkali gaya flora -- lambang alam dan hidup -- dan berbagai pokok simbolik itu semacam pelarian dari zaman mesin dan industri. Meskipun begitu, para seniman Art Nouveau tak sepakat dengan Gerakan Art and Craft Inggris yang mempersetankan mesin. Mereka menyambut mesin dan industrialisasi seperti ditunjukkan oleh kegiatan dan karya mereka. Tidak pula berarti mereka menempeli hasil mesin dengan ukiran, ihwal yang memuakkan para penggerak Art and Craft. Pameran ini memperlihatkan keterpaduan hiasan dan struktur. Struktur sendiri menjadi dekoratif, dan dengan cara ini segala barang menjadi semacam ornamen. Tentu di mata modern, struktur mereka tidak lugas. Dalam pameran ini -- berkat fotografi -- Anda dapat mengamati tokoh Art Nouveau Jerman seperti Hermann Obrist, Richard Riemerschmid, dan Joseph Maria Olbrich. Dari Belgia: Henry van de Velde dan Victor Horta. Dari Inggris, seperti Aubrey Vincent Beardsley, dan dari Amerika Serikat seperti Louis Comfort Tiffany. Dan dari Belanda: seniman grafis dan lukis Jan Toorop, kelahiran Purworejo, 1858, yang menampilkan sosok manusia yang kewayang-wayangan. Tentu Anda menemukan karya arsitek Spanyol Antoni Gaudi yang hebat, aneh, dan berdenyut-denyut itu. La Sagrada Familia, "Kuil Orang Miskin", dengan menara-menara bagai rimba tumbuhan aneh. Casa Battlo, bangunan dengan sisik, belulang menggelombang dan menggulung, dan bentuk-bentuk tak beraturan, serta Parc Guell dengan stalaktit. Tetapi Anda juga menyaksikan karya Otto Wagner (Austria), Hendrik Petrus Berlage (Belanda). Peter Behrens (Jerman), Josel Hoffman (Austria), Louis Sullivan dan Frank Lloyd Wright (Amerika Serikat). Di tengah taman botanis, mereka segera tampak sederhana bersih, geometrik. Memang, dalam masa Art Nouveau telah terdapat semacam reaksi. Dan tahun 20-an dan 30-an berkembang arus ke arah struktur yang lugas dan hias-menghias geometrik, terkendali. Orang menamakannya Art Deco. Art Nouveau dan Art Dec menyebar dari Barat ke negeri negeri jajahan. Jika Anda jalan-jalan, misalnya ke Bandung, Yogyakarta, Kotagede, Surakarta, Semarang, Malang, Lawang, Surabaya dan Pasuruan, mungkin Anda akan menemukannya pada sejumlah bangunan -- meski ragamnya sederhana. Sanento Yuliman

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus