Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Film Jagal Teluh membuka kisahnya dengan adegan menegangkan yaitu mayat hilang dari kuburan—memicu rangkaian peristiwa mistis yang membawa penonton menyelami dunia klenik. Cerita berpusat pada Saida (Selvi Kitty), perempuan yang sejak kecil dihantui stigma dan dikucilkan akibat luka di wajahnya. Tekanan sosial yang dialaminya mendorong Saida menapaki jalan ilmu hitam demi mencapai kecantikan yang diidamkan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, ia terlibat dalam ritual bersama Ki Ageng (Kelono Gambuh), yang syaratnya harus menemukan mayat perempuan berambut panjang yang meninggal sebelum melahirkan. Tak sendirian, ia ditemani oleh adiknya, Mahira (Elina Joerg), yang turut membantu meski menyimpan dendam terpendam. Di sela-sela konflik ritual dan balas dendam, terselip pula kisah cinta terlarang antara Mahira dan Aldo (Ferdi Ali), meski hubungan itu berujung pada dilema moral karena Aldo telah berkeluarga.
Review Film: Tema Sosial dan Diskriminasi Perempuan
Jagal Teluh tidak hanya menyuguhkan horor, melainkan juga menyisipkan kritik sosial yang tajam. Film ini menggambarkan bagaimana masyarakat menilai perempuan berdasarkan penampilan fisik, dengan Saida sebagai simbol yang dinilai tidak cukup baik. Keputusan Saida untuk menjalani ritual mistis demi kecantikan menyoroti betapa kerasnya standar kecantikan yang diterapkan di masyarakat.
Standar tersebut kerap mendorong seseorang untuk melakukan tindakan ekstrem demi mendapat pengakuan. Dalam konteks ini, Jagal Teluh berhasil membuka ruang diskusi tentang diskriminasi dan tekanan sosial yang ada, mengajak penonton merenungkan realitas kejam di balik penilaian penampilan.
Sinematografi, Efek Visual, dan Representasi Klenik
Sebagai film yang bertumpu pada unsur mistis, Jagal Teluh menghadirkan elemen klenik yang lekat dengan tradisi horor Indonesia: kuburan, ritual, dan ilmu hitam. Visualnya didominasi atmosfer kelam dengan pencahayaan redup, menciptakan kesan suram khas film horor lokal. Beberapa adegan, seperti ritual yang melibatkan Ki Ageng (Kelono Gambuh) atau penggalian mayat, mencoba membangun ketegangan melalui simbol-simbol tradisional seperti sesajen, dupa, dan mantra yang diucapkan dalam bahasa Jawa. Elemen ini cukup diperhatikan dengan baik dalam film.
Namun, CGI dalam Jagal Teluh menjadi kelemahan yang cukup mencolok. Beberapa efek visual, terutama yang berkaitan dengan ritual mistis dan kondisi fisik Saida, terasa kurang detail dan menyatu dalam adegan. Salah satu elemen yang bisa dieksplorasi lebih baik adalah penggunaan efek prostetik. Misalnya, luka di wajah Saida yang menjadi akar permasalahan karakternya tampak terlalu bersih dan rapi, kurang meyakinkan sebagai bekas luka lama yang membawa trauma sosial. Dengan pendekatan prostetik yang lebih detail—misalnya tekstur kulit yang tidak rata, warna yang lebih realistis, penampilan Saida bisa lebih mendukung cerita.
Secara keseluruhan, Jagal Teluh sudah memiliki elemen klenik yang cukup kaya, mulai dari mitos perempuan berambut panjang yang menjadi bahan ritual hingga simbol-simbol mistis dalam budaya lokal. Jika lebih banyak mengandalkan efek praktikal dibanding CGI yang belum sempurna, film ini bisa menghadirkan horor yang lebih efektif dan imersif.
Kualitas Akting Para Pemeran
Elina Joerg tampil memukau sebagai Mahira, membawa nuansa misterius dengan dialog berbahasa Jawa yang terkesan natural. Penampilannya berhasil mengeksekusi karakter Mahira yang suram. Selvi Kitty sebagai Saida juga memberikan interpretasi yang tajam, menampilkan karakter perempuan dengan kegetiran, dendam, dan ambisi tentang kecantikan.
Menariknya, humor khas Indonesia juga hadir lewat penampilan Udin Penyok (sebagai Udin) dan Mastur (sebagai Masturin), penjaga kuburan yang terlibat dalam momen mistis ketika mayat ditemukan dengan rambut dicukur untuk keperluan ritual. Kehadiran unsur humor ini berhasil meringankan ketegangan, namun tidak mengurangi keseriusan inti cerita.
Disutradarai oleh George Hutabarat, Jagal Teluh menawarkan perpaduan antara elemen klenik, balas dendam, dan kritik sosial. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 27 Februari 2025 dan menjadi film perdana produksi Suhita Zenza Sinema dan Seroja Film Intermedia Majas Pictures. Berdurasi 90 menit, Jagal Teluh mengajak penonton tidak hanya merasakan ketegangan, tapi juga merenungkan bagaimana standar kecantikan dan penilaian semu dapat mengubah nasib seseorang.