Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Cerita Ibu-ibu dan Pemilik Warteg Cemaskan Harga Tahu dan Tempe Bisa Meroket

Banyak ibu rumah tangga serta pemilik Warteg khawatir dengan naiknya harga tahu dan tempe yang diprediksi mulai Senin besok, 4 Desember 2020.

3 Januari 2021 | 14.59 WIB

Pelanggan saat menyantap makanannya di Warteg Ellya yang menerapkan protokol kesehatan di Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin, 20 Juli 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis
Perbesar
Pelanggan saat menyantap makanannya di Warteg Ellya yang menerapkan protokol kesehatan di Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin, 20 Juli 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta -Banyak ibu rumah tangga serta pengusaha warung makan atau Warteg khawatir dengan naiknya harga tahu dan tempe yang diprediksi mulai Senin besok, 4 Desember 2020.

Reno, salah seorang ibu rumah tangga, mengatakan tahu dan tempe menjadi salah santu pangan yang menjadi favorit keluarganya.

Meski begitu, ia mengatakan akan tetap membeli tahu dan tempe meski harganya naik. “Gimana, ya, orang rumah pada suka. Dan hampir selalu ada tahu dan tempe setiap makan,” ujar wanita berusia 55 tahun itu.

Pagi tadi, saat dirinya belanja bahan pangan di Pasar Tebet Timur, Jakarta Selatan, tahu dan tempe sudah sulit ditemui. Hanya beberapa pedagang saja yang menjual kedua bahan pangan itu.  “Tadi kata yang jual, tahu dan tempe tinggal sedikit,” tutur dia.

Sartini, pemilik warung Tegal atau Warteg di kawasan Tebet, menyebut akan mengurangi belanja tahu dan tempe mulai pekan depan. Padahal, tahu dan tempe merupakan lauk yang selalu laris dibeli pelanggannya. “Mau tidak mau ya kurangin belinya. Kalau terlalu mahal, mungkin gak beli. Takut malah rugi,” ucap dia.

Baca juga : Produsen Tahu dan Tempe Mulai Bekerja Hari Ini untuk Kebutuhan Pasar Besok 

Kelangkaan harga tahu dan tempe merupakan imbas dari naiknya harga kedelai impor asal Amerika Serikat hingga 35 persen. Pengusaha tahu dan tempe di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pun mogok produksi sejak Kamis, 31 Desember 2020 hingga hari ini, Ahad, 3 Desember 2021.

Para perajin tahu dan tempe itu mogok produksi dengan harapan pemerintah mendengar keluhan sehingga mengeluarkan kebijakan agar harga kedelai bisa kembali normal. Ketua Bidang Hukum Sedulur Pengrajin Tahu Indonesia (SPTI) Fajri Safii menyebut saat ini lonjakan harga kedelai mencapai kisaran Rp9.000 sampai Rp10.000 per kilogram.

Pada bulan lalu, harga kedelai hanya Rp7.000 sampai Rp7.500 per kilogram. “Kenaikan harga kedelai sebesar itu menyebabkan para perajin tahu mogok produksi karena tidak sanggup lagi membeli kedelai," kata Fajri.

Di Pasar Warung Buncit, Jakarta Selatan, tiga pedagang yang ditemui Tempo menyebut tahu dan tempe sudah hilang sejak 1 Jumat, 1 Januari 2021. “Katanya tukang tahu dan tempe pada demo," kata Hendra, seorang pedagang di Pasar Warung Buncit, Sabtu, 2 Januari 2021.

Pedagang lain di Pasar Warung Buncit, Surya mengatakan tempe biasa dijual dengan harga Rp 5 ribu per papan. Sementara tahu dijual bervariasi sesuai ukuran, antara Rp 5 - 10 ribu. Jika produsen menaikkan harga ke pedagang, Surya mengaku bakal membuat keputusan serupa ke pelanggan.

"Cuma berapanya nanti belum tahu," kata pria 31 tahun itu.

ADAM PRIREZA | M YUSUF MANURUNG

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus