Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Pedangdut Annisa Bahar terlibat pertengkaran dengan putrinya, Juwita Bahar. Perselisihan keduanya bermula dari ulang tahun Annisa pada November 2017. Dalam sebuah video yang di unggah oleh akun instagram gosip, Anissa mengatan akan menghapus nama Juwita Bahar dari kartu keluarganya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Saya juga akan mencopot nama dia dalam kartu keluarga saya,” kata Annisa dalam video yang diunggah akun instagram gosip tersebut.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sebenarnya, apa faktor yang menyebabkan putusnya hubungan ibu dan anak? Psikolog keluarga Kasandra Putranto memberi penjelasan terkait dengan permasalahan yang terjadi antara ibu dan anak.
Menurut Kasandra, tidak banyak ibu yang tercatat atau dicatat memutuskan tali silahturahmi dengan anaknya, meskipun kemungkinan kasus tersebut banyak terjadi di lapangan. Cukup banyak fakta bahwa fenomena anak perempuan yang baru beranjak dewasa mempunyai semakin banyak konflik dengan ibunya.
“Diduga berkaitan dengan profil psikologis yang khas,” kata Kasandra saat dihubungi Tempo pada Senin, 19 Februari 2018.
Artikel lain:
Juwita Bahar Disebut Kumpul Kebo, Apa Dampaknya Menurut Psikolog?
Juwita Bahar Tinggal Bareng Pacar, Ini Saran Psikolog untuk Ibu
Kasus Juwita Bahar, Kiat Ibu Jaga Hubungan dengan Pacar Anak
Profil psikologis khas mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial. Ketiga hal tersebut yang menentukan bagaimana seseorang memahami sesuatu, situasi, dan berbagai hal lain.
Kasandra mengatakan dengan keterbatasan dan perbedaan antara profil ibu dan anak perempuan sering membuat konflik yang berkepanjangan.
“Sering kali dengan terpicu masalah yang sepele bisa jadi konflik yang berkepanjangan,” ujarnya.
Kemudian, sebuah penelitian neuropsikologi membuktikan adanya kemiripan profil neuropsikologi antara ibu dan anak perempuan. Selanjutnya tergantung apakah anak melakukan identifikasi sama atau berbeda dari ibunya dalam proses perkembangan pribadi.
Hal tersebut dapat dihindari atau diselesaikan dengan cara bagaimana seseorang dapat mengatur antara dorongan diri yang kemudian menyeimbangkannya dengan nilai-nilai yang berlaku. Nilai-nilai yang berlaku tersebut adalah agama, hukum, dan sosial.
Kasandra juga memberikan tip untuk menanamkan pengalaman positif penuh cinta kasih dan sayang serta belajar mengelola konflik sejak anak masih kecil.