Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
UPAYA pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat melemahkan Mahkamah Konstitusi melalui revisi UU MK menyatukan para mantan hakim di lembaga itu. I Dewa Gede Palguna, hakim konstitusi periode 2003-2008 dan 2015-2020, kerap berbalas pesan dengan koleganya yang pernah berkantor di gedung MK. “Kesimpulan kami, revisi Undang-Undang MK harus dilawan,” kata Ketua Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi itu kepada Tempo di kantornya, Jumat, 17 Mei 2024.
Salah satu yang diajak bertukar pikiran adalah Ketua Mahkamah Konstitusi pertama, Jimly Asshiddiqie. Mereka berdiskusi soal pasal-pasal dalam draf final revisi yang melemahkan MK. Palguna dan Jimly sama-sama berang terhadap pelemahan tersebut. Mereka bersepakat menolak revisi Undang-Undang MK dengan menggaungkan pesan perlawanan dalam berbagai kesempatan.
Adapun Jimly tak keberatan jika Undang-Undang MK direvisi. Namun perubahan harus menguatkan lembaga yang berdiri pada 2003 itu. Misalnya sistem rekrutmen hakim oleh tiga lembaga, yaitu presiden, DPR, dan Mahkamah Agung, diperkuat. “Kalau revisi berdampak negatif, ya, harus ditolak,” ujarnya.
Jimly pernah memberikan masukan kepada Panitia Kerja Revisi Undang-Undang MK di DPR. Salah satunya agar masa jabatan hakim konstitusi tak disamakan dengan periode kepemimpinan presiden, yaitu lima tahun, melainkan langsung sepuluh tahun. Dengan begitu, nasib hakim MK tak ditentukan oleh lembaga pengusul. “Masukan saya hanya didengar sebagian,” katanya.
Revisi Undang-Undang MK memberi kewenangan lebih besar kepada lembaga pengusul. Hakim yang berniat melanjutkan jabatannya setelah periode lima tahun pertama rampung harus mendapatkan persetujuan lembaga pengusul. Dampaknya, hakim konstitusi bakal membebek pada lembaga pengusul, seperti menolak permohonan uji materi undang-undang bikinan DPR dan pemerintah yang bermasalah.
Jimly, yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah, telah mengirim pesan kepada seorang pejabat di lingkaran Presiden Joko Widodo pada Kamis, 16 Mei 2024. Isinya meminta waktu untuk bertemu dengan Presiden. Ia berniat mendorong Jokowi agar menolak revisi tersebut. Namun Istana belum memberi kepastian kapan Jimly bisa bertemu dengan Jokowi.
Sedangkan Palguna mencari informasi soal pembahasan revisi Undang-Undang MK saat DPR memasuki masa reses. Dari mantan anggota Komisi Hukum DPR, Palguna mendapat informasi bahwa mekanisme itu terbilang janggal. Adapun sejumlah anggota Komisi Hukum DPR mengungkapkan kekecewaan karena mereka tak tahu ada pembahasan revisi Undang-Undang MK.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva, juga belakangan kian intens berdiskusi dengan eks hakim konstitusi dan pakar hukum tata negara. Mereka membedah berbagai pasal yang menggerus independensi hakim konstitusi. Salah satunya dengan para akademikus dan praktisi yang tergabung dalam Constitutional and Administrative Law Society (CALS).
Pada Kamis, 16 Mei 2024, Hamdan dan Palguna menjadi pembicara dalam diskusi publik yang diadakan oleh CALS, Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, serta Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia. Bersama eks hakim konstitusi Wahiduddin Adams dan dua guru besar lain, mereka mengkritik pemerintah dan DPR. “Revisi merusak tatanan negara hukum,” ujar Hamdan.
Perlawanan juga datang dari kelompok masyarakat sipil. Selain menggelar berbagai diskusi, para pegiat demokrasi berencana mengajukan permohonan uji materi apabila revisi Undang-Undang MK disetujui menjadi undang-undang. “Kami akan menempuh jalur hukum dengan judicial review,” kata pakar hukum tata negara Universitas Andalas, Padang, Charles Simabura, pada Kamis, 16 Mei 2024.
Sehari seusai diskusi publik digelar, 26 akademikus anggota CALS mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Jokowi dan Ketua DPR Puan Maharani. Surat empat halaman itu menjabarkan lima masalah prosedural dan empat problem materiil dalam revisi Undang-Undang MK. Misalnya pembahasan yang dilakukan secara tertutup dan tergesa-gesa.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Francisca Christy Rosana, Hussein Abri Dongoran, dan Amelia Rahima Sari berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Bersatu Mantan tanpa Cantelan"