Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Borobudur Terdampak Abu Merapi, Pengusaha Wisata Siapkan Strategi

ASITA Daerah Istimewa Yogyakarta menyiapkan sejumlah alternatif wisata menyusul dampak abu erupsi Gunung Merapi.

27 Mei 2018 | 19.55 WIB

Wisatawan mengabadikan Gunung Merapi dari kawasan wisata Bungker Kaliadem, Sleman, DI Yogyakarta, 22 Mei 2018. Pasca naiknya status Gunung Merapi dari normal menjadi waspada, wisata di kawasan Kaliadem yang menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Sleman itu sepi pengunjung. ANTARA
Perbesar
Wisatawan mengabadikan Gunung Merapi dari kawasan wisata Bungker Kaliadem, Sleman, DI Yogyakarta, 22 Mei 2018. Pasca naiknya status Gunung Merapi dari normal menjadi waspada, wisata di kawasan Kaliadem yang menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Sleman itu sepi pengunjung. ANTARA

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Yogyakarta - Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyiapkan sejumlah alternatif menyusul dampak abu erupsi Gunung Merapi pada 21-24 Mei 2018, yang juga sempat menjangkau wilayah destinasi wisata favorit turis, yakni Candi Borobudur.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

“Bagaimanapun Borobudur masih menjadi highlight destinasi wisata utama bagi wisatawan manca,” ujar Ketua ASITA DIY Udhi Sudiyanto kepada wartawan, Sabtu, 26 Mei 2018.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Udhi menuturkan, dalam mengantisipasi jika kondisi Merapi belum juga normal dan Borobudur tak memungkinkan dikunjungi, ASITA DIY pun menyiapkan sejumlah destinasi alternatif yang bisa menjadi pilihan bagi wisatawan agar tak kecele.

Alternatif itu antara lain Candi Prambanan, Plaosan, Ceto, dan Sukuh. “Kami berikan informasi terus pada wisatawan manca beserta dokumen serta foto yang up to date kondisi di Yogya dan fasilitas yang ada,” ujar Udhi.

Pemberian informasi terkait dengan erupsi Merapi itu penting agar wisatawan tak sampai berpikiran bahwa seluruh wilayah Yogyakarta terdampak abu karena erupsi. Padahal abu mungkin hanya sekitar 3-5 kilometer dari puncak.  

“Kemarin memang Borobudur sempat kena abu. Namun kan kunjungan tetap bisa dilakukan meskipun tidak sampai di lantai atas. Jadi informasi seperti itu penting bagi wisatawan,” ucap Udhi.

Sejauh ini, para wisatawan mancanegara pun memahami bahwa erupsi Merapi adalah faktor alam. ASITA pun menuturkan, demi kenyamanan dan kepuasan wisatawan, pihaknya juga memodifikasi paket-paket wisata agar tetap menarik.

Misalnya, karena kunjungan ke Borobudur, yang terkena abu, tak bisa maksimal, hanya satu jam dari sebelumnya selama lebih-kurang lebih dua jam, pihaknya akan mengganti sisa waktu itu dengan pilihan alternatif, seperti menyambangi candi lain.

“Sejauh ini, wisatawan yang kami tangani tak masalah. Mereka tak komplain meskipun kemarin sempat tak bisa kunjungi Borobudur secara maksimal karena belum bisa naik ke atas,” tuturnya.

Udhi menambahkan, sebagian pengunjung wisata justru ada yang merasa beruntung karena di sela kunjungan Borobudur bisa menyaksikan siklus fenomena erupsi Merapi itu.

Ali Akhmad Noor Hidayat

Ali Akhmad Noor Hidayat

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus