Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Tren pelemahan nilai tukar rupiah dalam sepekan terakhir membuat pengusaha galangan kapal resah. Komponen kapal yang dominan diimpor membuat pengusaha memperkirakan sejumlah proyek kapal bakal merugi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sekretaris Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Askan Naim mengatakan komponen kapal yang bisa dipasok dari dalam negeri untuk sebuah proyek kapal saat ini berkisar 35-40 persen.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dengan kata lain, 60-65 persen komponen kapal harus didatangkan dari luar negeri dan dibayar dalam mata uang asing. Berdasarkan Bloomberg, kurs rupiah pada perdagangan hari ini sudah menembus Rp 14.390 per dolar Amerika Serikat.
"Ini sangat berpengaruh. Dengan fluktuasi kurs seperti ini, risiko untuk menggerus laba sangat tinggi, sehingga proyek-proyek (perkapalan) bisa merugi," kata Askan kepada Bisnis.com, Senin, 2 Juli 2018.
Askan menambahkan, sejumlah perusahaan galangan akan meninjau ulang kontrak pembangunan dengan pihak pemilik kapal. Bila kenaikan beban impor akibat depresiasi rupiah terbilang signifikan, galangan akan berupaya melakukan negosiasi dengan pemilik kapal untuk penyesuaian biaya pembangunan kapal.
Sebagaimana diketahui, Kementerian Perindustrian mencatat, pada 2017, terdapat 250 perusahaan galangan dengan kapasitas produksi kapal baru sebesar 1 juta deadweight tonnage (DWT). Galangan nasional juga memiliki kapasitas 12 juta DWT untuk reparasi kapal laut.
BISNIS.COM