Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ekonomi

Memadu Alam Dan Liburan

Club med memiliki 120 perkampungan wisata di 32 negara, termasuk di nusa dua, bali, yang paling banyak mengundang tamu. menyediakan sarana lengkap dan padat acara hiburan. akan membuka cabang baru.

16 Juni 1990 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

LAUT biru, pasir putih, angin semilir, dan pelbagai fasilitas lengkap tersedia. Itulah kombinasi faktor yang melahirkan dan membesarkan Club Med. Berbekal gagasan unik dari seorang pemuda Prancis bernama Gerard Blitz, maka dalam 40 tahun, Club Med -- singkatan dari Club Mediterranee -- berhasil membangun 120 perkampungan di 32 negara, tujuh di antaranya berada di Asia. Akhir Mei berselang, sebuah pesta besar diadakan di Cherating (Malaysia), khusus untuk me- rayakan 10 tahun Club Med kawasan Asia ini. Singkat kata, nama Club Med seperti sudah identik dengan paket liburan yang sehat, ceria, padat acara, dan menyatu dengan alam. Tahun lalu, Club Med bisa menyedot satu juta pengunjung, yang kesemuanya ditampung di perkampungan yang serba lengkap. Tak heran bila jaringan hotelnya tergolong 10 besar dunia. Kendati tidak tergolong mewah, hotelnya bersuasana nyaman, ramah, dan akrab. Suasana ini terutama diciptakan oleh staf Club Med yang biasa disebut GO (gentle organisers). Merekalah yang memungkinkan suasana jadi tidak kaku hingga para tamu Club Med bisa berinteraksi satu sama lain kendati berbeda usia, bangsa, maupun bahasa. Acara-acara liburan yang dibuat Club Med juga menunjang kebersamaan itu. Sistem pembayaran di muka sengaja dibuat seefisien mungkin. Dengan begitu, selama tinggal di Club Med, para pelancong tak perlu repot mengeluarkan uang tunai -- termasuk pemberian tip. Tarif US$ 350 untuk berlibur tiga hari di Bali, sudah mencakup tiket pesawat p.p., penginapan, makan kenyang tiga kali sehari, dan pelbagai fasilitas olahraga. Bahkan kalau perlu, pelatih pun siap melayani Anda. Bagi yang sudah berkeluarga, membawa anak-anak ke Club Med juga bukan masalah. Di tempat itu disajikan macam-macam acara dan fasilitas, khusus buat anak-anak yang dikelompokkan sesuai dengan umurnya. Ini juga satu faktor plus bagi Club Med. Jaringan Club Med di Asia, diawali di Cherating, Malaysia (1980), sementara kini, Bali merupakan primadona untuk kawasan ini. "Occupancy rate dari Club Med di Bali memang paling tinggi dibanding Club Med lainnya di Asia," ujar Alexis Agnello, direktur Club Med kawasan Asia yang berkedudukan di Tokyo. Dibandingkan perkampungan di Sahoro (Jepang), Phuket (Muangthai), Farukulofushi (Maldives), La Pointe aux Cannoniers (Mauritius), dan Noumea (Kaledonia Ba- ru), Club Med di Nusa Dua, Bali, itu memang paling banyak mengundang tamu. Tahun lalu, tingkat huniannya (occupancy rate) mencapai 70% atau sekitar 4.000 pengunjung -- 35% di antaranya adalah warga Indonesia. Dan di sana, para tamu yang datang dari mancanegara itu rata-rata menghabiskan waktu sembilan hari. Uang yang mereka belanjakan berkisar US$ 372/hari. Sedangkan total uang yang masuk ke Club Med, sepanjang tahun lalu, ditaksir US$ 9,78 juta. Belum lagi kerja sama Club Med dengan Garuda Indonesia, yang menguntungkan bagi BUMN itu karena mengangkut 22,7 ribu penumpang atau senilai US$ 11,215 juta. Kompleks Club Med Bali, yang terletak di Nusa Dua, luasnya sekitar 35 hektare berkapasitas 350 kamar dengan 700 tempat tidur. Seluruhnya menelan investasi US$ 25 juta, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto bulan Juni 1987 silam. Semula investasi itu diduga bakal kembali dalam 25 tahun. Ternyata, dengan membanjirnya pengunjung, sekarang saja sudah impas. "Bahkan, sudah untung," kata Wayli Osman, Humas Club Med di Bali. Toh ada juga kritik terhadap Club Med, yang katanya menyediakan kamar terlalu sempit. Kamar itu praktis hanya memuat tempat tidur dan kamar mandi saja. Tak ada TV atau radio, apalagi telepon. Pelancong praktis terpencil dari dunia luar. Mendengar ini, apa komentar Club Med? "Mereka yang datang kemari tentu tak akan menghabiskan waktunya di kamar. Mereka harus aktif menikmati liburan dengan memanfaatkan fasilitas yang ada," kilah manajer pemasarannya, Corinne Guedj. Sukses di Bali, rupanya, merangsang Club Med untuk membuka cabang baru di Indonesia. "Kini, kami sedang mengincar Biak untuk mendirikan Club Med di sana," kata Corinne. Ahmed K. Soeriadjaja dan Joko Daryanto (Denpasar)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus