Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan atau Menhub Budi Karya Sumadi bertemu dengan Wakil Menteri Infrastruktur, dan Transportasi Korea Selatan Sangwoo Park. Pertemuan itu membahas upaya penyelesaian feasibility study (FS) atau studi kelayakan dan pembiayaan pembangunan transportasi massal Light Rail Transit (LRT) di Bali.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dalam pertemuan yang berlangsung di Korea Territorial Development Museum, Seoul, itu Budi Karya mengatakan Pemerintah Indonesia berkomitmen membangun transportasi massal perkotaan. Tujuannya untuk mengatasi permasalahan kemacetan di sejumlah wilayah Indonesia, salah satunya adalah di Bali.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Kami akan fokus untuk memulai pembangunan LRT Bali Tahap 1, yaitu dari Bandara Ngurah Rai hingga Central Park,” ujar Budi Karya lewat keterangan tertulis pada Rabu, 10 Januari 2023.
Budi Karya menjelaskan, pemerintah mengundang Korea Selatan untuk bekerja sama membangun proyek transportasi massal berbasis rel pertama di Bali. Adapun studi kelayakan dilakukan oleh Korea National Railways dengan pembiayaan grant dari Korea Exim Bank. “FS-nya sudah dimulai pada Januari 2023 lalu dan kami targetkan studinya sudah selesai pada April 2024,” kata dia.
Budi Karya berharap Korea National Railways, yang memiliki pengalaman dan reputasi sebagai perusahaan kereta api di Korea Selatan, dapat mendukung upaya penyelesaian FS sesuai tenggat waktu. Pengerjaan studi kelayakan ini bukanlah suatu yang mudah, karena banyak aspek yang harus dipertimbangkan mulai dari teknis, finansial, dan institusional.
“Tapi kami yakin FS ini dapat kita selesaikan dengan baik,” ucap Budi Karya.
Mengenai pembiayaannya, Budi Karya mengungkapkan, pemerintah masih terus membahas berbagai skema, antara lain memanfaatkan Official Development Assistance (ODA) Loan maupun Public Private Partnership (PPP). Indonesia, kata dia, juga meminta dukungan penuh Pemerintah Korea Selatan kepada Eximbank, Korea National Railways, dan pihak terkait lainnya.
Di sektor udara, Budi Karya juga mengundang Korea Selatan untuk meningkatkan frekuensi penerbangan langsung (direct flight) ke Indonesia, khususnya ke Batam dan Bali. Selain itu Budi Karya juga mengharapkan kerja sama pengelolaan Bandara Batam dengan Incheon dari Korea Selatan dapat ditingkatkan.