DI negeri asalnya, Amerika, Wonder Woman bebas bergerak. Dia boleh tampil sebagai detektif canggih di mana saja dan kapan saja. Alasannya, Wonder Woman memang wanita hebat. Pintar, cantik, dan sakti lagi -- bisa terbang segala. Begitupun ketika ia masuk Jakarta, melalui Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), penampilan si cantik tidak menghadapi persoalan apa pun. Tapi, lain halnya ketika ia mejeng di Surabaya. Si cantik perkasa, yang diperankan oleh Lynda Carter ini, banyak dikritik penonton. Contohnya, beberapa bulan lalu. Ketika aksi Wonder Woman ditampilkan malam hari (setelah Dunia Dalam Berita), pemirsa SCTV (Surya Citra Televisi) langsung melancarkan protes. Kata mereka -- penonton, maksudnya -- Wonder Woman adalah film anak-anak yang penuh fantasi, mengapa harus diputar malam hari? Untunglah, SCTV cepat tanggap. Di bulan berikutnya, film seri Wonder Woman diputar sore hari. Selesai? Ternyata, belum. Setelah jam penayangannya diubah menjadi sore, muncul protes gaya lain. Penonton -- melalui surat maupun telepon -- menyatakan bahwa Wonder Woman bukanlah konsumsi anak-anak. "Itu film yang tidak mendidik, dan meracuni anak-anak," kata seorang pemirsa seperti ditirukan oleh Slamet Supoyo, Dirut SCTV. Soalnya, demikian kata pemirsa, film seri si wanita perkasa itu terlalu banyak menonjolkan aurat wanita. Istilah populernya, terlalu banyak gambar yang menampilkan "sekwilda" (sekitar wilayah dada), dan "bupati" buka paha tinggi-tinggi). Akibatnya, seperti yang diberitakan beberapa media cetak di Surabaya, banyak anak-anak yang melakukan tindakan negatif yang dilantarankan menonton Wonder Woman. Kalau tidak percaya, "Baca saja koran-koran," kata Mohammad Noer, Preskom SCTV. Salah satu contohnya, di bulan lalu. Beberapa koran terkemuka di Jawa Timur memberitakan perkosaan yang dilakukan oleh seorang anak di bawah usia. Ketika diperiksa oleh yang berwajib, anak itu mengaku melakukan itu setelah menonton film Wonder Woman. Sebuah alasan yang agak mengherankan, memang. Soalnya, bukan apa-apa, film seri ini sangat jarang -- bahkan boleh dibilang tidak pernah menampilkan adegan yang mengarah pada hubungan seksual. Lantas, apa yang merangsang anak yang menjadi tersangka pemerkosa? Beberapa pengamat SCTV (baca: penonton di Surabaya) mengatakan bahwa yang mendorong tersangka untuk melakukan perkosaan adalah penampilan si Wonder Woman sendiri. Buktinya, tengok saja ketika si wanita perkasa beraksi. Dengan hotpant ketat, dan blus berkerah rendah, plus mahkota bergambar bintang di kepalanya, dia tampil cukup seksi. Perkara mahkota bergambar bintang sih tidak apa-apa, "Sekwilda (sekitar wilayah dada), dan bupati (buka paha tinggi-tinggi)-nya itu yang merangsang," kata seorang pecandu SCTV. Itulah salah satu sebab kenapa Mohammad Noer mengajukan pengunduran diri dari jabatan preskom. Namun, ujung-ujungnya, setelah Sudwikatmono dan kawan-kawan (sebagai sesama pemilik SCTV) melakukan negosiasi, Noer memang tak jadi mengundurkan diri. Ia siap kembali menjadi Preskom SCTV asal semua usulnya (ada enam usul) dikabulkan. Noer, di antaranya, mengusulkan agar SCTV mengurangi penayangan film-film impor. Baik yang berbau ngesek maupun yang bertema horor. "Mosok kita mau jadi kios budaya asing," katanya kepada TEMPO, dua pekan lalu. Alasan lainnya, kata Noer, pemirsa SCTV sangat lain dengan pemirsa RCTI di Jakarta dan sekitarnya. "Penonton di Ja-Tim ini sifatnya heterogen," katanya. Jadi, kalau pemirsa Jakarta melihat adegan berciuman, misalnya, mereka tidak akan melancarkan protes apa pun. Sebab, tanpa harus melihat layar TV, gambar seperti itu mudah ditemui di pedagang-pedagang kaki lima. Baik itu di penjual stiker maupun di tempat orang berdagang poster. Lantas di Surabaya? Sebenarnya, sih, sami mawon. Bahkan, sebagai penghuni kota buaya, penduduk Surabaya sudah tidak asing lagi dengan perkara yang menyerempet-nyerempet soal maksiat. Dalam soal kehidupan malam, misalnya. Untuk yang resmi, Surabaya sudah dikenal dengan Dollynya. Sedang yang tidak resmi sudah tak terhitung banyaknya. Mulai dari bar hingga ke call girl tingkat radio pager. Apakah ini juga tidak menimbulkan pengaruh buruk terhadap masyarakat setempat yang, kata M. Noer, memiliki "budaya agamis"? Entahlah, soalnya belum ada yang melakukan penelitian khusus tentang itu. Yang pasti, seperti halnya Pengurus MUI JaTim, M. Noer menganggap banyak acara SCTV yang tak layak putar. Karena itu, dia bersedia tetap menjadi Preskom SCTV, dengan enam syarat. Selain minta dikuranginya film impor, M. Noer juga menginginkan agar dibentuk komisi yang khusus untuk menyeleksi film-film yang akan ditayangkan. Sebenarnya, baik film-film di RCTI maupun SCTV sudah lebih dulu ditonton oleh mereka yang memiliki "tangan-tangan bergunting" di Jakarta. Alias sudah melalui Badan Sensor Film. Seperti dikemukakan Zsa Zsa Quamila, Manajer Humas RCTI, begitu sebuah film selesai dibuat atau diimpor, pihak RCTI selalu menyerahkannya kepada sensor. Dan setelah film digunting sana-sini (biasanya makan waktu empat hari) baru pihak RCTI berani memasukkannya di dalam program acaranya. Nah, kalau belakangan masih juga mengundang protes, kata Zsa Zsa, "Itu sih soal selera penonton." Pendapat itu diperkuat oleh Alwi Dahlan, pakar komunikasi massa yang terkenal itu. Kata dia, protes terhadap SCTV muncul karena stasiun ini menjiplak mentah-mentah siaran RCTI (hanya beda waktu pemutarannya). Padahal, karakteristik penonton di dua daerah tersebut -- maksudnya Jakarta dan Surabaya -- sangat berbeda. "Faktor latar belakang sosial, budaya, dan ekonomilah yang menentukan selera," katanya. Berdasarkan pertimbangan itu, SCTV pun tampaknya tak keberatan untuk mengubah langkahnya. Lima acara yang menimbulkan protes penonton -- yang menonjolkan aurat wanita dan masak-memasak -- langsung dicabut dari udara SCTV. Merugi, memang, karena di acara-acara itulah menempelnya 20% iklan yang menjadi penghasilan satu-satunya SCTV. "Tapi biarlah," kata Sudwikatmono, Wakil Preskom SCTV. Sedang untuk memenuhi usul lainnya dari M. Noer, yang menginginkan diperbanyaknya acara buatan sendiri ketimbang impor, kata Sudwikatmono, itu membutuhkan waktu sedikitnya enam bulan. "Sebab, sangat tidak mungkin kalau dilaksanakan sekaligus," tutur Indriena Basarah, Direktur Operasi SCTV. Langkah pertama yang sudah dilakukan, misalnya, di bulan Puasa ini SCTV menampilkan program khusus yang menyangkut agama Islam. Seperti acara "Kisah-Kisah Islam" dan "Dakwah Puasa". Sedang bagi penggemar Wonder Woman, Wok With Yan (acara masak-memasak yang dua pekan lalu dihebohkan karena meracik daging babi), Bodies in Motion, dan Basic Training (olahraga yang juga dianggap banyak menampilkan bagian tubuh wanita), harap bersiap-siap kecewa. Sebab, acara itu kini digantikan dengan tiga film anak-anak, seperti Dinosaucers, The Wonderful World of Disney, dan Smurf. "Ya, apa ruginya sih mengganti satu dua acara, toh masih banyak pilihan lain," kata Ishadi, Direktur Televisi. Ia, tampaknya, setuju dengan pendapat M. Noer dan Alwi Dahlan. "Kepada masyarakat lokal, pendekatannya pun harus dengan gaya lokal pula," ujarnya. Suara senada diungkapkan oleh Hasan Basri, Ketua MUI Pusat. Memang, kata dia, hingga saat ini, pihaknya belum membicarakan soal acara-acara di TV swasta. Tapi, kalau memang ada keluhan dari masyarakat, "Kami akan membicarakannya," katanya. Hasan sendiri mengakui bahwa masyarakat Islam di Ja-Tim agak lain dengan di daerah-daerah lainnya. "Mereka sangat peka," katanya. Makanya, ia menyarankan agar baik SCTV maupun RCTI bersikap hati-hati dalam menyusun program acaranya. "Jangan sampai menyinggung perasaan umat beragama. Sebab, akibatnya bisa berat," katanya tanpa ada maksud mengancam. Bagus. Hanya saja, seperti biasanya, usul yang bagus belum tentu punya nilai komersial yang bagus pula. Buktinya, ya acara-acara produksi lokal itu. Kendati dia hebat, karena merupakan hasil jerih payah bangsa Indonesia, sangat sulit menggaet hati para pemasang iklan. "Setelah empat sampai lima kali pemutaran, dan kelihatan bagusnya, baru mereka mau pasang iklan," kata seorang direktur RCTI. Padahal, yang namanya produksi sendiri itu -- seperti biasa -- bukanlah barang murah. Untuk sebuah membuat satu episode sinetron (seperti Opera Tiga Jaman, yang kini sedang diputar RCTI), misalnya, dibutuhkan biaya sampai Rp 40 juta. Sedangkan film-film impor, yang banyak bertemakan action -- ini yang paling menyedot perhatian pemirsa, bisa dibeli hanya dengan harga 5.000 dolar, alias sekitar Rp 9 juta saja. Jadi, memang wajar kalau acara di RCTI dan SCTV dimonopoli oleh produk-produk asing (sekitar 90%). Soalnya, ya itu tadi, produk-produk impor tersebut lebih murah dan lebih mudah mendatangkan untung. Budi Kusumah, Moebanoe Moera, Ivan Haris, Kelik Nugroho, dan Ardian T. Gesuri
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini