Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Pedagang Parsel Lebaran di Pasar Cikini Cerita Jumlah Pembeli Anjlok hingga 75 Persen

Pusat penjualan parsel di Pasar Kembang Cikini Jakarta Pusat tampak sepi pengunjung di H-3 Lebaran 2025.

28 Maret 2025 | 15.25 WIB

Kios-kios parsel dan hampers lebaran di Pasar Kembang Cikini, Jakarta Pusat, sepi pembeli di H-3 lebaran, di Jakarta,  28 Maret 2025. Tempo/Dede Leni Mardianti
Perbesar
Kios-kios parsel dan hampers lebaran di Pasar Kembang Cikini, Jakarta Pusat, sepi pembeli di H-3 lebaran, di Jakarta, 28 Maret 2025. Tempo/Dede Leni Mardianti

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Lesunya daya beli masyarakat di bulan Ramadan tahun ini juga terasa oleh pedagang di Pasar Kembang Cikini, Jakarta Pusat. Saat Tempo mengjungi pusat penjualan parsel tersebut pada Jumat siang, 28 Maret 2025, tampak hanya satu dua orang pengunjung yang datang melihat-lihat produk dagangan.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sejumlah pedagang pun mengeluhkan penurunan jumlah pembeli. “Wah, ini parah turunnya. Kita hari-hari sepi kaya gini,” kata Andi-bukan nama sebenarnya-, salah satu penjaga kios saat ditemui di depan tokonya, Jakarta Pusat. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Andi memperkirakan penjualan hampers anjlok hingga 75 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya bisa sampai menjual 30 hingga 40 hamper tiap hari, tuturnya, kali ini terjual 4 saja sudah untung. Itu saja, kata dia, dibantu dengan jualan online.

“Kalau enggak gitu mah, kosong banget. Jual satu aja udah syukur-syukur,” ujarnya. “Padahal dulu tuh bisa sampe 10 angkutan mobil tiap pagi kita antar,” tuturnya mengeluhkan minimnya pembeli.

Andi menjual hampers perabotan seperti gelas, dan piring yang dihias sedemikian rupa. Dagangannya itu ia taksir mulai Rp 1,5 juta hingga termahal Rp 3 juta. Andi menduga salah satu penyebab penurunan ini adalah efisiensi anggaran.

Pasalnya, sebagian besar pembeli di tokonya adalah pembeli langganan yang kebanyakan dari instansi pemerintah. “Biasanya tuh dari Mabes Polri, TNI, gitu-gitu,” ujar dia. “Dulu pesannya bisa 60 bungkus, sekarang dikurangi jadi sekitar enam belasan.”

Senada dengan Andi, 3 pedagang lain yang ditemui Tempo juga mengatakan hal yang sama. Menurut mereka suasana pasar tahun ini sangat sepi, bahkan sejak awal masuk bulan Ramadan. “Ya kita hari-hari ini kaya gini. Sudah terlanjur, jadi tinggal bertahan aja sampe besok, nanti Lebaran pulang,” tutur perempuan pedagang yang enggan disebutkan namanya itu. 

Penurunan daya beli masyarakat ini salah satunya tercermin dari deflasi yang terjadi pada awal 2025. Pada Februari lalu, penurunan harga tercatat sebesar 0,1 persen secara tahunan.

Ini merupakan tingkat deflasi terendah sejak Januari 2000 yang saat itu mencapai 1,1 persen. Menurut survei Bank Indonesia (BI), penurunan keyakinan konsumen tersebut dipicu oleh persepsi masyarakat bahwa ketersediaan lapangan kerja dalam kondisi sulit.

Selain itu, Dalam laporan Tempo berjudul ‘Mengapa Ekonomi Lebaran 2025 Lesu’, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Dzulfian Syafrian, mengatakan bahwa salah satu penyebab banyaknya masyarakat yang menahan daya belinya adalah adanya fenomena penurunan kualitas pekerjan. Meskipun jumlah pekerjaan terus bertambah, banyak yang bersifat informal dengan pendapatan tidak stabil. 

Walhasil, mayoritas pekerja berada di sektor berpenghasilan rendah, semetara pekerjaan formal yang menawarkan stabilitas, kontrak kerja, dan jaminan sosial justru makin berkurang. “Hal ini membuat pendapatan rumah tangga lebih tidak menentu, teruatama pada momen Lebaran ketika konsumsi biasanya meningkat,” ujarnya, Selasa, 25 Maret 2025.

Riani Sanusi Putri berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus