Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Pengusaha Tekstil Desak Pemerintah Negosiasi Amerika soal Tarif Impor Trump

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendesak pemerintah untuk menegosiasikan tarif impor baru dari Amerika Serikat.

5 April 2025 | 21.18 WIB

Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan kaos di konveksi Sinergi Adv, Srengseng Sawah, Jakarta, Senin, 28 Oktober 2024. UMKM Sinergi Adv bertahan dengan penjualan atribut Pilkada 2024. Dengan memperkerjakan 400 karyawan, UMKM yang bergerak sejak 2012 di industri tekstil ini dapat memproduksi maksimal 500 ribu/pcs perbulan.  TEMPO/Ilham Balindra
Perbesar
Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan kaos di konveksi Sinergi Adv, Srengseng Sawah, Jakarta, Senin, 28 Oktober 2024. UMKM Sinergi Adv bertahan dengan penjualan atribut Pilkada 2024. Dengan memperkerjakan 400 karyawan, UMKM yang bergerak sejak 2012 di industri tekstil ini dapat memproduksi maksimal 500 ribu/pcs perbulan. TEMPO/Ilham Balindra

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendesak pemerintah untuk menegosiasikan tarif impor baru dari Amerika Serikat. Penerapan tarif dasar 10 persen dan tambahan tarif timbal balik 32 persen dinilai mengancam kinerja ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia. Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengatakan pemerintah Indonesia harus segera bertindak.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Kami meminta perlindungan dari pemerintah untuk segera menyusun tim negosiasi, bisa berangkat ke Amerika, bisa berbicara dengan pemerintah Presiden Donald Trump," ucap Jemmy dalam konferensi pers secara daring pada Jumat, 4 April 2025. Jemmy menjelaskan tujuan dari negosiasi itu adalah supaya Indonesia menunjukkan komitmen dalam menurunkan defisit perdagangan Amerika yang menjadi alasan Trump memberlakukan tarif impor baru. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

"Dengan harapan tarif yang 32 persen yang akan dikenakan tanggal 9 April ini, kita bisa mendapatkan tarif yang lebih ringan," katanya melanjutkan. Jemmy menyadari negosiasi bilateral itu tak mungkin menurunkan tarif resiprokal secara drastis misal dari 32 persen menjadi 20 persen. Kendati begitu ia yakin pengurangan tarif akan membantu meningkatkan kinerja ekspor industri TPT dalam negeri yang lesu.

Menurut Jemmy, Indonesia perlu merumuskan langkah-langkah yang bisa menyenangkan hati Donald Trump. Di antaranya dengan mengimpor lebih banyak kapas dari Amerika, yang saat ini presentasenya, kata Jemmy, hanya 17 persen dari kebutuhan industri TPT. "Kalau kita berhasil meningkatkan impor kapas dari 17 persen menjadi 50-60 persen dari Amerika, dengan harapan juga kalau industrinya pulih, volume impornya bisa bertambah, berarti defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika bisa turun," ujar Jemmy.

Jemmy meyakini dengan mengurangi defisit neraca perdagangan Amerika, Indonesia berpeluang mendapatkan tarif impor yang lebih ringan. Jemmy berujar Indonesia perlu bergegas mengirimkan delegasi agar bisa merebut hati pemimpin negeri Paman Sam. Sebab, negara-negara lain juga pasti melakukan hal demikian. 

Tak hanya asosisiasi pertekstilan, Indonesian Business Council (IBC) berpendapat pemerintah perlu melakukan negosiasi kembali dengan AS. Pemerintah diminta mengkaji kembali kerangka perjanjian dagang antara kedua negara sebagai respons penerapan tarif tambahan tersebut. Sehingga ada penerapan tarif yang lebih adil dan berimbang. 

Hal ini menurut CEO IBC Sofyan Djaliltak hanya bertujuan untuk mempertahankan hubungan dagang yang telah berlangsung. Tapi juga memperluas potensi penguatan perdagangan lewat diplomasi yang aktif. IBC juga mendorong pemerintah dapat memanfaatkan negosiasi multilateral. Negosiasi dapat dilakukan bersama negara-negara ASEAN, untuk mendorong perdagangan internasional yang lebih adil dan setara.

Ilona Estherina berkontribusi pada artikel ini. 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus