Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Rusia berencana memangkas produksi minyak bumi hingga 500 ribu barel per hari (bph). Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Eko Listiyanto, mengatkan harga minyak dunia tergantung pada kebijakan Organisasi Negara Penghasil Minyak Bumi atau OPEC.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Dampaknya dari harga minyak yg kemungkinan naik karena supply pasar berkurang," kata Eko melalui keterangan tertulis pada Tempo, Ahad, 12 Februari 2023.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Lebih lanjut, dia mengatakan kemungkinan harga komoditas akan naik. Namun, yang harus digarisbawahi adalah langkah OPEC.
OPEC adalah penguasa 60 persen minyak mentah dunia. Eko menilai, jika OPEC menambah pasokan, maka harga tidak banyak berubah.
"Sepertinya OPEC tidak akan merespons dengan perubahan produksi minyak sehingga suplai global bisa turun. Ini akan membuat harga minyak naik, tapi kenaikan sepertinya tidak setinggi tahun lalu karena ekonomi tahun ini melambat," paparnya.
Sementara itu, harga minyak naik lebih dari 2,0 persen pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) dan membukukan kenaikan mingguan lebih dari 8,0 persen.
Disinyalir penyebabnya adalah Rusia yang mengumumkan rencana mengurangi produksi minyak pada Maret, setelah Barat memberlakukan batasan harga pada minyak mentah dan bahan bakar negara itu.
Minyak mentah berjangka Intermediate West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret terangkat US$ 1,66 (Rp 25.211) atau 2,1 persen menjadi menetap di US$ 79,72 (Rp 1.210.767) per barel di New York Mercantile Exchange.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April bertambah US$ 1,89 (Rp 28.704) atau 2,2 persen, menjadi ditutup pada US$ 86,39 (Rp 1.312.069) per barel di London ICE Futures Exchange. Brent membukukan kenaikan mingguan sebesar 8,1 persen, sementara WTI naik 8,6 persen.
Sementara itu, OPEC tidak merencanakan tindakan setelah Rusia mengumumkan pengurangan produksi minyak.
"Dalam jangka sangat pendek, (pemotongan produksi Rusia) tidak terlalu berarti karena ada jadwal pemeliharaan kilang yang signifikan mengurangi permintaan hari ini, tetapi seiring kita melangkah maju dan permintaan minyak dunia terus pulih, itu meningkatkan defisit pasokan," kata Presiden Konsultan Lipow Oil Associates Andrew Lipow, Sabtu, 11 Februari 2023.
Para pejabat OPEC mengatakan pada Reuters, harga minyak dapat melanjutkan kenaikannya pada 2023 karena permintaan China pulih setelah pembatasan Covid-19 dibatalkan dan kurangnya investasi membatasi pertumbuhan pasokan, dengan jumlah permintaan terus meningkat melihat kemungkinan harga kembali ke US$ (Rp 1.001,518,775) per barel.
AMELIA RAHIMA SARI | ANTARA
Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini