Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ekonomi

Berita Tempo Plus

Lobi Krakatau Seusai Restrukturisasi

Setelah merampungkan pelonggaran pembayaran utang, Krakatau Steel menyiapkan kerja sama strategis untuk meningkatkan produksi. Krakatau Posco disiapkan menjadi mesin utama penggerak perseroan. 

1 Februari 2020 | 00.00 WIB

Pekerja memotong lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil  PT Krakatau Steel di Cilegon, Banten, 7 Februari 2019./Asep Fathulrahman /Antara Foto
Perbesar
Pekerja memotong lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil  PT Krakatau Steel di Cilegon, Banten, 7 Februari 2019./Asep Fathulrahman /Antara Foto

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ringkasan Berita

  • Krakatau Steel merampungkan perjanjian restrukturisasi utang senilai Rp 31 triliun.

  • Rencana baru disiapkan untuk mengambil alih saham mayoritas Krakatau Posco.

  • Banjir baja impor menghantui upaya mendongkrak kapasitas produksi Krakatau.

DUA setengah jam setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Incheon, Seoul, Korea Selatan, Rabu, 29 Januari lalu, Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim bergegas menuju kantor Bank Ekspor-Impor (Eximbank) Korea. Pagi itu, bersama Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara Budi Gunadi Sadikin, rombongan dari Jakarta itu telah ditunggu manajemen bank untuk membicarakan rencana lanjutan kerja sama strategis Krakatau Steel dan Pohang Iron Steel Company (Posco).

Agenda serupa digelar sore harinya bersama Chief Executive Officer Posco Choi Jeong-woo di tempat terpisah. “Kami perlu lapor bahwa restrukturisasi kami sudah selesai, dan Eximbank perlu terus men-support Krakatau Posco,” kata Silmy kepada Tempo, Kamis, 30 Januari lalu.

Restrukturisasi yang dimaksud Silmy berkaitan dengan utang perseroan. Sehari sebelum melawat ke Korea Selatan, Silmy dan Budi Gunadi duduk berderet dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir untuk mengumumkan kepada khalayak bahwa Krakatau Steel telah merampungkan perjanjian restrukturisasi utang senilai US$ 2,2 miliar—sekitar Rp 31 triliun—yang mengendap di neraca perseroan sejak 2012.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus