Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Masih ingat berbagai hidangan yang tersaji saat lebaran? Hampir semua makanan lebaran mengandung santan, daging, jeroan, dan minuman yang dingin segar.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sheena R. Angelia mengatakan, sejumlah hidangan yang biasanya disantap pada hari lebaran dapat memicu lonjakan kolesterol. Makanan tinggi kolesterol di antaranya daging berlemak, jeroan, dan makanan tinggi lemak jenuh, seperti kue kering, cake, hidangan bersantan dan makanan yang digoreng. "Semua itu bisa memicu lonjakan kolesterol," kata Sheena dalam keterangan tertulis "Lanjut Terus Upaya Tangkal Kolesterol Pascalebaran" dari Nutrive Benecol, Selasa, 10 Mei 2022.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Terlebih jika selama puasa, ada kecenderungan buka puasa dengan menu yang rendah nuttrisi serta tinggi gula dan lemak, disertai penurunan aktivitas fisik. Kondisi tersebut, menurut Sheena, menyebabkan dislipidemia yang mendukung terjadinya berbagai penyakit, seperti gangguan jantung dan stroke. "Pencegahan lonjakan kolesterol ini dapat dibantu dengan mengkonsumsi plant stanol ester secara rutin," kata Sheena.
Lantas apa itu plant stanol ester? Plant stanol ester merupakan pangan fungsional dari bahan makanan sumber terutama nabati, seperti minyak nabati, gandum, biji-bijian, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan. National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (NCEP ATP III) merekomendasikan konsumsi plant stanol ester sebanyak dua gram per hari dan harus masuk dalam pola makan sehari-hari. Tujuannya, mencapai target terapi dislipidemia, yaitu menurunkan kadar LDL.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sheena R. Angelia. Dok. Nutrive Benecol
LDL adalah singkatan dari Low-density lipoprotein yang biasa disebut sebagai kolesterol jahat. Kolesterol jenis ini dapat menempel di dinding pembuluh darah dan pada akhirnya mengganggu sistem peredaran darah serta kerja jantung. Beberapa penelitian menyebutkan plant stanol ester dapat menurunkan kadar LDL hingga 11 persen.
Efek penurunan kolesterol oleh plant stanol ester, menurut Sheena, merupakan penurunan absorpsi kolesterol dari usus kecil. Molekul plant stanol ester yang mirip dengan kolesterol akan berkompetisi dan menggantikan posisi kolesterol di dalam usus sehingga lebih sedikit kolesterol yang diserap. Peningkatan konsentrasi plant stanol di dalam enterosit atau sel-sel epitel usus yang berfungsi menyerap nutrisi, juga mengaktifkan pembuangan kolesterol kembali ke lumen usus.
Secara alami, plant stanol dapat ditemukan di sebagian besar sumber makanan nabati. Hanya saja, jumlahnya dalam makanan yang umumnya dikonsumsi sehari-hari sangat kecil, sehingga bisa jadi tidak memberikan efek terapeutik. "Intinya, cukup sulit memenuhi kebutuhan dua gram per hari plant stanol apabila hanya bergantung dari sumber pangan alami," kata Sheena.
Dengan berkembangnya konsep pangan fungsional, Sheena melanjutkan, maka plant stanol dapat difortifikasi ke dalam beberapa produk makanan. "Sebab itu, suplementasi plant stanol ester dapat diberikan untuk memenuhi kebutuhan harian, apabila tidak tercukupi dari bahan makanan," ujarnya.
Sheena melanjutkan, suplementasi plant stanol ester bukan obat, melainkan bagian dari asupan makanan sehari-hari. Karenanya, tidak ada efek kelebihan dosis dan relatif aman dikonsumsi orang lanjut usia. Sheena mengatakan, ada penelitian tentang pemberian minuman susu yang diperkaya plant stanol ester kepada lansia. Hasilnya menunjukkan kondisi saluran cerna lansia berfungsi optimal dalam menyerap plant stanol ester, sehingga diharapkan dapat menurunkan kolesterol.
Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik Tempo.co Update untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram lebih dulu.