Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Berbagai hoaks terkait cara menangani Covid-19 hilir mudik di media sosial. Salah satunya mengenai uap panas yang diklaim bisa membunuh virus corona. Hal itu tentunya turut menyita perhatian dan tanggapan dari pihak medis.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Spesialis penyakit dalam RA Adaninggar mengatakan klaim seperti itu sudah ada sejak 2020. "Kalau memang semudah ini virus dimatikan, jelas Indonesia gak mungkin ada di peringkat ketiga tertinggi kasus di dunia," tulisnya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menurut Ning, masyarakat Indonesia lebih percaya dengan hal-hal yang hanya berdasarkan testimoni dan dibandingkan bukti ilmiah. Padahal, uap panas tidak akan pernah bisa membasmi virus corona.
Ia menjelaskan saluran pernapasan manusia punya perlindungan yang akan menyaring suhu untuk masuk ke dalam. Meskipun yang dihirup adalah uap air panas, ketika uap tersebut masuk ke paru-paru tidak akan sepanas seperti suhu yang ada di luar. Karena itu uap tersebut tidak akan bisa membunuh virus corona yang ada di paru-paru. Justru jika uap yang sangat panas dihirup dapat menimbulkan bahaya peradangan pada saluran pernapasan.
Menghirup uap yang terlalu panas akan seperti seseorang yang terjebak di sebuah kejadian kebakaran yang menghirup suhu panas. Ning juga menjelaskan jika virus tersebut sudah menempel di dalam sel, jika uap tersebut juga di campurkan dengan aneka minyak aromatik esensial dan sabun tidak akan membuat virus corona mati. Jika menggunakan uap panas dengan minyak aromatik dan sabun untuk melegakan hidung tersumbat, melegakan saluran napas, dan mengatasi hidung tersumbat itu bisa saja.
"Yuk melek literasi biar maju dan gak berputar-putar saja di sini. Masak misinformasi tahun lalu sekarang juga masih ada. Kapan move on dan kapan pandemi bisa kita atasi kalau kita jatuh terus di lubang yang sama," jelasnya.
#CuciTangan #JagaJarak #PakaiMasker #DiamdiRumah