Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Perjalanan

2 Hari di Labuan Bajo, Ada Kafe yang Disinggahi Valentino Rossi

Ramai penutupan Taman Nasional Komodo, jadi teringat sebuah perjalanan mengelilingi Labuan Bajo. Simak keseruannya di laut, bukit dan kafe.

28 Januari 2019 | 08.45 WIB

Image of Tempo
Perbesar
labuan bajo (pixabay.com)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Ramai penutupan Taman Nasional Komodo, jadi teringat sebuah perjalanan mengelilingi Labuan Bajo. Dari menyaksikan berember-ember hasil tangkapan laut dari kapal nelayan yang baru berlabuh, sampai mampir di sebuah kafe yang pernah disinggahi pembalap motor GP Valentino Rossi.

Baca juga: Ini Alasan Wisata Taman Nasional Komodo akan Ditutup Setahun

Berikut ini agenda wisata selama dua hari di Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.

Hari Pertama

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Tempat Pelelangan Ikan 
Pagi-pagi betul, kehidupan kota di pesisir barat Nusa Tenggara Timur itu mulai kentara. Nelayan turun dari kapal membawa berember-ember ikan, mulai kerapu tungsing, kerapu batik, kue, cumi-cumi, hingga tuna. Penjaja hasil laut sudah berjajar dengan mejanya masing-masing. Timbang-menimbang, tawar-menawar, juga sesekali saling lempar candaan terjadi, menghidupkan suasana pagi. Nyanyian alam:  ombak dan deru kapal yang menepi, turut menyemarakkan jual-beli. Ikan-ikan besar nun segar dijual dengan harga yang sangat murah. Tuna sebesar 15 kilogram, misalnya, dilelang tak sampai Rp 400 ribu.
Ikan-ikan yang dijual di Tempat Pelelangan Ikan Labuan Bajo pada malam hari akan dijajakan di Kampung Nelayan. (TEMPO/Francisca Christy Rosana)
Makin menyelisik ke dalam, kehidupan asli masyarakat Labuan Bajo di Tempat Pelelangan Ikan, yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, tepatnya dermaga nelayan Kampung Ujung, muncul, menjadi pemandangan budaya yang menarik. Di sini mereka berbicara dalam bahasa Manggarai. Selain itu, umumnya, mama-mama penjual ikan menampakkan kebiasaan yang unik, yakni memakai masker kuning dari kunyit untuk menghindari udara laut yang membikin kulit perih. Bila bosan, pengunjung bisa mencoba jajanan pasar tradisional yang juga tersedia, seperti kompyang yang cocok disantap bersama kopi.

Menuju tempat ini tak terlampau sulit. Cukup berjalan kaki sekitar 15 menit dari sentra hotel di Kampung Tengah. Bisa juga naik ojek dengan biaya Rp 5 ribu dari Bandar Udara Komodo dengan waktu tempuh kurang dari 10 menit. 

Bukit Sylvia
Dulunya, bukit ini tak punya nama. Hingga akhirnya salah satu operator hotel mendirikan resor di kawasan tersebut dengan nama Sylvia Resort. Lantaran bukit itu masuk area ini, orang-orang menamainya Bukit Sylvia. Lokasinya tak terlampau jauh dari Bandara Komodo. Kalau ditarik garis lurus hanya 5 kilometer. Bila berkendara bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 20 menit. Namun jalan menuju ke sana cukup ekstrem dan berkelok-kelok.
Pengunjung berfoto di depan lentera berbentuk komodo pada 'Jakarta Lantern Festival 2014' di Lapangan Banteng, Jakarta, 12 desember 2014. TEMPO/Iqbal Ichsan
Buat menuju puncak, pengunjung pun harus trekking kurang lebih 15 menit. Sampai di atas, peluh bakal terbayar. Sejauh mata memandang, lanskap bukit-bukit Teletubbies tersaji. Pulau Bajo dan Pulau Monyet nyata dapat diindera. Kalau langit cerah, semu-semu Pulau Komodo bisa dijangkau oleh sejurus pandangan. Menengok sedikit ke sisi matahari berpulang, Pulau Sabolo dan Kukusan jelas di hadapan.

Daratan Flores 360 derajat pun seakan mengelilingi tubuh.  Tak jauh dari Bukit Sylvia, terdapat pantai yang terkenal dengan keindahan pasir putihnya, yakni Wai Cicu. Kemolekan pantai ini pun bisa diteropong dari puncak. Tak perlu membayar uang retribusi untuk sampai ke lokasi ini. Semua keindahan bisa dinikmati secara cuma-cuma. 

Festival Komodo
Festival ini memang rutin diadakan tiap tahun dan umumnya digelar di bulan kedua atau ketiga. Pusatnya di kawasan Gua Batu Cermin, Labuan Bajo. Umumnya perayaan ini diawali dengan parade patung Komodo dengan titik awal Kampung Ujung. Selanjutnya, tiap malam, diadakan pentas tari tradisional, lagu-lagu daerah, dan penampilan grup musik di panggung. Masyarakat bisa menyaksikannya secara gratis.

Kala bertandang ke sana, pertunjukan yang bisa dinikmati pukul 19.00 sampai 22.00 pada waktu itu adalah tari ca nai dari Sanggar Kreba Savana. Tari ini mengisahkan kebersamaan masyarakat Manggarai saat menenun kain tradisional. Belasan penari yang melenggak-lenggok di panggung umumnya masih berusia belasan, baik perempuan maupun laki-laki. Mereka berasal dari seluruh wilayah di Manggarai, seperti Lembor. 

Bajo Paradise 
Tak jauh dari Bukit Sylvia, sekitar 10 menit berkendara, café ini menjadi tempat yang wajib dikunjungi traveler kalau sedang bertandang ke Bajo. Pemiliknya, Maxim, mengatakan dibangunnya cafe 

sejak 10 tahun lalu memang bertujuan mewadahi para pendatang untuk menikmati sore atau malam ala pantai. Dilihat dari bangunannya, Bajo Paradise memang langsung menghadap ke laut dengan pemandangan pulau-pulau berbentuk kukusan, kapal-kapal berlabuh, dan dermaga putih membujur ke arah bahar. Spot bar di ujung café menjadi lokasi favorit pelancong untuk menikmati kesyahduan Labuan Bajo.

Selain itu, setiap pukul 20.00, selalu ada sekelompok grup musik reggae menghibur pengunjung. Salah satu penyanyinya, Karon Harum, punya warna suara Rasta Bob Marley yang menonjolkan karakter khas Jamaika. Lantunannya berhasil membawa pengunjung merasuk ke suasana pesta laut malam hari. Nuansa demikian enak dinikmati dengan meneguk minuman khas Flores, sopi, yang dijual di sana, bersama dengan kacang atau penganan ringan lainnya.  

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Selanjutnya hari kedua berkunjung ke Pulau Kelor dan La Cucina

Hari kedua 

Pulau Kelor
Pulau Kelor terdiri atas bukit berbentuk kukusan dengan bibir pantai yang cukup luas. Dari atas, dengan medan tempuh menuju puncak yang cukup ekstrem, tampak hamparan laut bersama gradasinya yang memukau. Simetris di depan, terbentang daratan Flores yang panjang, layaknya barisan kerucut yang tak putus-putus. Memandang keindahan ini rasanya tak ingin dihentikan.  Di pantainya, kita bisa snorkeling menyaksikan koral warna-warni menari. Ikan-ikan nemo dan sejawatnya yang terlampau cantik tak takut datang menghampiri.  Ketenangan bersatu dengan alam makin menjadi karena tak ada pemukiman di situ. Pengunjung bisa bermalam dengan mendirikan tenda. 

Pelabuhan Labuan Bajo
Menjelang senja, beranjak ke Pelabuhan Labuan Bajo yang berada di Jalan Soekarno Hatta adalah ide menarik. Di sana terlihat surya pulang ke peraduannya diiringi suara mesin kapal yang masih melaut. Pulau-pulau berbentuk kerucut dan dataran Flores yang tak ada putusnya mulai berubah warna jadi hitam, mengabarkan siluet. Pendar-pendar lampu mercusuar menyala, mengesankan alam pada malam yang romantis.

Di situ pula tercitra keaslian kehidupan masyarakat sekitar. Ada awak kapal yang mulai beranjak kembali ke rumah, ada juga yang masih tawar-menawar dengan turis untuk trip sailing ke pulau-pulau esok hari. Sementara itu, di pinggir dermaga, anak muda terlihat nongkrong sambil mengobrol sampai dinihari. Tak perlu mengeluarkan bujet untuk menikmati sore menjelang petang yang syahdu di sini. 
Pembalap Valentino Rossi berfoto bersama saat mengunjungi restoran La Cucina di Labuan Bajo. Instagram.com/@Lacucinakomodo
La Cucina
Kembali malam, suasana Kampung Tengah sebagai sentra berkumpulnya para turis mulai menampakkan kehidupannya. Café-café berjajar di sepanjang jalan, dipenuhi pelancong. Namun ada satu yang paling menarik lantaran interiornya banyak menggambarkan pernik bahari. Namanya La Cucina. Konsepnya fusi Italia-Nusantara. Warna yang diangkat dominan putih dan biru. 

Café ini dulu pernah disinggahi oleh Valentino Rossi ketika ia menyambangi Labuan Bajo. Ada tulisan tangan pembalap kesohor itu di salah satu sudut ruangan, disertai tanda tangannya. Umumnya, mereka yang makan tak sekadar menikmati santapan, tapi juga berfoto karena aksesori yang melekati resto itu menarik dan good looking

 

Francisca Christy Rosana

Francisca Christy Rosana

Lulus dari Universitas Gadjah Mada jurusan Sastra Indonesia pada 2014, ia bergabung dengan Tempo pada 2015. Kini meliput isu politik untuk desk Nasional dan salah satu host siniar Bocor Alus Politik di YouTube Tempodotco. Ia meliput kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke beberapa negara, termasuk Indonesia, pada 2024 

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus