Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Perjalanan

Kemilau Pagoda Shwedagon di Myanmar

Pagoda Shwedagon, tempat ibadah umat Budha, berada di jantung kota Yangon, Ibu Kota Myanmar.

27 Februari 2018 | 14.11 WIB

Sejumlah pengungjung yang mendatangi Pagoda Shwedagon di Yangon, Myanmar (13/8). Pagoda Shwedagon dengan tinggi 99 meter didatangi hampir 100 orang setiap harinya. AP/Khin Maung Win
Perbesar
Sejumlah pengungjung yang mendatangi Pagoda Shwedagon di Yangon, Myanmar (13/8). Pagoda Shwedagon dengan tinggi 99 meter didatangi hampir 100 orang setiap harinya. AP/Khin Maung Win

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Setelah menikmati sarapan Mohingar atau bihun kuah khas Myanmar yang segar dan wangi daun ketumbar, serombongan wartawan dan blogger dari beberapa negara ASEAN pada pertengahan Februari ini menuju Pagoda Shwedagon. Tempat ibadah umat Budha ini berada di jantung kota Yangon, Ibu Kota Myanmar.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Rombongan blogger yang mengikuti Familiarization Trip ke Myanmar itu diajak menumpang becak sepeda melintasi pasar pagi yang meriah dengan warna-warni bunga dan aneka buah. Pedagang kaki lima tampak berjejer menjual makanan siap santap untuk sarapan. Di kejauhan, Shwedagon terlihat berkilau dengan stupa utama berwarna keemasan saat tertimpa sinar matahari pagi.

Baca juga: Mengenal Oleh-oleh Khas dari Myanmar: Bedak Thanaka

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

"Jika berada di Yangon, belum lengkap bila tidak mengunjungi Shwedagon," tutur May Zune Win, pemrakarsa FAM TRIP bertajuk Marvalous Myanmar kepada 28 tamunya.

Di jalanan mengarah ke pagoda yang memiliki pintu masuk dari beberapa sisi, para peziarah mulai berdatangan dengan membawa sesaji bunga-bunga potong, aneka buah, dan makanan.

Stupa berupa kubah emas yang menjulang tinggi terlihat anggun. Peziarah dan wisatawan asing memiliki pintu masuk khusus. Kami wajib membayar tiket masuk seharga US$ 10 atau setara dengan 10.000 Khat, mata uang Myanmar. Selain tiket, pengunjung mendapat sebotol air mineral dan tisu basah.

Fasilitas untuk pengunjung sangat memadai, antara lain jalan landai bagi mereka yang berkursi roda, serta lift untuk memudahkan pengunjung yang sulit menapaki anak tangga dari luar menuju pelataran pagoda.

Sebelum masuk, para tamu wajib melekatkan stiker tanda masuk dan melepas sepatu serta kaos kaki. Alas kaki bisa dititipkan pada rak sepatu yang tersedia di depan pintu masuk atau dikantongi dan dijinjing sendiri.

Para petugas juga akan memeriksa kelayakan berpakaian bagi pengunjung, yaitu untuk pria dan wanita harus mengenakan busana di bawah lutut, bisa celana panjang atau sarung dan lengan baju minimal di atas siku. Peziarah lokal rata-rata memakai sarung.

Penyelenggara trip menyediakan busana khas Myanmar untuk kami, berupa sarung dan baju atasan dengan warna-warni meriah. Tak lupa tas gantung berbahan tenun yang juga dibagikan ke semua peserta.

Dalam bahasa lokal, Shwedagon disebut Shwedagon Zeddi Daw dan dijuluki sebagai Pagoda Emas. Menurut situs resminya, pagoda ini dibangun sekitar 2.500 tahun yang lalu dan diduga sebagai pagoda tertua di dunia.

Pagoda terletak di dekat danau Kandawgyi di bukit Singuttara dengan stupa utama yang menjulang setinggi 98 meter berlapis warna emas. Stupa ini mudah dilihat dari berbagai penjuru kota.

Myanmar yang dikenal sebagai negara dengan kekayaan batu permata, menyimpan anugerah alamnya juga pada stupa puncak Shwedagon itu yang bertahtakan 7.000 batu berlian, rubi, dan giok. Pengunjung bisa menyaksikan kilauan batu permata memakai teropong yang tersedia di salah satu dasar pagoda.

Bunyi gong bergaung beberapa kali, ketika seorang peziarah memukulnya sebagai penanda awal berdoa. Sementara di pelataran dengan lantai marmer dan tegel, beberapa orang lain sudah khusyuk berdoa menghadap patung-patung Sang Budha yang bertebaran di seluruh pelataran dengan delapan sudut pagoda.

Bagian dasar pelataran memiliki sudut-sudut dengan nama hari, yaitu sudut Senin, Selasa, Rabu pagi dan Rabu sore, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Biasanya para peziarah akan berdoa di sudut hari sesuai hari kelahiran. Setiap sudut itu ada patung-patung hewan yang melambangkan hari-harinya dengan makna khusus.

Pagoda ini juga dikelilingi pagoda-pagoda lain berukuran lebih kecil dan sejumlah patung Budha dalam berbagai posisi, beberapa tempat pemujaan bagi orang sakit, serta pengunjung yang ingin memiliki anak.

Pada dinihari sekitar pukul 04.00, pagoda sudah dibuka untuk peziarah dan ditutup pukul 22.00. Namun pada hari-hari khusus, misalnya tahun baru Myanmar, tempat ibadah ini dibuka sepanjang hari.

Shwedagon bukan sekedar tempat ibadah Budhis, melainkan juga wahana untuk memperlihatkan keanggunan seni arsitektur Myanmar yang mempesona. Juga sebagai tempat sejarah yang terjaga dan dirawat dengan baik.

Tempat ini diyakini sebagai tempat ibadah paling suci bagi umat Budha di Myanmar karena menyimpan delapan helai rambu Budha (Pangeran Sidharta Gautama), gigi, saringan air Konagamana, potongan tali Kassapa dan tongkat Kakusanda, dan telapak kaki.

Pengunjung tua, muda, hingga anak-anak tampak terus berdatangan. Masing-masing berdoa secara pribadi ataupun dalam kelompok keluarga. Mereka tidak terganggu oleh lalu-lalangnya wisatawan yang memotret berbagai objek, termasuk memoto peziarah yang sedang berdoa.

"Saya berdoa untuk mendapat pekerjaan, saya baru lulus kuliah," tutur seorang peziarah muda setelah selesai berdoa. Dia tidak membawa sesaji melainkan memasukkan uang ke dalam kotak sumbangan.

Pasangan keluarga muda membawa anak mereka yang berulang tahun dan berdoa di sudut hari Jumat, yang merupakan hari kelahiran anaknya.

Meskipun matahari sudah bersinar terang sekitar pukul 10.00, kemilau emas dari ratusan stupa kecil di sekeliling pagoda utama lantai pelataran tak terasa panas. Pengunjung yang berkeliling dengan kaki telanjang tetap merasa nyaman.

Namun pada musim panas, tentu akan sangat panas buat mereka yang tidak terbiasa, sehingga disarankan sebaiknya mengunjungi Shwedagon pada sore hari. Sehingga dapat menikmati cahaya terang, matahari terbenam, dan malam hari dengan permainan cahaya lampu.

Bunyi lonceng, gong, dan lantunan doa dari biksu-biksu mewarnai suasana sepanjang hari. Jika pagi hari kemilau emas kubah-kubah ditimbulkan oleh cahaya matahari, maka pada malam hari cahaya lampu warna-warni memberi sensasi tersendiri dengan permainan lampunya.

Hari itu, penyelenggara Familiarization Trip sudah menyiapkan upacara menyalakan seribu lilin di pelataran pagoda. "Untuk meminta upacara seperti ini tidak bisa dadakan, harus dipesan beberapa hari sebelumnya," ujar Winko Kyaw, pemandu wisata yang menemani kami.

Petugas kuil menyiapkan sumbu-sumbu pada wadah berisi minyak yang tersedia berjejer di pelataran dan menyiapkan beberapa lilin menyala untuk menyulutnya. Dalam sekejap, seribu sumbu menyala dengan lidah api yang menari-nari menghiasi panorama sore itu.

Banyak wisatawan yang memotret pemandangan itu. Ada pula yang ikut berdoa mengarah ke stupa-stupa dengan patung-patung Budha. Suasana hening dalam doa dan lalu-lalang peziarah bercampur di pagoda Myanmar ini.

ANTARA

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus