Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng untuk memperingati tahun baru Jawa, 1 Sura Tahun Wawu 1953 digelar pada hari ini Sabtu (31/8) malam mulai pukul 21.00 WIB
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Mubeng beteng merupakan kegiatan warga berjalan kaki mengitari Beteng Keraton Yogya sambil membisu atau tanpa bicara sama sekali. Tradisi ini menjadi sarana warga melakukan introspeksi atas apa yang terjadi di tahun yang telah berlangsung, sembari memohon kepada Yang Kuasa agar tahun selanjutnya dapat bersikap lebih baik.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Nasional Tak Benda yang dimiliki Yogyakarta sejak tahun 2015.
Rute yang ditempuh saat Mubeng Beteng dimulai dari pelataran Kamandhungan Lor (Keben)-Ngabean-Pojok Beteng Lor Kulon-Pojok Beteng Kulon-Jalan MT Haryono (lewat selatan Plengkung Gading)-Pojok Beteng Wetan-Jl.Brigjen Katamso-Jl. Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara-lalu kembali lagi ke Kamandhungan Lor.
Prosesi Mubeng Beteng diawali dengan Macapatan pada pukul 21.00 di Bangsal Pancaniti, Pelataran Kamandhungan Lor Keraton Yogyakarta. Ritual ini diiringi dengan tembang dhandanggula.
Menjelang pemberangkatan rombongan Mubeng Beteng, akan dilakukan penyerahan dwaja (bendera) yang terdiri dari bendera Merah Putih, bendera Gula Klapa (bendera Kasultanan), dan klebet Budi Wadu Praja (DI Yogyakarta).
Putri Raja Keraton Yogyakarta, GKR Mangkubumi (kedua kanan) melepas abdi dalem saat tradisi Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, 22 September 2017. Dalam tradisi menyongsong Tahun Baru Jawa 1 Suro 1951 Dal/1439 H itu para abdi dalem bersama ribuan warga melakukan ritual mengitari Beteng Keraton Yogyakarta sambil tapa bisu atau berjalan tanpa bicara sebagai salah satu bentuk refleksi diri. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Disertakan juga lima bendera yang merepresentasikan kabupaten dan kotamadya, yakni klebet Bangun Tolak (Yogyakarta), Mega Ngampak (Sleman), Podang Ngisep Sari (Gunung Kidul), Pandan Binetot (Bantul), dan Pareanom (Kulon Progo).
Tepat pukul 24.00 WIB rombongan akan diberangkatkan dengan dilepas oleh perwakilan dari Putri dan Mantu Dalem Sultan dan ditandai dengan bunyi lonceng Kamandhungan Lor sebanyak 12 kali. Tradisi ini bisa disaksikan melalui siaran langsung melalui periscope @kratonjogja pada waktu yang sama.
PRIBADI WICAKSONO