Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Jika Anda ingin berwisata ke Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah setelah pandemi Covid-19 berlalu, coba main ke satu spot menarik di sana benama Batu Angkruk. Letaknya di Desa Tieng, Kejajar.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Penasihat Himpunan Pramuwisata Indonesia Kabupaten Wonosobo, Agus Purnomo mengatakan dari Batu Angkruk, wisatawan yang datang di masa new normal nanti dapat menikmati keindahan dataran tinggi Dieng dari atas
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Di Batu Angkruk ada sebuah jembatan kaca pada ketinggian yang memungkinkan wisatawan menikmati pemandangan khas dataran tinggi Dieng dengan leluasa. "Jembatan kaca tembus pandang ini bakal menarik minat wisatawan saat nanti sudah dibuka secara resmi," kata Agus Purnomo pada Kamis, 4 Juni 2020.
Selain menikmati pemandangan dataran tinggi Dieng dari atas, wisatawan juga dapat berswafoto di Batu Angkruk. Menurut Agus yang juga pengelola objek wisata di Kawasan Dieng, keberadaan Batu Angkruk yang relatif baru akan semakin menarik minat pengunjung.
Selama pandemi Covid-19, Agus menambahkan, pengelola tempat wisata harus lebih kreatif dan jeli melihat peluang dan potensi pasar. Termasuk bagaimana memanfaatkan media sosial dan platform digital lainnya sebagai sarana promosi.
Pengelola Batu Angkruk, Muflichatul Charimah mengatakan antusiasme wisatawan terhadap objek wisata di ketinggian lebih dari 1.700 meter dari atas permukaan laut tersebut cukup tinggi. "Seiring mulai beroperasinya Batu Angkruk ini, kami sudah menerima banyak permintaan kunjungan," kata dia. "Namun belum kami izinkan karena masih dalam masa pembatasan sosial."
Jika sudah boleh dibuka kembali, Muflichatul mengatakan para petugas akan menerapkan standar protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19 sesuai arahan pemerintah. Beberapa ketentuannya antara lain pengunjung wajib memakai masker, tersedia fasilitas cuci tangan, serta mengatur jarak antar-individu.
Menurut Muflichatul, salah satu keunggulan dari jembatan kaca berukuran 18,6 x 2,3 meter persegi tersebut adalah, wisatawan bisa menikmati keindahan matahari terbit dan tenggelam dengan leluasa. Untuk naik ke atas jembatan hanya dibolehkan maksimal 10 orang.