Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kriminal

Rentetan Bentrokan Dua Kubu Pendukung Paslon di Pilkada Puncak Jaya

Pilkada Kabupaten Puncak Jaya diwarnai pertikaian berlarut-larut antara kedua kubu yang bersaing memperebutkan kursi bupati.

6 April 2025 | 01.53 WIB

Perumahan warga di Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, yang dibakar massa salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati. 27 November 2024. ANTARA/HO
Perbesar
Perumahan warga di Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, yang dibakar massa salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati. 27 November 2024. ANTARA/HO

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Satgas Operasi Damai Cartenz mencatat 12 orang tewas dalam pertikaian antara dua kubu pendukung pasangan calon di Pilkada Puncak Jaya, Papua Tengah. Kedua kubu yang bertikai yaitu pendukung paslon 01, Yuni Wonda dan Mus Kagoya, dengan pendukung paslon 02, Miren Kogoya dan Mendi Wonorengga.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

“Dari hasil pendataan, korban meninggal sebanyak 12 orang. Delapan di antaranya berasal dari kubu pasangan calon nomor urut 1,” kata Kepala Satgas Damai Cartenz Brigadir Jenderal Faizal Ramadhani melalui melalui keterangan tertulis, Sabtu, 5 April 2025. Belasan korban tewas tersebut berasal dari sejumlah bentrokan yang terjadi selama tiga bulan terakhir.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Faizal mengatakan bentrokan dua kubu paslon Bupati Puncak Jaya itu merupakan peristiwa berulang. Dia mengatakan saling serang antarkubu bahkan sudah terjadi sebelum hari pemilihan.

Eskalasi bentrok terus meningkat sejak hari pemilihan hingga hasil Pilkada Puncak Jaya disengketakan di Mahkamah Konstitusi. Bentrokan dengan skala cukup luas pertama kali meletus pada 26 dan 27 November 2024 atau tepat di hari pemilihan.

Bentrokan saat itu menyebabkan 10 orang mengalami luka parah sehingga harus dievakuasi ke Kota Jayapura. Insiden itu juga menyebabkan 94 orang luka ringan dan 40 rumah dibakar.

Dikutip dari Antara, Kepala Bidang Humas Polda Papua Ignatius Benny Ady Prabowo mengatakan kerusuhan saat itu dipicu oleh sabotase logistik pemilihan oleh salah satu pendukung paslon. "Ada laporan terkait pendukung salah satu pasangan calon kepala daerah yang membawa kabur kotak suara," kata Ignatius.

Ignatius mengatakan Kabupaten Puncak Jaya, merupakan salah satu kabupaten yang melaksanakan pemilu menggunakan sistem noken. Logistik pemilihan yang dibawa kabur itu terjadi di lima kampung dan dua kelurahan di Distrik Mulia. Dia mengatakan para pendukung yang membawa kabur kotak suara itu juga mengancam petugas KPU setempat menggunakan panah.

Bentrokan antarpendukung paslon kembali terjadi pada 27 Januari 2025. Saat itu polisi mencatat satu orang tewas dan puluhan lainnya luka.

Ignatius mengatakan konflik antara dua kubu kembali memanas pada 2-5 Februari 2025. Seorang warga di Distrik Mulia dilaporkan tewas, 131 luka-luka dan 30 rumah terbakar.

Ketika itu 800 warga terpaksa mengungsi karena massa pendukung terus menerus saling serang. Sebagian warga yang mengungsi berasal dari Distrik Pegeleme.

Sepekan berselang, konflik antara kedua kubu kembali pecah dan menewaskan satu orang. Saling serang antar pendukung pasangan calon itu terjadi di Kampung Muliambut.

Terbaru, bentrokan kembali meluas selama dua hari terakhir, yakni pada Rabu hingga Jumat, pekan ini. Berdasarkan data sementara dari kepolisian, 59 orang dilaporkan mengalami luka. Namun belum ada informasi mengenai jumlah korban tewas.

Konflik antara kedua pendukung ini kembali menyeruak setelah Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan pasangan calon nomor urut 1, Yuni Wonda-Mus Kagoya. Dalam permohonannya, mereka menilai telah terjadi pelanggaran yang terstruktur, sistematis dan masif. Salah satunya yaitu dugaan sabotase dalam penyebaran logistik oleh pasangan calon nomor urut 2 di empat distrik.

Atas permohonan tersebut, MK memutuskan Komisi Pemilihan Umum untuk melakukan rekapitulasi ulang. Mahkamah memerintahkan rekapitulasi ulang itu digelar di 22 distrik di Puncak Jaya. Selain rekapitulasi ulang, ada empat distrik di Puncak Jaya yang menggelar pemungutan suara ulang. 

Sebelum hasil Pilkada Puncak Jaya ini disengketakan, pasangan calon nomor urut 2, Miren Kogoya dan Mendi Wonerengga, meraup 111.079 suara atau unggul 25.277 atas pesaingnya.

 

Nandito Putra

Lulus dari jurusan Hukum Tata Negara UIN Imam Bonjol Padang pada 2022. Bergabung dengan Tempo sejak pertengahan 2024. Kini menulis untuk desk hukum dan kriminal. Anggota Aliansi Jurnalis Independen.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus