Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Diplomasi kapal torpedo

Kapal torpedo yang hanyut di perairan Korea Selatan dipulangkan ke Cina beserta para awaknya. Korea Selatan tak ingin jadi batu loncatan pembelot ke Taiwan. Tindakan ini mengundang amarah Taiwan. (ln)

6 April 1985 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

INSIDEN kapal torpedo itu selesai dalam lima hari. Rabu petang pekan lalu, dengan dikawal kapal angkatan laut dan polisi perairan Korea Selatan, kapal "hanyut" itu bergerak meninggalkan Kunsan menuju Laut Kuning, tempat pihak RRC bersiap menerima upacara penyerahan. Kapal torpedo itu membawa enam jenazah serta 13 awak - dua di antaranya baru pulih dari luka tembak. "Tidak ada motif politik dalam peristiwa ini," kata menteri kebudayaan dan penerangan Korea Selatan, Lee Wong-hong, berkali-kali. Tapi, laporan pers yang terbit di Seoul menyiratkan hal lain. Di antara korban yang tewas terdapat dua komisaris politik. Dengan menghabiskan nyawa kedua tokoh penting itu, jelas kiranya para penembak, antara lain seorang operator radio dan seorang perwira navigasi, tidak berniat balik ke Daratan Cina. Lalu, mengapa Korea Selatan ikhlas memulangkan mereka? "Seoul, tampaknya, tidak mau dijadikan batu loncatan oleh para pembangkang Cina yang ingin minggat ke Taiwan," ulas koran South China Morning Post, yang terbit di Hong Kong. Itulah sebabnya, negosiasi antara konsul jenderal Korea Selatan, Kim Chong-hoon, dan wakil direktur kantor berita Xinhua di Hong Kong, Li Chuwen, berjalan mulus. Niat Seoul memulangkan kapal itu bahkan sudah diumumkan sebelum RRC secara resmi meminta maaf bagi kapal patrolinya yang "telanjur" melanggar perairan Korea Selatan. Luwes menghadapi Beijing, sudah tentu Seoul menerima amarah Taipei. "Suatu pemecahan yang sangat disesalkan dan tidak memuaskan," ujar Chu Fu Sung, menteri luar negeri Taiwan. Sejumlah demonstran mendatangi gedung kedutaan besar Korea Selatan di Taipei, melemparkan cat merah, telur, dan tomat busuk, serta berteriak, "Ganyang Korea Selatan," dan "Putuskan hubungan diplomatik dengan Seoul." Seseorang bahkan membakar diri. Di Kusan, polisi Korea Selatan menangkap tiga orang Taiwan yang meneriakkan "Ganyang Cina Komunis" di depan hotel yang ditinggali awak kapal torpedo itu. Di Beijing, kementerian luar negeri RRC segera mengumumkan terima kasih kepada pemerintahan Presiden Chun Doo-hwan. Kendati tanpa hubungan diplomatik, kontak kedua negeri di bidang akademi, olah raga, dan perdagangan memang meningkat belakangan ini.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus