Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Hamas mengatakan delegasinya telah meninggalkan Kairo pada Kamis, 7 Maret di tengah negosiasi yang sedang berlangsung mengenai perjanjian gencatan senjata di Gaza. Perundingan Isarel Palestina tersebut diharapkan dapat dicapai oleh para mediator sebelum dimulainya Ramadhan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Setelah empat hari perundingan yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir untuk mencapai gencatan senjata selama 40 hari menjelang bulan puasa, masih belum ada tanda-tanda kemajuan pada poin-poin penting, dan kedua belah pihak saling menyalahkan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dilansir dari Reuters, Israel dan Hamas saling menyalahkan atas tidak adanya kesepakatan setelah empat hari melakukan perundingan. Perundingan yang berlangsung tanpa delegasi Israel tersebut akan dilanjutkan pada Minggu, 10 Maret.
Menurut Aljazeera, yang dilaporkan dari Yerusalem Timur, perundingan tersebut berakhir tanpa jawaban atau solusi substansial untuk gencatan senjata atau jeda dalam pertempuran. Hamas menyatakan, “Delegasi Hamas meninggalkan Kairo untuk berkonsultasi dengan pimpinan gerakan tersebut, dengan negosiasi dan upaya terus dilakukan untuk menghentikan agresi, memulangkan pengungsi dan memberikan bantuan kepada rakyat kami.”
Pejabat senior Hamas Sami Abu Zuhri mengatakan Israel menolak tuntutan Hamas untuk mengakhiri serangan, menarik pasukan, dan menjamin kebebasan masuk untuk mendapatkan bantuan dan kembalinya para pengungsi.
Hamas berjanji untuk melanjutkan perundingan, namun para pejabat dari kelompok tersebut mengatakan gencatan senjata harus dilakukan sebelum para tawanan dibebaskan, pasukan Israel harus meninggalkan Gaza dan seluruh penduduk Gaza harus dapat kembali ke rumah mereka.
Meskipun sebelumnya ada komentar bahwa perundingan menemui jalan buntu, Amerika Serikat mengatakan pada hari Rabu bahwa gencatan senjata masih mungkin dilakukan. “Kami tetap percaya bahwa hambatan-hambatan yang ada tidak dapat diatasi dan kesepakatan dapat dicapai,… jadi kami akan terus mendorong tercapainya kesepakatan,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller di Washington, DC.
Sementara, warga Palestina telah mengawali bulan Ramadhan di tengah gempuran serangan Israel. PBB melaporkan adanya kesulitan khusus dalam mengakses Gaza utara untuk pengiriman makanan dan bantuan lainnya. Di seluruh wilayah, masyarakat semakin merasakan kekurangan selama bulan Ramadhan.
Di kota Rafah di perbatasan selatan Gaza, tempat 1,5 juta orang mengungsi, makanan berbuka puasa yang biasanya berlimpah, yang menandai berakhirnya puasa, digantikan dengan makanan kaleng dan kacang-kacangan.
“Kami tidak tahu apa yang akan kami makan untuk berbuka puasa,” kata Zaki Abu Mansour, 63 tahun, di dalam tendanya. “Saya hanya punya tomat dan mentimun… dan saya tidak punya uang untuk membeli apa pun.”
Para pejabat AS mengatakan Presiden Joe Biden akan mengumumkan bahwa militer AS akan membangun pelabuhan di pantai Mediterania Gaza untuk menerima bantuan kemanusiaan melalui laut. Meskipun pembangunannya memerlukan waktu berminggu-minggu, pelabuhan tersebut akan memungkinkan pengiriman bantuan yang setara dengan ratusan truk, ujar salah satu pejabat pemerintahan AS.
Komando Pusat AS dan Angkatan Udara Kerajaan Yordania pada hari Kamis juga telah melanjutkan pengiriman makanan dan bantuan lainnya dari udara ke wilayah utara, di mana badan bantuan PBB mengatakan sebagian besar penduduknya berada di ambang kelaparan.
Dilansir dari sarajevotimes.com, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Kamis menegaskan kembali niatnya untuk melanjutkan kampanye militer di Gaza. Israel sebelumnya telah mengumumkan bahwa tujuannya adalah untuk menghancurkan Hamas dan gencatan senjata apa pun harus bersifat sementara. Ia juga meminta daftar sandera yang masih hidup dan ditahan Hamas di Gaza.
Sebelumnya, Hamas menegaskan seruan kepada warga Palestina yang berada di Tepi Barat, Yerusalem dan di wilayah Israel untuk meningkatkan kunjungan ke Masjid Al-Aqsa selama Ramadhan sebagai tekanan terhadap Israel agar segera menyetujui tuntutan gencatan senjata.
Para perunding mendorong tercapainya kesepakatan Israel Palestina masuki Ramadhan karena kekhawatiran bahwa kompleks masjid di Yerusalem, tempat suci ketiga dalam Islam, dapat menjadi titik rawan kekerasan selama bulan puasa.