Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 5.492 unit rumah yang rusak akibat sejumlah bencana di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, selama beberapa hari terakhir. Jumlah ini belum final karena pendataan hunian yang rusak masih berjalan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan jumlah itu terdiri dari 2.058 rumah rusak berat dan 1.605 unit rumah rusak ringan. “Serta 1.829 unit yang rusak sedang,” katanya, mengulangi isi laporan dari posko utama di Pendopoan Kabupaten Sukabumi, dilansir dari Antara, Kamis, 12 Desember 2024.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menurut Muhari, jumlah ini meningkat drastis dibanding laporan soal rumah rusak yang diterima BNPB pada Senin, 9 Desember lalu. Saat itu BNPB baru mencatat 628 unit rumah rusak akibat banjir, longsor, pergerakan tanah yang melanda ratusan desa. Bahala itu terjadi pada 3-4 Desember lalu di dalam wilayah administratif 39 kecamatan di Sukabumi.
Kondisi lingkungan dianggap mulai membaik karena beberapa jalan penghubung yang sempat putus akibat tertimbun material tanah longsor sudah bisa digunakan lagi. Kini BNPB dan Pemerintah Sukabumi masih merincikan pendataan untuk menunjang kelancaran rehabilitasi, rekonstruksi, dan relokasi hunian warga terdampak banjir.
Untuk kebutuhan perbaikan hunian, BNPB memiliki skema pemberian dana stimulan dari kas negara. Biaya perbaikan per unit rumah mulai dari Rp 15 juta (untuk ukuran rusak ringan), Rp 30 juta (rusak sedang), serta Rp 60 juta (rusak berat). Ada juga bantuan dana tunggu hunian senilai Rp 600 ribu selama enam bulan untuk setiap keluarga, di luar urusan relokasi.