Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Lingkungan

Sistem Akuaponik Mahasiswa FTUI Raih Juara Kompetisi Internasional

Rancangan mahasiswa FTUI itu meraih juara dua pada kompetisi tahunan Project Management Institute, Indonesian Chapter, pada 5-7 Februari 2021.

10 Maret 2021 | 06.53 WIB

Automated Integrated Aquaponic (AIA) Greenhouse System mahasiswa FTUI meraih juara dua pada kompetisi tahunan Project Management Institute, Indonesian Chapter, pada 5-7 Februari 2021. Kredit: Tangkapan Layar
Perbesar
Automated Integrated Aquaponic (AIA) Greenhouse System mahasiswa FTUI meraih juara dua pada kompetisi tahunan Project Management Institute, Indonesian Chapter, pada 5-7 Februari 2021. Kredit: Tangkapan Layar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) merancang Automated Integrated Aquaponic (AIA) Greenhouse System. AIA Greenhouse System merupakan sistem akuaponik yang mengombinasikan sistem budidaya tanaman (hidroponik) dan sistem budidaya ikan (akuakultur) dalam satu sistem terintegrasi ramah lingkungan.

Baca:
Dosen Pertanian UNS Raih Guru Besar Berkat Genderuwo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Rancangan yang tertuang dalam makalah berjudul “Automated Independent Aquaponic (AIA) Greenhouse System” tersebut dipresentasikan di kompetisi Project Management Challange 2020.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Berkat rancangan itu, Tim FTUI yang terdiri dari Anisya Nurpratina (Teknik Lingkungan 2017), M. Ramly Novriansyah (Teknik Sipil 2017), Satria Adipradana Parlambang (Teknik Sipil 2017), dan Rizal Firdaus (Teknik Sipil 2017), meraih juara dua pada kompetisi tahunan Project Management Institute, Indonesian Chapter, pada 5-7 Februari 2021. Kompetisi yang diadakan secara virtual tersebut diikuti oleh 31 tim dari 14 universitas di Indonesia, Malaysia, dan Cina.

Sistem ini menerapkan NFT (Nutrient Film System), yang membuat mineral yang dihasilkan ikan disirkulasikan kembali untuk diserap oleh tanaman. Sistem tersebut bertujuan untuk meningkatkan sistem pertanian berkelanjutan yang meminimalkan emisi terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi produksi. Pada area produksi terbatas, diharapkan nantinya akan dapat menghasilkan produk segar dalam jumlah besar.

“Kami menggunakan panel surya untuk menyuplai 50 persen kebutuhan listrik. Kami juga menggunakan sistem rainwater harvesting untuk menjaga pasokan air tetap ramah lingkungan,” kata ketua tim Tirta Arkara FTUI, Ramly Novriansyah, Selasa, 9 Maret 2021.

“Berdasarkan simulasi tim, untuk setiap 100 meter persegi area produksi, AIA Greenhouse System dapat menghasilkan 754 kg sayuran per bulan dan 160-200 kilogram ikan per 10 bulan. Panel tenaga surya yang digunakan dapat menghasilkan daya 225—240 kWh per hari. Dengan biaya diperkirakan sekitar Rp 1,1 miliar, greenhouse sebagai area produksi dapat dibangun dalam jangka waktu 102 hari,” ujar Ramly.

Sistem ini tidak hanya mengatasi masalah keterbatasan lahan agrikultur, melainkan juga mengatasi masalah yang timbul dari sistem agrikultur konvensional, yaitu efek rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim.

Badan Pusat Statistik pada tahun 2018 menyatakan bahwa luas areal persawahan di Indonesia mengalami penurunan menjadi 7,1 juta hektare dibandingkan dengan 7,75 juta hektare pada tahun 2013. Peningkatan jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan pemerataan lahan pertanian yang tersedia dapat mengarah pada masalah ketahanan pangan nasional. Pada 2019, Indonesia berada pada urutan 62 dari 119 negara di dunia dalam indeks ketahanan pangan yang disusun oleh The Global Food Security Index.

Menanggapi rancangan AIA, Dekan FTUI, Hendri D.S. Budiono, mengatakan, sistem rancangan para mahasiswa ini merupakan kontribusi nyata dari FTUI sebagai alternatif solusi yang dihadapi masyarakat Indonesia. "Harapan kami, AIA Greenhouse System dapat membantu menyelesaikan permasalahan keterbatasan lahan pertanian yang saat ini terjadi di kota-kota besar dan daerah padat penduduk di Indonesia, seperti di Pulau Jawa," ujar Hendri.

IRSYAN HASYIM

Irsyan Hasyim

Menulis isu olahraga, lingkungan, perkotaan, dan hukum. Kini pengurus di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, organisasi jurnalis Indonesia yang fokus memperjuangkan kebebasan pers.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus