Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
DUA pekan setelah tragedi Kanjuruhan terjadi, mata Cahayu Nur Dewata, 15 tahun, masih berwarna merah darah. Ayahnya, Dian Sabastianto, bercerita, semula sklera, bagian putih pada mata, putrinya berwarna kehitaman akibat terpapar gas air mata. “Matanya seperti alien,” kata Dian saat dihubungi Tempo, Sabtu, 15 Oktober lalu.
Dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Cahayu mengalami koma selama tiga hari. Hasil computed tomography (CT) scan menunjukkan pegawai di salah satu apartemen di Jalan Soekarno Hatta, Surabaya, itu mengalami gegar otak ringan dan hanya mengingat memori saat berada di sekolah dasar. Mata Cahayu sempat ditutup dengan kain kasa selama satu pekan.
Dian sempat khawatir putrinya tak bisa melihat lagi. “Saya takut dia tak mengenali orang tuanya,” ujar Dian. Setelah kain kasa dibuka, Cahayu hanya bisa melihat samar-samar. Namun berangsur-angsur penglihatannya mulai kembali. Cahayu yang tubuhnya masih lemas kini berobat ke salah satu klinik akupunktur dan menjalani fisioterapi di Jalan Rinjani, Kota Malang.
Baca: Tembakan Maut Gas Air Mata Kedaluwarsa
Cahayu terbilang beruntung karena masih hidup. Keluarganya sempat panik karena ia tak bisa dihubungi saat kerusuhan di Stadion Kanjuruhan terjadi. Kakaknya, Yeni Puspita Eden, lalu menerima salah satu video yang merekam tubuh adiknya tergeletak di Pintu 12 Stadion Kanjuruhan. Suporter Arema atau Aremania lantas menggotong tubuh Cahayu agar tak terinjak-injak.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo