Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pendidikan

Kepala Perpusnas: Efisiensi Tak Boleh Mengganggu Hak Masyarakat Mengakses Perpustakaan

Wawancara Tempo dengan Kepala Perpusnas membahas soal pemangkasan anggaran hingga koleksi perpustakaan.

25 Februari 2025 | 14.27 WIB

Kepala Perpustakaan Nasional E. Aminudin Aziz saat wawancara bersama Tempo di ruangannya, Perpusnas lantai 5, Jakarta Pusat pada Jumat, 14 Februari 2025. TEMPO/Rizki Yusrial
Perbesar
Kepala Perpustakaan Nasional E. Aminudin Aziz saat wawancara bersama Tempo di ruangannya, Perpusnas lantai 5, Jakarta Pusat pada Jumat, 14 Februari 2025. TEMPO/Rizki Yusrial

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Perpustakaan Nasional termasuk lembaga yang anggarannya dipangkas melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja Dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun 2025. Perpustakaan Nasional mengalami pemangkasan anggaran sebesar Rp 361,7 miliar, atau sekitar 50 persen dari total pagu anggaran sebesar Rp 721,68 miliar. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Namun, setelah dilakukan rekonstruksi anggaran, pemangkasan tersebut menjadi Rp 279,85 miliar. Sehingga, anggaran yang dialokasikan untuk Perpustakaan Nasional pada tahun 2025 menjadi Rp 441,83 miliar.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Buntut pemotongan anggaran itu, Perpusnas sempat mengeluarkan kebijakan pemangkasan jam operasional dengan menutup layanan pada hari Minggu. Padahal, biasanya Perpusnas buka dari Senin hingga Minggu. Setelah viral dan mendapat penolakan, Kepala Perpusnas  E. Aminudin Aziz mengembalikan jam opersional seperti semula.

Ia berujar langkah ini diambil setelah mendapat arahan dari pemerintah pusat bahwa pemangkasan anggaran tidak sepatutnya mengganggu layanan terhadap masyarakat. 

"Hak masyarakat untuk mengakses perpustakaan, itu tidak boleh kami ganggu. Nah ini kita buka. Maka anggaran lain dong yang harus diefisienkan, jangan yang ini," ujar dia kepada Tempo.

Pada Jumat, 14 Februari 2024, selama kurang lebih satu jam, E. Aminudin Aziz membeberkan apa saja penghematan yang dilakukan oleh lembaganya itu kepada wartawan Tempo, Muhammad Rizki Yusrial. Berikut petikan wawancaranya:


Terkait pemangkasan anggaran, apa saja yang terdampak di Perpustakaan Nasional?

Semua orang terdampak. Yang kami pangkas tidak ada lagi seremonial, perayaan-perayaan yang dadakan. Kecuali kalau seremoni tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan panjang. Selain itu, terkait dengan preservasi, konservasi, dan diklat-diklat, semuanya sangat terdampak. Yang tadinya diklat dilaksanakan di daerah-daerah, sekarang pasti semuanya akan dilakukan secara daring.

Bagaimana soal pengadaan koleksi di Perpustakaan Nasional?

Setiap tahun kami menerima ratusan ribu koleksi dari penerbit. Nah sekarang sudah banyak, ada koleksi-koleksi yang dari tahun sebelumnya belum selesai diolah. Jadi saya bilang untuk sementara itu saja yang dilayankan, kami tidak perlu melakukan pengadaan terlebih dahulu. Karena uangnya juga nggak ada. Perpusnas juga kekurangan tempat untuk deposit. 

Sebagai informasi, untuk tahun 2024, Koleksi karya cetak karya rekam yang dihimpun Perpusnas sebanyak 379.663 eksemplar. Realisasi anggaran untuk pengumpulan ini mencapai Rp 2.208.889.684 atau sekitar 96,24 persen dari pagu yang ditetapkan, yaitu Rp 2.295.183.000. Sementara itu, jumlah bahan perpustakaan yang diadakan mencapai 369.132 eksemplar dengan total anggaran sebesar Rp 36.569.879.750.

Untuk Target 2025 Perpusnas menghemat sebanyak 79 persen anggarannya khusus pengadaan koleksi. Awalnya, target serah simpan karya cetak dan karya rekam ditetapkan sebanyak 315.000 eksemplar dengan anggaran Rp 2.157.294.000. Namun, setelah dilakukan efisiensi, target tersebut dikurangi menjadi 138.063 eksemplar dengan anggaran Rp 966.440.000. Hal serupa juga terjadi pada pengadaan bahan perpustakaan, di mana target awal sebanyak 358.102 eksemplar dengan anggaran Rp 35.521.875.000 dikurangi menjadi 74.656 eksemplar dengan anggaran Rp 7.459.592.000.

Apakah ini juga berlaku untuk koleksi digital di aplikasi Ipusnas?

Untuk versi digital kami tetap beli walaupun jumlahnya tidak sebanyak yang tahun lalu. Karena efisiensi ya kami juga turunkan sesuai dengan proporsi yang ada. Untuk jumlahnya saya belum bisa memastikan. Rencananya, satu judul kami beli misalnya 3 eksemplar. Tapi untuk buku-buku dengan judul tertentu yang sangat diminati oleh masyarakat, kami akan sediakan lebih banyak. Jangan sampai antriannya panjang.

Dengan efisiensi ini apakah Anda punya target pengunjung?

Saya bukan sekali mengatakan bahwa kehebatan perpustakaan, di mana pun itu, bukan karena jumlah buku, besarnya ruangan atau gedung, maupun banyaknya jumlah pengunjung. Tetapi, kehebatan perpustakaan ditentukan oleh seberapa banyak aktivitas yang terjadi di dalamnya. Banyak orang datang ke perpustakaan hanya duduk-duduk saja, ngopi-ngopi, tanpa ada aktivitas lain yang terkait dengan urusan substansi perpustakaan. Jadi, kalau ditanya berapa target pengunjung, saya tidak tahu dan memang tidak akan pernah menargetkan.


Bagaimana Langkah Anda Menggiatkan Literasi di Indonesia?

Saya menciptakan program 10 ribu lokus baca di desa setiap tahun. Masing-masing desa diberi seribu buku dengan buku yang disuplai oleh Perpusnas untuk kegiatan membaca masyarakat. Masyarakat itu bukan tidak mau baca, tapi sumber bacaannya yang tidak ada. Nah kami dekatkan diri ke desa. Perpustakaan daerah kan hanya di kabupaten. Orang yang dari kampung untuk hanya sekedar membaca datang ke kabupaten. Terlalu besar usahanya.

Apa dampaknya terhadap masyarakat?

Program ini diresmikan oleh Wakil Presiden Pak Ma'ruf Amin tahun lalu. Itu mendapat respon sangat positif dari masyarakat. Baru kali ini perpustakaan hadir dengan bukunya, dengan program pelatihannya. Bukan 1.000 eksemplar dengan judul yang sama. Ini tidak ada yang sama judulnya. Beda semuanya. Tapi semuanya untuk anak-anak.

Kenapa diprioritaskan untuk anak-anak?

Karena budaya baca itu harus dibangunnya untuk anak-anak. Dari anak kecil. Bukan yang usia sudah mendekati kematian, baru dilatih membaca. Itu baca-baca kitab suci saja gitu ya. Supaya bertobat, yang begitu mah. Bukan belajar membaca dari awal. Bukan berarti tidak penting, mereka itu penting, tapi sasarannya kan beda, tujuannya. Untuk masa depan yang lebih panjang pasti harus anak kecil.

Apakah program ini terdampak akibat pemangkasan anggaran?

Saya tahu program ini bagus, tapi kan kami kekurangan uang. Nah, tapi dengan efisiensi yang kemarin, kemudian sekarang rekonstruksi. Saya akan tetap memprioritaskan pemberian fasilitas untuk masyarakat bisa membaca. Maka, tahun ini program seribu buku untuk 10 ribu desa tidak kami ganggu gugat. Sama sekali. Jadi, itu pasti ada tahun ini.

Selain itu, apakah Anda punya program lain?

Saya punya gagasan untuk menggerakkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk bikin program KKN tematik literasi. Kami ciptakan lokus-lokus di desa tempat mereka KKN. Perpusnas, bertanggung jawab memberikan pelatihan dan menyediakan bukunya. Tapi yang mempraktekkan pengajaran membaca dengan anak-anak desa itu para mahasiswa. Mahasiswa itu punya daya tawar tersendiri lho, mereka itu sangat kreatif. 

Di tengah-tengah efisiensi anggaran, berapa lokus yang bisa disiapkan Perpusnas untuk program melibatkan mahasiswa KKN ini?

Kami juga ingin memberikan sedikit uang kecil untuk operasional mahasiswa KKN itu, misalnya untuk kegiatan kegiatan lomba, harus ada hadiahnya. Jumlahnya masih kami bicarakan lah ya. Nanti kesepakatannya berapa dengan Kemendiktisaintek. Tapi dari Perpusnas sudah menyiapkan anggaran untuk 800 lokus. Tapi saya belum bisa mikir ya, sekarang, bisa nggak sampai seribu lokus gitu. Sebentar dulu nih, karena bicara lokus itu bicara uang, kan? Nah, saya bilang, ya sudahlah, delapan ratus lokus, itu kalau misalnya satu semester saja seperti itu, itu akan menggema di mana-mana.

Seberapa besar dampaknya?

Saya membayangkan kalau misalnya satu lokus di desa, mahasiswa ada 10 berarti paling tidak itu sudah ada delapan ribu mahasiswa yang akan terlibat nih. Apakah tidak akan bergema gitu? Delapan ribu mahasiswa mereka punya medsos, mereka jadi ada kewajiban juga memberitakan ini melalui medsosnya. Gerakan literasi oleh mahasiswa.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus