HARI Sabtu Pon, 15 Agustus,pukul 16.45. Menurut perhitungan
tanggal Jawa, hari yang cerah itu sudah memasuki hari Minggu
atau Ngahad Wage. Nyai Lurah Reksohusodo--atau biasa dipanggil
"mammie" oleh putra-putri kraton--terkejut melihat jilatan api
di atas bubungan Dalem Tasik Wulan, bagian dari Kraton Kasunanan
Surakarta. Istana itu dilanda kebakaran.
Kraton geger. Jerit dan tangis segera memenuhi kawasan yang
dikelilingi tembok tinggi itu. "Kraton kita!", jerit GRA Kus
Indriyah, salah seorang putri Paku Buwono XII. "Aduh, kraton
kita! Oh, Gusti, lindungilah kraton kami," ratapnya lagi.
KGPH Hangabehi putra sulung Sunan PB XII segera memimpin
cara-cara memadamkan api. Dia pernah bekerja di Caltex dan
pernah belajar tentang cara memadamkan kebakaran. Tapi jilatan
api sudah sedemikian besarnya. Tak berapa lama mobil pemadam
kebakaran tiba.
Jalan api ke bangunan lain harus dipotong. Untuk itu sayap
bubungan Dalem Ageng (gedung utama) yang jaraknya cuma 15 meter,
harus diambrukkan. Tidak sulit untuk mematahkannya, karena
bangunan memang telah tua. Sementara itu, di beranda Keputren,
dua orang istri Paku Buwono, didampingi seorang abdi dalemnya,
tekun menghadapi sebuah tungku api kecil yang ditaburi kemenyan.
Tanpa menghiraukan ributnya orang panik, mereka tetap berdoa,
minta selamat.
Murka
Hangabei kemudian ingat nasib beberapa benda pusaka yang ada di
Tasik Wulan. Tiga daun pintu tebal didobraknya. Pusaka yang
bernama Kiai Dudo berhasil diselamatkan. Begitu pula Kiai
Rejeki. Kiai Macan, Kiai Gedeg. "Dan 2 menit setelah Kiai Rejeki
dikeluarkan, plafon dan tiang bubungan jatuh," ujar KRT
Sastradiningrat (60 tahun), sekretaris Paku Buwono XII.
Tidak sampai larut malam, Tasik Wulan habis dimakan api. Semua
pusaka berhasil diselamatkan. Cuma sebuah guci Tiongkok, kotak
tempat menyimpan pusaka dan lemari kuno tiga buah, jadi korban
api.
Kraton Surakarta yang luasnya sekitar 4 Ha, didirikan pada tahun
1745 oleh Paku Buwono II. Dari waktu ke waktu, bangunan semakin
bertarnbah banyak, setiap kali ada raja yang naik tahta. Antara
lain Dalem Tasik Wulan, sebuah gedung yang ada di kompleks
Keputren. Letak gedung ini persis di sisi kanan Pracimorenggo
yaitu kompleks yang jadi Dalem Ageng. Tasik Wulan dibangun pada
1810 oleh Paku Buwono X untuk istrinya yang bernama Kanjeng
Raden Ayu Adipati Tasik Wulan. Nama ini diabadikan untuk nama
bangunan yang berbentuk limasan itu.
Pusaka yang bernama Kiai Dudo disimpan di gedung ini. Sang kiai
ini berwujud sebuah periuk yang bisa menanak nasi sampai 40 kg
sekaligus. Biasanya dijerang di api untuk upacara ritual yang
diadakan 8 tahun sekali. Nasi dari Adang Sega Bakda Dal (menanak
nasi di bulan Dal) ini biasanya dibagi-bagikan kepada para Abdi
Dalem. Mereka percaya nasi yang ditanak dari Kiai Dudo membawa
tuah.
Rupanya, bagi kalangan kraton dan wong Sala, Kiai Dudo ini
dimanjakan betul. Meskipun dipercaya berwatak keras. Sebab,
"Kiai Dudo bisa marah kalau tidak senang dengan situasi," ujar
GPH Hadiprabowo (30 tahun) juga putra Paku Buwono XII yang
memegang jabatan Pengageng Putrosentono Kraton. Tambahnya
"Kemurkaannya biasanya diwujudkan dalam bentuk kebakaran."
Bukan sekali saja kebakaran timbul gara-gara si Dudo ini. Di
tahun 1920, di aman-Paku Buwono X, Kiai Dudo ditempatkan di
Dalem Parakan. Bangunan ini terbakar. Rupanya, sang Kiai tidak
senang dicampur dengan pusaka-pusaka kraton yang lain. Tahun
1970, dapur kraton yang bernama Gondorasan yang juga pernah jadi
tempat penyimpanan pusaka-pusaka yang berwujud alat-alat dapur
ini, juga terbakar. Pindah lagi ke Tursinopura. Entah dengan
alasan apa, kemudian Kiai Dudo dipindahkan pula ke Tasik Wulan
bersama "kiai-kiai" lainnya yang juga berwujud dandang atau
periuk dengan ukuran lebih kecil.
Satu-satunya tokoh yang bisa berkomunikasi dengan Kiai Dudo cuma
Kanjeng Ratu, ibunda Paku Buwono Xll. Konon, di malam Jumahat
Pahing jam 03.00 pagi, 14 Agustus 1981, Kanjeng Ratu telah
mendapat firasat lewat mimpi. Kiai Dudo, yang dalam mimpi itu
berwujud seorang pria bertubuh besar, minta seorang emban
(pengasuh). Artinya seseorang yang bisa memelihara dan
menyediakan sesajen untuknya.
Memang, 40 hari sebelumnya emban Kiai Dudo yang bernama
Sularsih, meninggal dalam usia 89 tahun. Untuk mencari gantinya,
"kami tak bisa pilih sembarangan orang," ujar KGPII Hangabehi,
33 tahun.
"Pokoknya, Kiai marah kalau tidak ada yang merawat," tambah
Hadiprabowo. Selama ini, sudah puluhan tahun lamanya, setiap
malam Jumat, pusaka yang bernama Kiai Dudo ini selalu
dibersihkan. Kemudian diberi sesajen dan dibacai beberapa doa
lewat tembang (lagu Jawa) oleh pengasuhnya.
Walikota Surakarta Sukatno SH menaksir kerugian materi dari
kebakaran tersebut sekitar Rp 20 juta. Selama ini, bangunan
bersejarah itu memang tidak diasuransikan. Sejak berdiri, kraton
ini telah mengalami empat kali kebakaran. Pertama, Dalem Parakan
(sekitar 1920) lalu panggung Sangga Buwana (1955) Gondorasan
(1970? dan Tasik Wulan.
Ketika dibangun, bukannya tidak ada alat pencegah kebakaran, Di
zaman Paku Buwono X, kraton pernah memiliki dua buah alat
pemadam kebakaran. Tapi benda itu kini tinggal besi tua saja
karena tidak ada onderdil. Seputar pekarangan kraton, juga ada
tertanam 30 buah hydrant. "Tapi karena debit air kecil, hydrant
tidak bisa berfungsi lagi," ungkap Hadiprabowo. Begitu pula, air
ledeng di kraton menetes dengan pelit. Bahkan menurut seorang
abdi dalem, "untuk minum saja sulit, apalagi untuk memadamkan
api besar."
Kini, Tasik Wulan tinggal denahnya saja. Ujung bubungan Dalem
Ageng yang diambrukkan, kini ditopang dengan bambu. Kapan mau
dibangun lagi? "Untuk membangun, sulit," sambung Hadiprabowo,
"untuk biaya memelihara saja, selalu kekurangan."
Karena itu, biaYa untuk memperbarui instalasi listrik yang
diperkirakan menjadi sumber kebakaran tadi, tampaknya mustahil
pula. "Sebagian besar jaringan listrik di kraton belum dipugar
sejak listrik masuk kraton," kau KRT Sastradiningrat. Kraton ini
mulai menikmati listrik pada tahun 1930.
Lewat Departemen Dalam Negeri, kraton Sala selama ini mendapat
tunjangan sebesar Rp 4.200.000 setiap bulan, untuk gaji
karyawan. Gaji yang terendah di kraton Rp 9.000 bulan. Kini
jumlah pegawai (termasuk abdi dalem dengan berbagai jabatan)
yang aktif ada 250 orang. Selain itu, sekitar 500 orang yang
telah dipensiun dan 300 orang mendapat subsidi karena dianggap
termasuk kerabat kraton (putro sentono).
Biaya pemeliharaan kraton mendapat dropping juga dari pemerintah
sebanyak Rp 400.000 tiap kuartal. Rupanya, biaya pemeliharaan
ini lebih besar pasak dari tiangnya. Sebab, untuk membayar
rekening listrik misalnya dianggarkan sebesar Rp 250.000. Tapi
PLN Surakarta sering mengirim rekening sampai berjumlah Rp
390.000. Meskipun siang hari -- demi penghematan --listrik
dimatikan secara sentral dan baru menyala pada pukul 17.00.
Apakah kraton tidak punya sumber penghasilan lain? Ada. Kraton
yang jadi tempat kunjungan wisatawan, menjual tiket. Tapi setiap
bulan cuma terkumpul rata-rata Rp 300.000.
Dan di mana harus diletakkan Kiai Dudo yang senang bermain api?
Untuk sementara, kini disimpan di Kraton Kulon, di salah satu
kamar tempat wafatnya Paku Buwono X. Mudah-mudahan ia krasan di
situ.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini