Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Teknologi & Inovasi

Inovasi

8 April 2001 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sedan Canggih ala Bond
IMPIAN orang naik mobil serba otomatis seperti kepunyaan James Bond atau Batman sebentar lagi terwujud. Beberapa perusahaan otomotif dan teknologi informasi—Ford, Daimler Chrysler, Siemens, dan Visteon—bekerja sama mengembangkan suatu teknologi yang disebut fingerprint recognition untuk memudahkan orang mengendarai kendaraan.

Mobil itu, seperti ditulis situs IDG dua pekan silam, sarat dengan peranti biometrika dan telematika—teknologi nirkabel untuk peralatan navigasi, komunikasi, hiburan, dan pendeteksi kerusakan—yang menjanjikan kenikmatan berkendara, keamanan, serta koneksi ke jagat maya.

Pengemudi, misalnya, cukup menekan satu tombol untuk menjalankan kendaraannya. Dengan sentuhan jari, yang berfungsi seperti layaknya sebuah kunci, pengendara juga bisa mengatur kedudukan kaca spion, kemudi, radio, juga suhu ruangan sesuai dengan keinginan.

Sedan-sedan yang memanfaatkan teknologi pengenal sidik jari dilengkapi dengan central processing unit (CPU) yang dihubungkan dengan chip seukuran perangko berisi pemindai sidik jari. Untuk mengaktifkan proses pengenalan sidik jari, pemilik atau calon pengendara harus mengisikan data-data pribadinya terlebih dahulu ke dalam sistem. Bila sistem tak mempunyai data tersebut, siapa pun akan ditolak mengendarai atau mengatur-atur mobil.

Dengan teknologi pengenal sidik jari, pemilik mobil juga bisa membatasi akses kepada fasilitas-fasilitas yang ada. Katakanlah seandainya seorang bapak tak mengizinkan anak gadisnya mengakses internet ketika mengemudi, ia dapat memblokir akses tersebut melalui program yang tersedia.

Sistem Alamiah Penangkal Kanker

INI kabar bagus buat umat manusia. Para ilmuwan berhasil menemukan bukti adanya sebuah sistem alamiah yang digunakan tubuh untuk melawan kanker yang diakibatkan oleh bahan kimia beracun dalam makanan dan lingkungan.

Adanya suatu sistem kekebalan tubuh semacam itu sebetulnya sudah lama diketahui. Ada sejenis bahan alamiah pada tanaman, misalnya sulforaphane di sayuran brokoli, dan bahan kimia sintetis yang dikenal mampu memasuki sistem kekebalan untuk memberikan efek perlindungan. Namun, para periset di Universitas Johns Hopkins, Baltimore, Amerika Serikat, dan Universitas Tsukuba, Jepang—yang membuktikan sistem itu—mengatakan bahwa baru pertama kali inilah mereka berhasil melakukan rekayasa genetis pada tikus selama dua puluh tahun penelitian untuk memastikannya.

Sistem kekebalan tubuh bergantung pada suatu bahan lain di dalam enzim perlindungan—disebut enzim fase II—yang dapat melarutkan zat-zat beracun. Enzim ini secara efektif menetralkan kemampuan zat beracun merusak DNA dan memicu kanker.

Para ilmuwan itu mengungkapkan bahwa mereka tidak hanya berhasil mendemonstrasikan cara kerja sistem kekebalan itu di dalam tubuh tikus, tapi juga menemukan "alat pengatur"-nya, berupa protein yang disebut Nrf2.

"Kami berhasil membuktikan adanya suatu mekanisme dasar yang mampu meng-hambat laju risiko kanker," ujar Dr. Paul Talalay, farmakolog molekuler Johns Hopkins, kepada situs Science Daily, dua pekan silam. Ia menambahkan, naiknya jumlah enzim fase II dapat membentuk suatu "cara yang sangat efektif" untuk mencegah kanker.

Komputer Optik
KOMPUTER secepat kilat. Begitulah angan-angan para ilmuwan NASA yang tengah mengembangkan komputer optik supercepat. Komputer optik adalah mesin komputasi yang menggunakan serat-serat optik untuk beroperasi. Teknologi mutakhir ini dimaksudkan untuk menggantikan proses pancaran elektron lewat metal dan pemecahan gelombang cahaya molekul organik buatan manusia, yang dipakai komputer masa kini. Meskipun gagasan ini baru akan terwujud 15 tahun mendatang, para ilmuwan mengatakan, kecepatan komputer optik berlipat-lipat kali dibandingkan dengan komputer sekarang.

Optika—ilmu tentang cahaya dan penglihatan—sebetulnya sudah lama dimanfaatkan di industi komputasi, terutama dalam pembuatan kabel serat optik gelas untuk menyalurkan data lewat internet, yang berkecepatan lebih tinggi ketimbang kabel tembaga. Berbeda dengan kabel tembaga, yang menyalurkan satu gelombang pada satu saat yang sama, serat optik memancarkan beberapa data sekaligus dalam bentuk gelombang cahaya yang berlainan warna, dan mampu berjalan melewati satu serat secara simultan.

Hubungan optik di dalam sistem komputer mempercepat perjalanan data menuju semua bagian komputer. Sementara itu, bagian yang disebut switch optik bekerja sama dengan prosesor elektronik menyalurkan informasi secara cepat, tanpa menimbulkan panas seperti yang terjadi bila memakai kawat tembaga.

Wicaksono

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus