Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, menyayangkan cara perawatan mumi Papua oleh masyarakat adat pemiliknya. Ada empat mumi asal Jayawijaya berumur ratusan tahun yang telah dikonservasi pada 2017 sebelum diserahkan kembali perawatannya ke masyarakat adat.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Mereka tidak mengerti cara perawatan yang sesuai dengan kaidah konservasi," kata Hari Suroto kepada Tempo, Sabtu malam, 27 Juli 2019.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Berdasarkan data di Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya terdapat empat mumi yang sudah dikonservasi yaitu mumi Araboda, Aikima, Pumo, dan Yiwika. Satu mumi lagi asal Kabupaten Yahukimo masih belum dikonservasi.
Mumi itu pada umumnya ditempatkan di honai dan jadi tontotan wisatawan. "Jadi sangat rawan jika honai terbakar, untuk itu perlu dibuatkan honai khusus," katanya.
Menurut dia, perawatan mumi harus mengikuti kaidah ilmiah, dengan menjaga suhu udara yang sesuai, misalnya. "Mumi harus ditempatkan di tempat yang kering, dijaga dari gangguan serangga dan tikus maupun binatang peliharaan seperti anjing," katanya.
Selama ini, masyarakat adat merawat mumi tersebut dengan cara diasapi dan dilumuri lemak babi saja. "Mereka tidak pernah diberi pelatihan perawatan mumi," kata Hari. "Hingga saat ini belum ada juru pelihara yang ditunjuk oleh instansi resmi pemerintah untuk menjaga dan merawat mumi."
Saat ini, keempat mumi tersebut menjadi atraksi wisata. Biasanya turis yang datang diperbolehkan foto di dekat mumi.