Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Gunung Fentale di Ethiopia mengeluarkan gas metana dalam jumlah besar dari kawahnya. Fenomena ini terdeteksi oleh satelit setelah wilayah tersebut diguncang ratusan gempa bumi dalam beberapa bulan terakhir, yang menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Perusahaan pemantau gas rumah kaca asal Kanada, GHGSat, mengungkapkan bahwa jumlah metana yang dikeluarkan dari Gunung Fentale tergolong besar. Saat pertama kali mengukur emisi pada 31 Januari 2025, mereka menemukan bahwa gunung berapi itu menyemburkan 58 metrik ton metana per jam. GHGSat mulai memantau setelah mendapat informasi dari program Copernicus milik Badan Antariksa Eropa.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Jumlah metana yang terdeteksi ini tidak biasa untuk gunung berapi yang biasanya mengeluarkan gas lain seperti karbon dioksida dan sulfur dioksida,” kata John Stix, profesor geologi dari Universitas McGill, kepada New Scientist, dikutip Jumat, 28 Februari 2025.
“Banyaknya metana dibandingkan gas lain menunjukkan bahwa fenomena ini bukan disebabkan oleh magma yang naik ke permukaan. Sebaliknya, pergerakan magma di bawah tanah mungkin telah membuka cadangan gas,” kata Stix.
Meskipun metana bukan gas rumah kaca utama, keberadaannya tetap menjadi perhatian karena mampu menjebak panas 28 kali lebih banyak dibandingkan karbon dioksida. Menurut GHGSat, fenomena ini tampaknya mulai mereda, dengan emisi metana yang menurun sejak 9 Februari 2025. Para ilmuwan masih berupaya memahami sumber dan mekanisme di balik semburan metana ini.
Program Vulkanisme Global Smithsonian mencatat bahwa pada Januari lalu, satelit mendeteksi ‘anomali termal’ di sekitar Gunung Fentale, yang terus membesar hingga 21 Januari. Meski penyebabnya belum diketahui, laporan Gizmodo mengatakan temuan ini menguatkan dugaan adanya aktivitas geologis yang tidak biasa di kawasan tersebut.
Gunung Fentale terakhir meletus lebih dari dua abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1820, ketika sebuah retakan sepanjang 4 kilometer terbuka dan mengeluarkan lava. Tanda-tanda aktivitas vulkanik sudah terdeteksi sejak September tahun lalu melalui radar satelit, yang menunjukkan adanya intrusi magma di wilayah tersebut.
Gunung ini berada di Taman Nasional Awash, yang juga menjadi lokasi Gunung Dofan, gunung berapi setinggi 450 meter. Pada awal Januari, asap terlihat keluar dari celah-celah di gunung tersebut, menyebabkan ratusan warga mengungsi sebagai langkah antisipasi. Meski demikian, hingga kini belum ada indikasi bahwa aktivitas vulkanik ini akan berujung pada letusan besar.