Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Seni

Berita Tempo Plus

Mengemas Sajak-sajak Sunda Godi

Karya penyair Sunda, Godi Suwarna, dipentaskan dalam kolaborasi teater Australia-Indonesia. Dikelilingkan ke Bandung, Jakarta, Serang, dan Bali.

23 Februari 2015 | 00.00 WIB

Mengemas Sajak-sajak Sunda Godi
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

SATU per satu pemain keluar sambil membawa bunga, sesajen, dan daun ketapang kering. Dari balik tirai putih di tengah undakan panggung lantai Balai Pertemuan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Godi Suwarna duduk seraya disorot lampu biru dari belakang. Bagaikan dalang dengan suara tertahan, ia membacakan sajak "Jagat Alit", yang ditulisnya pada 1978.

Hareupeun kelir: Kalangkang-kalangkang wayang/ Kalangkang usik-usikan, kalangkang dirobah obah... (Di depan kelir: bayangan-bayangan wayang/ Bayangan bergerak-gerak, bayangan diubah-ubah...).

Setelah keheningan di akhir sajak, Godi bergerak ke panggung kecil di sisi kiri. Ia membawa mesin ketik dan lalu mengetik. "Surat keur Aki Caraka," kata Heliana Sinaga, yang muncul di sisi kanan membacakan judul sajak bertema kehancuran dunia. Sajak "Urat Jagat" selanjutnya dibaca Mal Webb, seniman dari Australia, dalam bahasa Sunda. Heliana mengulanginya dengan bahasa Inggris.

Seriusnya suasana mulai pecah ketika Godi kembali tampil membacakan sajak "Grand Prix". Dia berduet sambil berpelukan dengan Mal Webb, yang menirukan suara mobil balap di sepanjang pembacaan. Mulai bagian ini, interaksi dengan penonton menghangat. Sajak tentang hidup yang serba cepat itu diselingi penggalan lirik lagu The Rolling Stones, "I can't get no, satisfaction," ujar Godi berulang-ulang. Pementasan semakin "menggila" ketika giliran Wawan Sofwan tampil membacakan sajak "Orkes Malayu".

Ada 13 sajak Godi yang dibacakan malam itu. Pementasan digarap Sandra Fiona Long, sutradara asal Australia, bersama kelompok Mainteater Bandung dan Melbourne. Long ingin menyajikan sajak Sunda itu agak teaterikal. Godi sendiri adalah penyair Sunda yang beberapa kali menerima penghargaan Rancage. Pada 1993, ia menerima Rancage untuk kumpulan puisi Blues Kere Lauk (Blues Dendeng Ikan) dan tahun 1996 untuk antologi cerita pendek Serat Sarwasatwa (Kisah-kisah Hewan). Penyair kelahiran Tasikmalaya, 23 Mei 1956, ini pada 1980-an juga dikenal sebagai aktor tangguh StudiKlub Teater Bandung (STB). Publik teater mengenang ia pernah memainkan sosok badut dalam King Lear secara mengesankan. Saat itu Godi mendampingi Suyatna Anirun, yang berperan sebagai tokoh Raja Lear.

Menurut Godi, pola latihan bersama Sandra Long sangat berbeda dengan yang digelutinya di STB. "Proses latihan banyak guling-gulingan. Tubuh dibanting-banting." Selama sepekan, sejak pagi sampai petang, Long meminta latihan olah tubuh terus. "Masuk teks (sajak) belakangan. Bingung juga karena seperti main-main terus setiap hari," kata Heliana Sinaga.

Sutradara Mainteater, Wawan Sofwan, yang juga salah seorang pemain, lebih dulu merasakan pola latihan Sandra Long karena pernah berkolaborasi pada 1997. "Yang biasa latihan formal teater, seperti reading, blocking, dan seterusnya akan kaget," ujarnya. Menurut Wawan, metode persiapan Long dimulai dari nol. Bahan pementasan bertolak dari apa yang terjadi saat latihan. "Ia menciptakan suasana dulu, baru kemudian masuk ke naskah," kata Wawan.

"Kalau hanya pembacaan puisi mungkin kurang menarik. Apalagi ini akan disajikan dua bahasa, Sunda dan Inggris," ucap Sandra Long. Itulah alasan mengapa lulusan dramatic art dari Victorian College of the Arts pada 1998 ini menggali lebih dulu tubuh dan suara Godi dan kawan-kawan.

Long sebelumnya berusaha mendalami puisi Godi. Ia tertarik pada tema sajak Godi yang mempersoalkan kerapuhan lingkungan. "Tema besarnya tentang dunia yang mau mati, dengan banyak kerusakan alam dan penyakit," ujarnya. Menjelang akhir pentas, semua pemain—Godi Suwarna, Wawan Sofwan, Heliana Sinaga, Sahlan Bahuy, Jodee Mundy, dan Mal Webb—serta Sandra Long berdiri bersama menghadap penonton. Lalu, seperti sebuah kor yang polifonik, mereka mengeluarkan suara-suara seperti erangan dan ratapan. Mengesankan dan tidak klise.

Anwar Siswadi

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus