Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Seni

Berita Tempo Plus

Makin Bertumpu pada Kelucuan Susilo

Teater Gandrik tampil memainkan lakon Tangis di Yogya dan Jakarta. Mengandalkan kenyelekitan banyolan politik Susilo Nugroho.

23 Februari 2015 | 00.00 WIB

Makin Bertumpu pada Kelucuan Susilo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Tangis meraung-raung bersahutan. Orang-orang berjubah dan bertudung mengerumuni Pak dalang (Susilo Nugroho). Pak dalang duduk bersimpuh menangis. Di pengujung pentas, sutradara Djaduk Ferianto tak memperdengarkan musik untuk mengiringi adegan terakhir dalang. Ia sengaja membawa suasana ke arah lebih senyap. Orang-orang menangis meraung-raung dalam gelap, seolah-olah mereka seperti hantu.

Itulah potongan adegan penutup pentas Teater Gandrik berjudul Tangis di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Rabu malam, 11 Februari lalu (dimainkan juga di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 20-21 Februari). Dialog Susilo Nugroho dan Sepnu Heryanto menjadi klimaks panggung teater malam itu. Seperti pada banyak penampilan Gandrik sebelumnya, Susilo menjadi penampil kunci kelompok itu.

Malam itu, begitu layar panggung dibuka, banyolan Susilo langsung mengentak. Dan, hampir sepanjang pentas berdurasi 150 menit, perut penonton dikocok tanpa henti oleh pria itu. Sebagai pemain kunci, Susilo memanfaatkan kepintarannya dengan melibatkan penonton. Dia bergerak, turun panggung, berbicara dengan enam penonton yang ia pilih secara acak.

"Mumpung di sini banyak orang yang sudah terbiasa menganalisis berbagai persoalan. Bahasa kasarane adol cangkem. Kita tanyai pendapat mereka. Menurut analisis sampean, risiko seorang pembangkang layak dihilangkan?" Penonton merespons Susilo dengan jawaban tidak tahu. Lalu Susilo menimpali, "Belum pernah hilang, ya? Mau hilang bersama saya?"

Tangis dilakonkan berdasarkan dua naskah karya pentolan Gandrik, Heru Kesawa Murti, berjudul Tangis dan Juragan Abiyoso. Kini Heru sudah meninggal. Agus Noor menulis ulang dua naskah yang semula ditulis Heru untuk drama televisi pada 1989 itu. Pentas tersebut berlatar perusahaan batik milik juragan Abiyoso (Butet Kartaredjasa). Agus berusaha membuat alur cerita supaya punya konteks yang lebih segar. "Setidaknya konflik perebutan kekuasaan tidak lagi out of date sebagaimana ketika Heru menulisnya," katanya.

Seperti biasa, Agus memasukkan konteks politik aktual. Naskah Heru Kesawa, menurut Djaduk, selalu relevan menyampaikan pesan politik dalam berbagai situasi politik apa pun. "Tradisi Gandrik mengubah struktur cerita seperti puzzle," ujarnya. Djaduk juga mempersilakan pemain berimprovisasi di panggung. Tapi semua pemain tetap bertanggung jawab pada naskah yang dibuat. Djaduk menggambarkan persiapan pentas kali ini cukup ketat.

Namun, dari semua pemain, Susilo jelas cenderung dominan. Dia memang terampil, lincah, dan bernas dalam mengolah lelucon. Landung Simatupang, sesama dramawan, melihat Susilo makin hari makin lucu. Bahkan, kata Landung, banyolan yang sangat lawas pun oleh Susilo bisa disegarkan kembali dan menjadi "gojegan khas Susilo".

Susilo Nugroho berperan sebagai "dalang". Landung membandingkan peran Susilo dengan dalang wayang kulit. Cukup banyak dalang wayang kulit yang lucu, cair, dan cenderung vulgar. Tapi, pada saat-saat tertentu dalam pergelaran, mereka seperti mengekang tabiat melucu demi memunculkan sisi penyampaian "amanat sesungguhnya" dari cerita yang mereka paparkan.

Di sana-sini, Susilo Nugroho, kata Landung, berusaha melakukan hal serupa. Tapi, sayangnya, tidak di setiap titik di sepanjang pertunjukan ia bisa. Ia selalu terus-menerus menampilkan dirinya sebagai "dewa lelucon nyelekit". Menurut Landung, jenis lelucon yang menunggangi isu kehidupan kebangsaan atau kemanusiaan untuk sekadar membikin terbahak-bahak dan aneka gimmick yang memancing keplok penonton sudah harus dikurangi Gandrik.

Shinta Maharani

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus