SEJARAH KEBANGKITAN ISLAM DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA.
Oleh: K.H. Saifuddin Zuhri
Penerbit: PT Alma'arif, Bandung, 1979
Ukuran saku, 667 halaman.
SETIDAKNYA sudah dua kali K.H. Saifuddin Zuhri, kiai dari
kalangan politisi N.U., mengangkat "soal terpendam." Pertama
ketika ia menulis Guruku Orang-Orang dari Pesantren, sebuah
semi-otobiografi yang menuturkan peranan sejarah para pemuka dan
kalangan N.U. dalam pergerakan nasional (TEMPO, 22 April 1978).
Kedua, dengan mengambil 'sejarah kebangkitan Islam' sebagai
tema, yang ingin ditampilkan agaknya tak lain dari apa yang di
kalangan intern dikenal sebagai nahdliyah ("NU-isme", berasal
dari nama nahdlab, kebangkitan). Kali ini sebuah jalan pikiran.
Dengan semangat memperkenalkan (dan membela) "apakah nahdlah
itu," sistematik disusun. Tampak akan menjadi buku tentang
sejarah agama Islam, bila bab pertama diisi dengan penuturan
zaman Nabi dan para sahabat. Tetapi lewat bab-bab berikutnya,
segera diketahui bahwa yang sedang dicari sebenarnya semacam
legitimasi ataupun asal-usul bagi kehadiran kelompok besar
muslimin yang disebut oleh para pemimpinnya sebagai
"ahlus-sunnah wal jama'ah." Yakni: kaum yang dalam hukum
mengikuti salah satu dari empat mazhab, dalam theologi mengikuti
rumusan Asy'ari (yang terkenal dengan 'sifat 20' Tuhan) dan
dalam tasauf mengikuti syarat-syarat Ghazali.
"Jurang Perasaan"
Bab ketiga misalnya (buku ini terdiri dari 16 bab atau pasal),
melulu memuat riwayat hidup 35 orang ulama dan pengarang dari
zaman silam, alias sekumpulan data mati yang hubungannya dengan
"bagian pembicaraan" tidak begitu jelas -- kalau kita tidak
cukup paham bahwa itulah contoh para tokoh besar yang menjadi
referensi. Di situ tak ada Ibnu Taimiah, Ibnul Qaiyim atau
Muhammad Abduh, yang juga tokoh-tokoh besar dalam kebangkitan
Islam dan kebetulan menjadi referensi golongan Muhammadiyah
misalnya.
Buku, ini lalu seperti mencerminkan sesuatu dari masa lampau.
Memang ada satu periode ketika timbul friksi antara golongan
besar yang kemudian ditubuhkan dalam jam'iyah (perkumpulan
keagamaan) N. U., dengan kalangan pemurnian seperti
Muhammadiyah, Persis atau Al Irsyad. Hanya, makin lama orang
agaknya makin mengerti bahwa di samping soal-soal yang lebih
murni agama, yang juga turut atau bahkan lebih menentukan dalam
menciptakan "jurang perasaan" antara kedua kalangan sebenarnya
adalah masalah perbedaan "kultur". Termasuk gaya kepemimpinan
kiai di tengah umatnya di desa lawan gaya "hangat" kaum
"modernis" di kota.
Maksud mengetengahkan jalan pikiran kaum Nahdliyin, atau "Ahlus
Sunnah", diwakili yang terpenting oleh pembelaan terhadap
mazhab. Mazhab tak lain merupakan hasil logis (salah satunya
red.) prinsip ijtihad yang justru diagungkan kalangan "pembaru"
sendiri -- yakni 'pengerahan ilmu dan pikiran untuk mencari
hukum, kesimpulan atau penafsiran, secara jujur'.
Sebab memang ada sesuatu yang terasa kurang adil serangan kepada
mazhab semata-mata karena ia tak ada di zaman nabi. Padahal
mazhab dalam praktek umumnya tak terhindari: bila orang, apalagi
si awam, mengamalkan ajaran menurut tuntunan orang besar yang ia
sendiri tak mampu mencapai apalagi menandingi ilmunya. Serangan
kepada ini (meskipun sebenarnya secara resmi tak pernah
disiarkan) bisa dinilai timbul dari semangat 'demokratisasi
pikiran' yang memang amat bagus sebagai ide, namun tidak
realistis dalam tuntutan.
Tetapi yang diserang secara resmi, dan sengit, sebenarnya ialah
taqlid semangat "mengikut secara buta". Kaum "pembaru" itu
menganggap taqlid itulah lawan sebenarnya dari prinsip ijtihad
yang, seperti dituliskan Saifuddin Zuhri sendiri, merupakan
pertanda penghargaan kepada akal pikiran dalam Islam. Hanya
masalahnya, sementara si pengarang menganggap taqlid sesuatu
yang tak terhindarkan dilihat dari realitas, kalangan "kota"
barangkali tak pernah berpikir bahwa menghantam taqlid berarti
menghantam sebuah struktur keagamaan di desa -- dan praktis
menuntut desa menjadi "kota". Sesuatu yang bukan tidak mungkin
memang, hanya saja yang dihadapi jauh lebih besar dari hanya
sebuah dalil.
Yang jadi soal kemudian: setelah mengatakan kesahan mazhab
sebagai hasil ijtihad, pengarang kemudian ingin sekali
mengesankan "betapa beratnya ijtihad itu". Tidak kurang dari
delapan kali (hal. 134-162) pengumuman itu diulangulangnya. Ada
misalnya disebut dari kira-kira 140.000 sahabat Nabi, hanya
sekitar 130 orang yang "memberanikan diri" berijtihad
sepeninggal beliau (padahal jumlah itu berarti satu orang dari
seribu orang lebih sedikit -- satu jumlah yang sangat
menggembirakan!).
Mengapa perlu "ditakut-takuti" Sebab "betapa kacau-balaunya
Dunia Islam serta masyarakat pemeluknya jikalau penggalian hukum
"baru" itu dikerjakan oleh sembarang orang . . . hanya berdalil
demi "kemerdekaan berpikir" dalam Islam" (hal. 152).
Mungkin. Sebab ijtihad memang hampir selalu diartikan sebagai
"pekerjaan ilmiah raksasa" -- istilah penulis. Agaknya hampir
tak pernah dibayangkan adanya orang-orang yang, dengan bekal
ilmu yang bagaimana pun, kerapkali berpindah dari satu pendapat
ke pendapat yang lain -- dengan keyakinan bahwa kebenaran
tidaklah hanya terletak pada hasil "penyelidikan" semata.
Kata-kata Nabi yang mengumumkan bahwa "siapa yang berijtihad dan
benar ia mendapat dua nilai pahala, dan siapa berijtihad dan
salah ia mendapat satu nilai pahala," justru menunjuk kepada
harga 'jerih payah' itu sendiri -- dan harga nurani alias kalbu.
"Tanyalah kalbumu sendiri (istafti qalbak)," kata Nabi dalam
hadis yang lain.
Sudah tentu bila sang "mujtahid" lalu mengumumkan pendapatnya,
ia harus sudah bersedia menerima kritik dari orang (siapa pun
juga) yang ternyata lebih kompeten. Dan hanya dengan itu
'prinsip gerak dalam mekanisme Islam' (ijtihad) tetap mampu
memelihara umat dari kemandekan, tentunya.
Lebih Longgar
Memang agak disayangkan bahwa bagian-bagian argumentatif dalam
buku ini, di samping sangat berpanjang-panjang dan penuh
pengulangan, tampak tidak mendapat cukup waktu untuk pengujian
-- dibanding bagian kesejarahan khususnya tentang masa-masa
mutakhir. Lebih dari itu, Kiai Saifuddin terasa tak perlu benar
mengerahkan argumentasi itu: sekarang ini orang, anehnya, justru
merasakan kehidupan keberagamaan di kalangan NU lebih longgar
dibanding misalnya kalangan Muhammadiyah. Bahkan untuk
pikiran-pikiran baru. Orang menduga bahwa pluralitas, yang bisa
diakibatkan oleh pengakuan berbagai mazhab, tapi terutama oleh
"otonomi" masing-masing kiai yang berbagai ragam, menyebabkan
misalnya Nurcholish Madjid, Harun Nasution atau Abdurrahman
Wahid (dua yang pertama itu mendapat serangan gencar di "kota"),
tampak diterima dengan mudah sebagai "sesama ikhwan".
Di segi lain, ijtihad yang dicanangkan kalangan pembaru sendiri
sebenarnya tak lain dari "daya upaya menembus semak belukar
untuk mencapai apa yang diyakini sebagai 'yang asli' -- dan
berhenti di sana.
Toh Muhammadiyah sekarang tak seluruhnya sama dengan
Muhammadiyah di masa-masa awal -- seperti juga NU. Lebih dari
itu, keharusan untuk menjawab tuntutan aktual dan tantangan
situasi yang dihadapi bersama, termasuk masalah keadilan atau
kemiskinan, menyebabkan makin populernya kesadaran agar "masalah
khilafiah (kontroversial) tak usahlah diungkit-ungkit" -- di
samping jelas terdapat pendekatan bahkan pembauran kedua
kalangan.
Buku ini dengan demikian bisa terasa ketinggalan zaman -- kalau
saja tidak berjudul Sejarah. Ia memang sebuah catatan tentang
masa lalu.
Syu'bah Asa
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini