Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
SUARA bising mirip deru mesin pemotong batu memecah keheningan Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, yang gelap-gulita pada Ahad malam, 28 April lalu. Setelah beberapa menit, suara tak berirama itu berhenti, bersamaan dengan nyala lampu yang mengguyurkan cahaya kuning pucat ke tubuh enam penari yang berdiri tegap mematung. Dalam senyap, dua penari lelaki dan empat penari perempuan berkostum serba hitam itu berjalan pelan ke tengah arena membentuk formasi bertumpuk dalam posisi tengkurap. Setelah penari di posisi paling bawah berupaya membebaskan diri, formasi itu pun terberai. Mereka jatuh berguling-guling.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo