Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

SPBU Hidrogen Sudah Ada, Tapi Kendaraannya Masih Minim, Bagaimana Potensinya?

Potensi industri kendaraan bertenaga hidrogen memang besar didorong oleh industri otomotif Jepang. Namun pengembangannya butuh keseriusan.

22 Februari 2024 | 07.18 WIB

PLN Hadirkan Stasiun Pengisian Hidrogen Pertama di Indonesia
Perbesar
PLN Hadirkan Stasiun Pengisian Hidrogen Pertama di Indonesia

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai potensi industri kendaraan bertenaga hidrogen memang besar. Baik di Indonesia sendiri maupun secara global. Meskipun demikian, ekosistem kendaraan hidrogen masih membutuhkan waktu sangat panjang untuk berkembang.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Butuh pengembangan lebih lanjut untuk mengatasi berbagai tantangan," katanya kepada Tempo pada Rabu, 21 Februari 2024.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Sebelumnya, PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN telah meresmikan Hydrogen Refueling Station atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Hidrogen pada Rabu kemarin. Stasiun yang berada di dalam PLTD Senayan, Jakarta Selatan itu, erupakan pilot project pengembangan energi hidrogen dalam sektor transportasi.

Menurut PLN, HRS ini bertujuan untuk membangun ekosistem hidrogen secara end to end di Indonesia sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Sejalan dengan itu, juga mendukung target pemerintah untuk mencapai net zero emission pada 2060. PLN membangun SPBU tersebut sekaligus untuk memanfaatkan kelebihan hidrogen yang mereka produksi. 

Yannes mengatakan, sepertinya industri otomotif Jepang yang mendorong pemerintah hingga BUMN seperti PLN, untuk berinvestasi menyiapkan ekosistem kendaraan hidrogen. Sebab Jepang lebih unggul dalam kendaraan berbasis energi hidrogen, dibanding Battery Electric Vehicle (BEV) yang sudah didominasi oleh Cina.

Menurut Yannes, raksasa industri otomotif Jepang seperti Toyota, Mazda, dan Subaru tengah bekerja sama untuk mengembangkan mesin combustion hidrogen yang lebih efisien dan bertenaga. Mesin baru itu diharapkan lebih bagus daripada versi teknologi lamanya, sepert fuel cell electric vehicles (FCEV) Toyota yang ada di mobil Mirai. Mirai pun menjadi bahan studi bagi PLN dalam membangun SPBU Hidrogen. 

Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Bob Azam, menyampaikan bahwa industrinya senang dapat terlibat dalam mendukung studi pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia melalui Toyota Mirai. Kendaraan tersebut berteknologi FCEV. 

"Kami sudah ada model Hydrogen Mirai yang show up di acara PLN. Kami mendatangkan baru untuk research dan edukasi bersama BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional)," kata Bob kepada Tempo pada Rabu.

Dia berharap agar studi-studi serupa dapat melengkapi upaya-upaya pengembangan ekosistem transportasi yang mendukung dekarbonisasi. Baik dalam pengembangan kendaraan konvensional yang makin hemat bahan bakar, kendaraan berbahan bakar baru dan terbarukan, maupun kendaraan dengan teknologi-teknologi elektrifikasi. 

"Dengan demikian, akan semakin banyak masyarakat yang dapat turut serta secara aktif dalam penurunan karbon," kata Bob. 

Menurut Yannes, selain regulasi yang mendukung, ekosistem baru ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Misalnya untuk kebutuhan infrastruktur produksi hidrogen, infrastruktur pengisian yang luas, hingga ketersediaan sumber daya pendukung lainnya.

Dia menyatakan, Jepang melihat Indonesia punya sumber energi baru terbarukan (EBT) yang berlimpah. Maka dari itu, dianggap sebagai negara yang ideal untuk pengembangan energi hijau, termasuk hidrogen.

"Total potensi EBT mencapai 3.689 Gigawatt berpotensi untuk digunakan dalam produksi green hydrogen sebagai cadangan atau penyimpanan energi," kata Direktur Jenderal Ketengalistrikan Jisman Hutajulu saat ikut meresmikan SPBU Hidrogen di Senayan pada Rabu. 

Yannes sendiri menilai, tampaknya Jepang tidak ingin ketinggalan dalam memanfaatkan potensi pertumbuhan ekonomi dan pasar besar Indonesia di masa depan. Negara Sakura tersebut dianggap tidak ingin sampai tertinggal lagi oleh Cina yang kini mendominasi kendaraan BEV dengan memanfaatkan kekuatan tradisional industri otomotif Jepang dalam combustion engine.

ANNISA FEBIOLA

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus