Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ekonomi

Widjojo 'Turun Gunung'

26 Maret 2000 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

BARANGKALI tak seorang pun ekonom di dunia yang mampu menyamai rekor Widjojo Nitisastro: menjadi penasihat ekonomi tiga presiden. Setelah menjadi penasihat ekonomi Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, Widjojo menduduki posisi yang sama di zaman Presiden Habibie. Dan kini, Presiden Abdurrahman Wahid mengangkatnya untuk tugas serupa: memulihkan perekonomian nasional.

Bersama empat orang teman sekampusnya, Ali Wardhana, Emil Salim, Soebroto, dan Mohamad Sadli, ekonom Universitas Berkeley, Amerika Serikat, ini kerap dikenal sebagai perancang ekonomi Orde Baru. Mereka adalah tulang punggung tim perekonomian sejak 1966. Saking lamanya malang melintang dan menjadi penentu setiap kebijakan ekonomi Orde Baru, mereka sempat dijuluki sebagai "mafia". Dan karena dipimpin Widjojo, mereka dan gerbong yang mengikutinya disebut "Mafia Berkeley".

Mafia Berkeley merancang perekonomian dengan orientasi pertumbuhan ekonomi yang cepat yang mengandalkan pembiayaan luar negeri, sentralisasi perencanaan, dan kontrol pemerintah pusat atas semua sumber pembiayaan pembangunan. Hasilnya luar biasa: rata-rata pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen per tahun, sehingga pada awal 1990-an Indonesia dijuluki generasi kedua "Macan Asia". Namun, ketika badai krisis moneter melanda, kepada Widjojo dan kawan-kawan pula terpulang segudang kritikan.

Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 73 tahun silam ini dikenal berotak encer. Mantan guru SMP ini lulus dengan predikat cum laude dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Semasa menempuh kuliah di UI, Widjojo malah sudah menerbitkan buku Soal Penduduk dan Pembangunan Indonesia, yang ditulisnya bersama Prof. Dr. Nathan Keyfiz dari Kanada.

Tatkala mengambil gelar doktor ekonomi di Universitas Berkeley, 1961, Widjojo tampil sebagai sarjana yang paling menonjol. Tak aneh, selepas dari bangku kuliah, berbagai jabatan penting hinggap di pundaknya, antara lain Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), 1967-1971, Menko Ekuin merangkap Ketua Bappenas, 1973-1983, dan guru besar Fakultas Ekonomi UI.

Ditilik dari catatan karir dan sumbangannya pada perekonomian Indonesia, tak aneh jika Widjojo diminta Gus Dur menjadi penasihat ekonominya di DEN. Tak dinyana, waktu itu, Widjojo menampik tawaran ini. Namun, Gus Dur rupanya tak patah arang. Alhasil, di usia yang sudah merambat ke ufuk barat, Widjojo mesti "turun gunung" untuk membantu Menko Ekuin Kwik Kian Gie.

Selamat bertugas (kembali), Pak Widjojo!

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus