Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kesehatan

Berita Tempo Plus

Mencegah Komplikasi Ibu Penyakit

Olahraga dengan interval terbukti bisa menurunkan kadar stres oksidatif. Juga bisa mencegah komplikasi diabetes melitus.

14 Juli 2018 | 00.00 WIB

Olahraga dengan interval terbukti bisa menurunkan kadar stres oksidatif. Juga bisa mencegah komplikasi diabetes melitus.
Perbesar
Olahraga dengan interval terbukti bisa menurunkan kadar stres oksidatif. Juga bisa mencegah komplikasi diabetes melitus.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

MOHAMAD Slamet Wibowo tidak begitu kaget ketika dokter mendiagnosisnya menderita diabetes melitus pada awal 2015. Kala itu, ia sudah curiga lantaran pelan-pelan banyak masalah pada tubuhnya, di antaranya jadi sering kencing dan penglihatannya buram. "Eh, benar, saya diabetes," kata Slamet, 54 tahun, Kamis dua pekan lalu.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Berbagai keluhan itu mulai terasa saat dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut mendapat fasilitas mobil dari kantornya. Sejak itu, Slamet diantar sopir ke mana-mana. Sebelumnya, ia terbiasa berjalan kaki atau naik kendaraan umum dari rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, menuju kantornya di Salemba, Jakarta Pusat; dan Depok, Jawa Barat. Sekarang, ia duduk saja di dalam mobil.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Maka, ketika ada tawaran dari dokter spesialis kesehatan olahraga Nani Cahyani Sudarsono untuk ikut penelitiannya, Slamet langsung mengiyakan. Ia diminta menjalani latihan berinterval di atas treadmill dan olahraga beban selama 12 pekan. Ia merasakan hasil latihan setelah beberapa kali menjalaninya. "Badan terasa jadi lebih segar dan enak. Umur biologis saya, yang awalnya di atas 60 tahun, juga berkurang," ucapnya. Artinya, proses penuaan bisa diperlambat.

Nani, dosen Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), mengembangkan olahraga untuk para penderita diabetes. Disertasinya di FKUI membuktikan bahwa olahraga berinterval bisa mencegah komplikasi. Lewat penelitian ini, Nani berhasil menyabet gelar doktor bulan lalu. Ia mengatakan olahraga adalah salah satu cara pengobatan diabetes yang perlu digarap serius.

Ia meneliti efek olahraga berinterval, yakni olahraga yang menggabungkan dua intensitas: tinggi dan rendah. Biasanya, olahraga jenis ini dilakukan para atlet dengan rasio semenit berintensitas tinggi dan semenit kemudian berintensitas rendah. Begitu terus diulang beberapa kali.

Untuk pasien diabetes, Nani menggunakan treadmill dan ergocycle atau sepeda statis dengan intensitas rendah lebih lama. Perbandingannya: semenit latihan dengan kecepatan tinggi dan empat menit selanjutnya kecepatan diturunkan jadi lebih santai. Begitu terus diulang sampai enam kali dalam setiap latihan. "Karena mereka punya masalah kesehatan, saya memperkirakan mereka butuh waktu lebih lama untuk pemulihan," ujarnya.

Beban kecepatan tiap penderita diabetes berbeda-beda. Semuanya mesti mencapai detak jantung sesuai dengan usia. Selain menjalani latihan berinterval, mereka diminta berlatih angkat beban.

Untuk melihat perbedaan antara hasil latihan berinterval dan olahraga dengan intensitas sama, Nani membagi 33 orang penderita diabetes berusia 35-64 tahun dalam dua kelompok. Mereka yang bisa ikut hanya yang gula darahnya terkontrol dan tak memiliki komplikasi berat. Kelompok pertama diminta menjalani olahraga yang dikembangkan Nani tiga kali sepekan selama 12 pekan. Sedangkan kelompok kedua diminta berolahraga dengan intensitas sama terus-menerus.

Hasilnya, kondisi mereka yang berolahraga dengan interval dan latihan beban terbukti membaik. Gula darah lebih terkontrol dan tubuh mereka lebih bugar. Olahraga itu pun aman untuk menurunkan kadar stres oksidatif. Stres oksidatif adalah keadaan ketika jumlah radikal bebas di dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk menetralkannya sehingga tubuh menjadi rusak.

Pada penderita diabetes, stres oksidatif juga berhubungan dengan komplikasi. Penangkalnya adalah antioksidan, yang memiliki kemampuan menghancurkan radikal bebas dan memelihara sel-sel tubuh. "Pada penelitian saya, olahraga dengan interval terbukti menurunkan stres oksidatif dan meningkatkan antioksidan," kata Nani.

Menurut guru besar tetap Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FKUI, Angela B.M. Tulaar, kombinasi intensitas latihan baik untuk kebugaran karena tubuh diberi kesempatan mengumpulkan tenaga saat intensitas rendah. Dengan demikian, ketika intensitas meningkat, tubuh sudah siap. "Seakan-akan tenaganya jadi lebih bagus," ujar promotor penelitian Nani ini.

lll

DIABETES melitus adalah salah satu penyakit yang paling banyak diderita di Tanah Air. Diabetes juga disebut sebagai ibu dari berbagai penyakit karena melahirkan banyak penyakit lain akibat komplikasi. Penyebabnya adalah stres oksidatif dan gula darah yang tak terkontrol sehingga pembuluh darah di bagian tubuh mana pun bermasalah.

Stroke dan sakit jantung adalah komplikasi yang paling sering muncul, mencapai 70 persen dari total kasus di Indonesia. Penyandang diabetes berisiko dua kali lipat terkena serangan jantung dan stroke dibanding orang normal.

Komplikasi pada saraf juga sering terjadi. Gula darah yang tak terkontrol menyebabkan pembuluh darah pada saraf tepi atau saraf yang paling ujung di tubuh, misalnya pada ujung jari tangan dan ujung jari kaki, cacat. Sensor saraf yang bermasalah itu menyebabkan baal, kesemutan, atau nyeri.

Banyak penyandang diabetes yang tak merasakan apa-apa saat menapak lantai atau memegang sesuatu. Bahkan mereka sering tak sadar ketika kaki atau tangannya terluka. Karena tak merasakan nyeri, ketika terluka, mereka cenderung abai. Luka juga tak mudah sembuh akibat kadar gula darah yang tinggi. Banyak penderita yang mesti diamputasi karena masalah ini. Komplikasi lain adalah penyakit ginjal, yang mencapai 30 persen dari total kasus komplikasi; kerusakan pada mata yang bisa menyebabkan kebutaan; dan disfungsi seksual.

Menurut guru besar tetap Ilmu Penyakit Dalam FKUI Pradana Suwondo, temuan olahraga berinterval yang bisa mengurangi kadar stres oksidatif ini baik diterapkan oleh penderita diabetes. Namun, karena olahraga ini membutuhkan interval dan capaian detak jantung tertentu, mereka yang menerapkannya harus didampingi pelatih. Mereka juga mesti berdisiplin. "Banyak pasien yang maunya olahraga santai atau olahraga seperti poco-poco," kata penguji disertasi Nani ini.

Nur Alfiyah



1. Sebagian besar kasus diabetes sebenarnya dapat dicegah. Sebab, 90 persen dari kasus ini merupakan diabetes tipe 2, yang disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat.
2. Berat badan berlebih dan obesitas termasuk faktor risiko diabetes. Peningkatan berat badan berbanding lurus dengan peningkatan kondisi diabetes. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 memperlihatkan prevalensi berat badan berlebih (overweight) di Indonesia mencapai 13,5 persen, sementara obesitas 15,4 persen.
3. Dua dari tiga penderita diabetes di Indonesia tak tahu tengah menderita diabetes.
4. Data Riset Kesehatan Dasar menunjukkan peningkatan prevalensi diabetes di Indonesia dari 5,7 persen pada 2007 menjadi 6,9 persen atau sekitar 9,1 juta penderita pada 2013.
5. International Diabetes Federation pada 2015 memperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia sebanyak 10 juta, menempati peringkat ketujuh di dunia. Jika situasi ini tidak ditangani, jumlah penderita akan menjadi 16,2 juta pada 2040.
6. Diabetes dan komplikasinya menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia (6,7 persen), setelah stroke (21,1 persen), dan penyakit jantung koroner (12,7 persen).
7. Persentase kematian akibat diabetes di Indonesia adalah yang tertinggi kedua di dunia (6 persen) setelah Sri Lanka (7 persen).
8. Klaim untuk diabetes mencapai 33 persen dari total pengeluaran Jaminan Kesehatan Nasional pada 2015.

Sumber: Kementerian Kesehatan

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus