Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Pecinan atau Chinatown adalah kawasan yang bisa ditemui di berbagai negara. Komunitas Tionghoa yang dikenal sebagai bangsa perantau beranak pinak dan membangun komunitas besar. Hampir setiap kota besar di berbagai negara memiliki wilayah Pecinan, mulai dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia Tenggara.
Kehadiran Pecinan bukan hanya sekadar kawasan pemukiman, tetapi juga pusat budaya dan ekonomi bagi komunitas Tionghoa yang telah menetap di luar tanah leluhur mereka selama berabad-abad. Lantas, mengapa Pecinan bisa tersebar luas di berbagai negara? Berikut adalah beberapa alasannya.
1. Migrasi besar-besaran komunitas Tionghoa
Dilansir dari laman Moving People Changing Places, penyebaran Pecinan di berbagai negara tidak terlepas dari sejarah panjang migrasi masyarakat Tionghoa ke berbagai belahan dunia. Sejak abad ke-19, gelombang migrasi besar-besaran terjadi akibat kondisi ekonomi dan politik di Tiongkok, seperti kemiskinan, perang, dan ketidakstabilan politik.
Banyak orang Tionghoa mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri, khususnya ke negara-negara yang membutuhkan tenaga kerja, seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan negara-negara Asia Tenggara. Migrasi ini mendorong terbentuknya komunitas Tionghoa yang kemudian berkembang menjadi kawasan Pecinan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
2. Faktor ekonomi
Masyarakat Tionghoa dikenal memiliki keterampilan berdagang yang tinggi. Hal ini menjadi faktor utama berkembangnya Pecinan di berbagai negara. Dilansir dari buku Rahasia Bisnis Orang China karya Wan Seng Ann, banyak imigran Tionghoa yang memulai usaha kecil-kecilan, seperti membuka toko kelontong, restoran, atau usaha tekstil, yang kemudian berkembang menjadi komunitas bisnis.
Selain membangun pasar, perkembangan jalur sutera juga berdampak pada sebaran komunitas Tionghoa. Melansir dari buku Menghidupkan Kembali Jalur Sutra Baru, karya M. Ikshan Tanggok, dkk, pecinan ini juga dipengaruhi Jalur Sutra yang merupakan jalur perdagangan Eurasia yang menjadi penghubung jalur timur dan jalur barat.
Melalui jalur ini, pedagang dari Tiongkok melakukan pelayaran ke berbagai negara hingga singgah atau mampir selama beberapa waktu. Bahkan banyak juga pedagang tersebut yang tidak hanya singgah, melainkan juga menetap hingga membuat komunitas dan kelompok baru.
3. Kebijakan Pemerintah
Beberapa negara memiliki kebijakan yang mendukung atau membatasi komunitas imigran Tionghoa. Dilansir dari veenaworld.com, pada masa lalu, beberapa negara memberlakukan segregasi sosial yang membatasi ruang gerak komunitas Tionghoa, sehingga mereka terpaksa membentuk kawasan sendiri.
Namun, seiring waktu, banyak negara mulai melihat nilai ekonomi dan budaya dari Pecinan, sehingga pemerintah setempat mendukung pengembangan kawasan ini sebagai pusat wisata dan perdagangan. Misalnya, Pecinan di San Francisco dan Singapura kini menjadi destinasi wisata populer yang tetap mempertahankan unsur budaya aslinya.
4. Daya tarik wisata dan budaya
Selain sebagai kawasan pemukiman, Pecinan juga menjadi daya tarik wisata yang memberikan pengalaman budaya yang autentik. Wisatawan yang mengunjungi Pecinan dapat menikmati kuliner dan jajanan khas Tiongkok. Tidak hanya itu, arsitektur tradisional, kuil-kuil kuno, serta pasar malam di Pecinan menjadi daya tarik tersendiri yang menjadikannya tempat unik di kota tersebut.
Pecinan tersebar di berbagai negara karena kombinasi faktor sejarah, ekonomi, budaya, dan sosial. Hingga saat ini, Pecinan tetap menjadi bagian penting dari banyak kota di dunia, tidak hanya sebagai tempat tinggal bagi komunitas Tionghoa, tetapi juga sebagai simbol keberagaman budaya yang memperkaya peradaban global.
Pilihan Editor: Tragedi Kekerasan terhadap Etnis Tionghoa di Indonesia
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini