SEBUAH rumah di Jalan Raya Sukowati, Sragen, Jawa Tengah,
terlihat angker dan suram. Beberapa ekor anjing akan serentak
menggonggong bila ada tamu yang berani memasuki pekarangan. Di
rumah itulah, menurut Jaksa, seorang pembantu rumah tangga,
Kasinem namanya, menemui ajalnya setelah disiksa majikan dan
hampir semua penghuni rumah. Sekarang sepuluh orang tertuduh,
termasuk dua anak tuan rumah yang masih di bawah umur, duduk di
kursi tersangka Pengadilan Negeri Sragen.
Kasinem, gadis Desa Karangwedi, Kecamatan Ngrampal, Sragen (18
tahun), sebenarnya bukan orang baru di rumah itu. Ia sudah
bekerja sejak empat tahun lalu. Tapi tak banyak cerita tentang
pekerjaannya yang diketahui orang tuanya. Sebab Kasinem jarang
diperkenankan bertemu orang lain, termasuk ayah kandungnya.
"Selama ia bekerja di sana sudah empat kali saya datang ke sana
untuk bertemu Kasinem, tapi tidak dipertemukan," ujar
Kastodikromo, ayahnya. Selama itu pula Kasinem hanya diizinkan
empat kali pulang -- tanpa menginap. Pertemuan terakhir ayah dan
anak itu lebih dari setahun lalu. Kastodikromo kemudian hanya
mendengar anaknya ditemukan orang di pinggir jalan Slogohimo,
Wonogiri, Solo, dalam keadaan remuk dan tak bernyawa lagi.
Di persidangan, cerita kematian Kasinem pun terungkap dari mulut
para terdakwa. Tuan rumah yang agen pupuk di Kota Sragen itu,
Sucianto, dan istrinya Susana, dituduh menjadi otak pembunuhan.
Kasinem, menurut para tertuduh, memang mengalami siksaan hebat
sebelum meninggal. Hampir tiga hari terus-menerus di akhir
Agustus yang lalu ia, dengan cara diikat kakinya, direntangkan
antara dua tiang. Sasaran utama siksaan adalah kemaluan, dada,
dan kepala.
Dua rekan sekerja Kasinem, Sriati 17 dan Sumardi, 13 tahun
(bukan nama sebenarnya), mengaku dipaksa majikan mereka untuk
memasukkan dua buah jeruk ke kemaluan Kasinem. Jeruk itu, kata
mereka, didorong dengan kayu tumpul. Baik Sriati maupun Sumardi
mengaku tidak bisa berbuat lain: jika membantah, anak tuan rumah
Robby (12 tahun, juga nama samaran) menyulut kedua pembantu itu
dengan api. Di persidangan Sumardi memperlihatkan bekas sulutan
itu di kakinya.
Siksaan itu rupanya tak tertanggungkan oleh Kasinem. 30 Agustus,
sepulang belanja dari pasar, Sriati menemui rekannya itu sudah
tak bernyawa. Kejadian itu dilaporkan Sriati kepada Nyonya
Susilowatie, 60 tahun, -- ibu Ny. Susana yang juga tinggal di
rumah itu. Nenek Robby itu memerintahkan Sriati mencoba
mengeroki tubuh temannya. Tapi usaha itu tidak banyak menolong.
Kasinem tak bergerak lagi.
Siangnya, seorang-kuli di rumah itu, Gunadi, disuruh mengangkat
mayat Kasinem ke truk yang biasanya membawa pupuk. Pukul 12
siang truk itu dikemudikan Purwanto meninggalkan rumah bersama
para penumpang lain: Nyonya Susilowatie, Sriati dan seorang
pegawai lain bernama Surat. Sebuah jip yang ditumpangi Sucianto
dan istrinya, Susana, mengikuti truk itu dari belakang.
Dua kendaraan itu beriringan menuju Solo. Perjalanan diteruskan
ke Wonogiri, Jatisrono, dan berhenti di Slogohimo. Di situ mayat
Kasinem dibuang -- tengah malam. Sesampainya kembali di rumah,
Purwanto, sopir itu, diberi imbalan oleh Nyonya Susilowatie
sebanyak Rp 30 ribu. "Saya menolak uang itu, tapi dipaksa," kata
Purwanto. Uang itu katanya dimaksudkan majikannya agar ia
menutup mulut. Keterangan ini dibantah Nyonya Susilowatie.
Menurut nenek tua itu, ia memberi uang karena Purwanto berhajat
mengkhitankan adiknya.
Mayat Kasinem kemudian ditemukan penduduk Slogohimo. Menurut
visum Dokter Sri Winoto, di Puskesmas situ, Kasinem meninggal
akibat pendarahan di alat vitalnya. Keterangan itu diperkuat
oleh hasil bedah mayat dari Fakultas Kedokteran Universitas
'Sebelas Maret', Solo. Menurut keterangan mereka, Kasinem
menderita pukulan di dada, kepala, dan kelamin. Konon dua jeruk
nipis itu terdapat di kandungan mayat itu.
Begitulah, 22 September, Lurah Desa Karangwedi, Bambang
Wijautomo, mendengar kabar bahwa Kasinem -- anak seorang
penduduk desanya -- lari dari rumah majikannya di Sragen. Tapi
lurah itu curiga. Sebab ada kabar lain tentang ditemukannya
mayat seorang wanita di Slogohimo yang konon mirip dengan
tanda-tanda Kasinem: agak gemuk dengan tinggi 135 cm dan
berkulit sawo matang.
Lurah Bambang yang sadar kewajiban itu lantas datang ke rumah
Sucianto di Sragen, berpura-pura mau membeli pupuk. Di tempat
itu ia mendapat keterangan: Kasinem minggat tanpa kabar beberapa
hari sebelumnya. Ny. Susilowatie dan Ny. Susana malah meminta
Bambang menyampaikan kabar itu kepada ayah Kasinem,
Kastodikromo. Esoknya malah Ny. Susilowatie datang ke
Karangwedi, menemui ayah si korban. Di kelurahan, Kartodikromo
dibujuk untuk berdamai dengan imbalan sebidang sawah. Tawaran
ditolak. "Saya tidak ingin imbalan. Yang penting'anak saya
pulang," ujar sang ayah waktu itu.
Dan ternyata si anak tidak akan pernah pulang. Mayat yang
ditemukan di Slogohimo terbukti mayat Kasinem. Dan polisi tidak
sulit mencari pelakunya. Sebagian besar penghuni rumah di Jalan
Sukowati Sragen itu ditahan berikut kuli, sopir dan para
pegawai. Yang mendapat status tahanan rumah hanya Nyonya
Susilowatie dan seorang cucunya, Rini (9 tahun, juga nama
samaran). Gadis --kecil adik Robby itu dituduh ikut
memerintahkan pembantunya Sriati dan Sumardi menganiaya Kasinem.
Di persidangan, yang sampai sekarang masih berlanjut, belum
terungkap pasti apa motif pembunuhan yang dinilai Ketua Majelis
Hakim Soepartono sebagai pembunuhan kejam itu. Nyonya
Susilowatie malah menuduh, meninggalnya Kasinem akibat
persaingan cinta dengan Sriati untuk memperebutkan si sopir.
"Kasinem juga pernah minta pertanggungjawaban Purwanto karena
sudah hamil," tutur Nyonya Susilowatie.
Tapi tersangka lain menuduh, justru percintaan Robby dan Kasinem
yang merupakan motif pembunuhan itu. Sriati sendiri mengaku
sering memergoki Robby lagi berbuat sebagai layaknya suami-istri
dengan Kasinem. "Saya sendiri sudah lima kali digoda sinyo,"
kata Sriati yang memanggil sinyo pada anak majikannya itu.
Dugaan pengunjung sidang yang selalu ramai, orangtua Robby
khawatir Kasinem sudah hamil akibat ulah anaknya. Dugaan ini
belum berbukti. Hanya, dari hasil bedah mayat UNS tadi,
diketahui bahwa dalam kandungan korban tidak ada tanda
kehamilan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini