Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Pemeriksaan Bapeten sempat tersendat saat zat radioaktif diuji di laboratorium di Batan.
Bapeten menganggap Batan harus ikut bertanggung jawab.
Kepala Bapeten menyebut zat radioaktif itu biasa dipakai industri.
DARI saku celananya, Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Jazi Eko Istiyanto mengeluarkan sebuah alat sebesar kepalan orang dewasa. Ia hendak mempraktikkan pengukuran zat radioaktif di ruang kantornya di Jalan Gajah Mada Nomor 8, Jakarta Pusat. Dari alat tersebut, kemudian muncul angka 0,05, lalu naik hingga 0,14. “Ini kondisinya berarti normal,” ujar Jazi, Jumat, 20 Februari lalu. Menurut dia, Bapeten memiliki alat yang lebih canggih untuk memantau zat radioaktif. Salah satunya pendeteksi radiasi bernama Mona, yang dipasang di mobil khusus. Mobil ini yang menemukan sesium-137 (Cs-137) dengan kadar radiasi mencapai 200 mikrosievert di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Jazi menjelaskan kontroversi seputar temuan zat radioaktif itu.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo