Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Bantuan kemanusiaan untuk Gaza pada Selasa, 17 Oktober 2023, telah tiba di Rafah, satu-satunya penyeberangan dari Mesir ke Gaza yang tidak dikendalikan oleh Israel. Namun tidak bisa segera disalurkan karena tidak adanya kesepakatan yang jelas tentang kapan dan bagaimana bantuan tersebut akan dikirimkan selama sisi penyeberangan Palestina masih ditutup.
Pada Selasa pagi, sekitar 160 truk meninggalkan al-Arish di semenanjung Sinai Mesir, tempat banyak bantuan sedang menunggu kesepakatan soal pengiriman, kata seorang saksi kepada Reuters. Truk-truk yang menuju perbatasan berisi bantuan dari Mesir, sementara bantuan internasional tetap berada di gudang di al-Arish, kata Ahmed Salem dari Yayasan Hak Asasi Manusia Sinai.
Setelah sembilan jam bernegosiasi, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengatakan pada Selasa pagi bahwa ia telah sepakat dengan Israel untuk mengembangkan rencana menyalurkan bantuan ke Gaza, tetapi jangka waktu pengirimannya masih belum jelas.
Setidaknya 49 orang tewas dalam pengeboman Israel di Rafah, tempat masuk menuju Gaza, dan kota terdekat Khan Younis, kata kementerian dalam negeri Gaza.
Pekerja bantuan yang berkumpul di sisi Mesir menyaksikan asap hitam dari serangan lain yang terlihat membubung di sisi Gaza, di luar tembok perbatasan beton, menurut rekaman yang dibagikan kepada Reuters.
Mesir mengatakan penyeberangan Rafah, yang merupakan jalur vital sebelum pertempuran dan kini menjadi jalur utama pasokan yang sangat dibutuhkan ke daerah kantong Palestina yang dikepung Israel, belum ditutup secara resmi. Namun, penyeberangan tidak dapat dioperasikan karena serangan udara Israel di sisi Gaza.
Serangan udara tersebut membuat beberapa orang dengan kewarganegaraan ganda yang berkumpul dalam beberapa hari terakhir untuk menunggu pembukaan penyeberangan Rafah menjauh.
Salem dan sumber keamanan lainnya mengatakan Mesir telah memperbaiki jalan-jalan di persimpangan yang rusak akibat serangan Israel sebelumnya.
Israel memulai pengeboman intens dan pengepungan total terhadap Gaza menyusul serangan gencar yang dilakukan oleh Hamas pada Sabtu, 7 Oktober 2023.
Akibatnya, sebanyak 2,3 juta penduduk Gaza tidak mendapat aliran listrik, sehingga layanan kesehatan dan air berada di ambang kehancuran, dan bahan bakar untuk generator rumah sakit semakin menipis. Ratusan ribu orang di wilayah tersebut telah menjadi pengungsi.
Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka memerlukan akses mendesak ke Gaza untuk mengirimkan bantuan dan pasokan medis.
REUTERS
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini