Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Paris – Demonstran membakar mobil dan melempari mobil polisi dengan batu pada saat peringatan satu tahun demonstrasi anti-pemerintah rompi kuning.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Polisi membalas dengan menembakkan water cannon atau meriam air dan gas air mata pada demonstrasi yang berujung kerusuhan pada Sabtu, 16 November 2019.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Kementerian Dalam Negeri Prancis mengatakan ada sekitar 28 ribu orang berdemonstrasi di berbagai kota pada Sabtu kemarin termasuk sebanyak 4.7 ribu orang di ibu kota Paris.
“Jumlah demonstran ini menurun dari jumlah rekor sebanyak sekitar 282 ribu orang yang berdemonstrasi pada hari pertama,” begitu dilansir Reuters Sabtu, 16 November 2019.
Demonstrasi pertama menolak kenaikan harga di Paris, Prancis, terjadi pada 17 November 2019.
Polisi menangkap 124 orang untuk dimintai keterangan dan 78 orang lainnya ditahan.
“Tindakan kami akan tegas. Semua yang menyembunyikan wajahnya dan melempar batu akan dimintai keterangan,” kata Didier Lallement, komandan polisi di Paris seperti dilansir Aljazeera.
Sebagian demonstran mengenakan pakaian serba hitam dan menutup wajahnya. Mereka merusak kantor cabang HSBC, yang berlokasi di Place d’Italie. Mereka juga membakar sampah di tempah sampah, melempari petugas dengan batu dan botol. Sebagian lainnya membangun barikade di tengah jalan.
Sejumlah mobil dibakar demonstran dalam aksi ini. Bentrokan juga pecah antara polisi dan demonstran di dekat Porte de Champerret, yang terletak di Arc de Triomphe.
Ini terjadi saat demonstran mulai bergerak melintasi kota menuju area Gare d’Austerlitz.
Di lokasi lain, polisi juga mengintervensi saat beberapa ratus demonstran mencoba menduduki jalur tol di Paris.
Polisi juga melarang demonstran mendekati area turis seperti Menara Eiffel. Sekitar 20 stasiun subway ditutup pada Sabtu untuk menghindari terjadinya kerusuhan di sana.
Di kota lain, kelompok rompi kuning berdemonstrasi dengan damai seperti di Kota Marseille, yang melibatkan sekitar seribu orang demonstran.
Demonstrasi rompi kuning ini terjadi pada November 2018 terkait kenaikan harga bahan bakar minyak dan tingginya biaya hidup.
Demonstrasi ini disebut rompi kuning karena warga mengenakan rompi berwarna kuning menyala, yang biasa digunakan jika ada masalah lalu lintas.
Demonstrasi ini menjadi rusuh dan berubah menjadi gerakan melawan Presiden Emmanuel Macron dan kebijakan ekonominya, yang dianggap merugikan masyarakat kecil.
Belakangan ini, gerakan rompi kuning ini mulai kehilangan kekuatannya meskipun sebagian pemimpin gerakan ini meminta masyarakat agar turun ke jalan.